Rabu, 07 September 2011

Seri Memimpin Diri; Menjadi Cantik di MataNYA (1)

Bacalah dengan nama Tuhanmu,-------
"Begitu Anda berhenti belajar, Anda tak lagi memimpin" (Rick Warren)

Dear pembelajar,
“Cantik”. Saya sangat menyukai kata itu. Kata cantik ini paling sering menginspirasi saya setiap kali saya ingin menulis dan berbicara tentang perempuan. Seorang sahabat baik, laki-laki yang kemudian menjadi salah satu “guru kehidupan” saya, pernah menyampaikan “wanti-wanti” terkait soal kecantikan. Ketika itu saya belum tahu banyak siapa dia, meskipun kami adalah kawan sekelas dalam sebuah ruang pembelajaran di PPs Unair.

Suatu ketika, saya terkena giliran harus presentasi. Presentasi materi kuliah merupakan “menu harian” yang cukup membuat kelas menjadi sibuk setiap hari. Para dosen kami, gemar sekali “ngerjain” kami dengan tugas-tugas membaca literature asing yang tebal-tebal dan meminta kami berpura-pura “menjadi dosen” di kelas, menjelaskan apa isi chapter demi chapter yang kami baca, kepada seluruh isi kelas.

Saya, seperti biasanya, mengalir saja mempresentasikan apa yang saya pahami dari sebuah tugas yang diberikan oleh Soeherman Rosyidi, Profesor bidang Ilmu Ekonomi. Saya ingat betul topic waktu itu adalah Bussiness Life Cycle.

Saya dapat melihat jelas wajah-wajah yang antusias ingin memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada saya. Lumayan deg-degan meskipun itu adalah menu harian. Sebab, pastilah mereka akan berlomba memberikan pertanyaan-pertanyaan berbobot sebab itu mempengaruhi penilaian sang Profesor.

Syukurnya, saya agak ditenangkan oleh sebuah pemandangan. Dari tempat saya berdiri, saya melihat Sang Profesor menyimak presentasi saya. Tertangkap mata saya, beliau sedang mengangguk-angguk, di pojok belakang sana bersandar pada tembok ruang kelas, selama saya dalam proses presentasi. Ini sangat melegakan sekaligus menambah rasa PD saya. Juga sahabat lelaki yang tadi saya ceritakan. Dia pun “mengangguk” (meskipun sambil tersenyum tidak jelas maknanya).

Usai menyampaikan ‘presentasi’ dan sedikit diskusi, kelas selesai. Kawan lelaki itu menghampiri saya. “Dha..!, ikut saya!”, katanya. Saya bertanya, “kemana?”, dan dia jawab, “sudahlah…ayo ikut saya ke kantor saya…!” Saya pun ikut bersamanya, naik ke dalam mobilnya menuju ke kantornya.

Sampai di sana, baru saya tahu bahwa dia adalah seorang konsultan. Saya tidak paham mengapa tidak banyak pertimbangan baginya untuk menjadikan saya sebagai partner kerjanya. Padahal, saya baru saja dikenalnya. Ia memutuskan memberi saya sebuah pekerjaan yang menarik yang belum pernah saya bayangkan. Dia menawarkan sebuah pekerjaan terkait dengan tulis menulis. Berfikir, lalu kemudian menulis. Itulah pekerjaan yang ia tawarkan kepada saya.

Lebih jauh saya rasakan, ternyata itu bukan penawaran pekerjaan, tetapi “pemaksaan” atau “penodongan” sebab ia tak memberi saya waktu untuk berfikir apakah saya menerima atau menolak. Dia ajak saya masuk ke ruang kerja, mempersilahkan duduk pada sebuah meja kursi kosong, lalu dia putuskan sendiri bahwa saya menerima pekerjaan itu. Selanjutnya, dia  langsung saja nyerocos mendongeng “kisah project penanaman kedelai di sebuah Kabupaten dan project pemanfaatan limbah tebu untuk menghasilkan energi listrik”.

Saya mendengarkan dengan penuh konsentrasi. Setelah itu, dia cukup berkata, “Wis! Tulisen saiki!” (Sudah! Tulis sekarang!).

Saya yang belum mengenalnya dengan baik, tidak paham bagaimana cara dia menilai pekerjaan saya. Saya menjadi agak shock. Keterkejutan ini sempat menghambat aliran pemikiran saya. Dua hari kemudian, saya serahkan beberapa halaman tulisan saya soal project itu. Ia membaca sekilas dan tidak banyak berkomentar.

Ia hanya mengambil sebatang spidol biru, bergerak menuju papan putih dalam ruang kerja kami, lalu menggambarkan rangkaian kotak-kotak, yang didalamnya dituliskan anak-anak ide. Ia nampak berusaha merapihkan gagasan saya yang mungkin masih simpang siur dalam pandangannya.

Saya diam, memperhatikan sikap dan cara cerdasnya memindahkan gagasan saya ke dalam kotak-kotak yang diciptakannya sendiri, mengatur arah panahnya supaya jelas aliran dari mana -kemananya, sebab-akibatnya, aksi-reaksinya, perlakuan-konsekwensinya dan jelas pula detail “siapa melakukan apa”-nya. Belakangan saya jadi paham begitu caranya membuat kerangka tulisan.

Guru baru saya itu, telah mengajarkan bagaimana membuat sebuah tulisan yang “bagus” (versi dia). Dan itu sampai hari ini menjadi satu referensi utama bagi saya dalam setiap penulisan. Tetapi bukan itu yang ingin saya bagi di sini. Saya ingin kembali berbicara soal sebuah kata “cantik” dan itu ada hubungannya dengan dia. Sebab dia banyak mengajarkan saya filsafat kehidupan.

Diantara kata-katanya, ada sebuah kalimat yang sangat membekas dan saya anut sebagai rujukan utama dalam perjalanan hidup saya. Soal kecantikan perempuan. Pesannya dalam bahasa Suroboyoan, “kanggo opo ayu nek iku cuma gawe ayu-ayuan..?” (“…buat apa cantik kalau hanya untuk pamer kecantikan?”)

Bagi “guru” saya itu, cantik tidaklah cantik kalau kita sendiri tidak berminat memberinya value atau nilai. Sebab cantik tubuh-fisik itu, ia akan pudar dimakan waktu. Cantik hanya akan menjadi makin cantik, dan tak cantik pun bisa menjadi cantik jika kita mau menambahkan sebuah “nilai” ke dalamnya.

Terinspirasi kata-katanya, maka hari ini saya dapat menuliskan sesuatu yang indah menurut saya dan mudah-mudahan bagi pembaca. Perempuan yang bersedia belajar terus menerus, mengisi dirinya dengan ilmu, merendahkan dirinya di bawah luas dan tingginya keilmuan, kecantikannya akan terbentuk dengan sendirinya dari waktu ke waktu. 

Ketika ilmu dan pengetahuan diterima sebagai sebuah cahaya, maka cahaya itupun akan bergerak bersama dirinya. Cahaya keilmuan, mengikuti setiap gerakan perempuan-perempuan “cantik” yang selalu jatuh cinta pada aktivitas berbagi keilmuan yang ia tahu, tanpa syarat. Ya! Tanpa syarat.

Salam bahagia.

15 komentar:

  1. Cantik sekali ibu tulisannya..

    BalasHapus
  2. @ Ica, makasih udah baca...

    salam bahagia

    BalasHapus
  3. Jadi kecantikan seorang wanita terletak pada ilmu yang dia miliki
    Sedangkan pancaran cahaya kecantikannya adalah cara wanita tsb mengaplikasikan ilmunya untuk kehidupan
    Is that correct Mrs Aridha..?

    BalasHapus
  4. mbak Indah,
    coba perhatikan "judul" tulisan,

    tulisan ini berseri...,
    itu hanya salah satu seri saja,
    masih akan ada seri-seri berikutnya, don't worry!

    salam bahagia dan terus belajar! Mohon maaf lahir bathin ya!

    BalasHapus
  5. cantik,

    memang sesuatu yang sering melekat, menjadi identitas bagi setiap yang indah.

    mempercantik diri dengan polesan kuas ilmu, dan pewarnaan hidup dengan pengetahuan niscaya akan dirasakannya hidup menjadi benar - benar hidup, karna cantik dengan ilmu dan pengetahuan itu, bernilai.

    semangat!!
    nukeu

    BalasHapus
  6. Nukeu,
    dan ilmu & pengetahuan itu, sangat luas meliputi "langit dan bumi"

    salam bahagia dan terus belajar...

    BalasHapus
  7. Saya suka Perempuan yang Cantik luar-dalam,

    BalasHapus
  8. baca tulisan ini jadi teringat dengan novel angel & demons, antar ilmu pengetahuan dan agama.

    cantik tetaplah cantik, tetapi lebih bernilai jika memiliki ilmu pengetahuan dan agama :)

    BalasHapus
  9. @ Anonim,
    Cantik luar dalam ya...?
    Justru ini yang sedang digali maknanya,
    apakah cantik itu, apakah cantik luar itu dan apakah cantik dalam itu...
    salam bahagia n makasih sudah hadir

    BalasHapus
  10. @fifin,
    cantik tetaplah cantik, tetapi lebih bernilai jika memiliki ilmu pengetahuan dan agama :)

    MEMILIKI pengetahuan dan agama tidak menjamin seseorang menjadi cantik di MAtaNYA.Moga dapat dipahami kalimat saya.
    Makasih banyak dah berkunjung yaaa

    salam bahagia

    BalasHapus
  11. terimakasih tulisannya.
    jadi teringat film" perempuan berkalung sorban"

    BalasHapus
  12. @ Ajeng ?

    Waaaaaaaahh begitu ya?
    Saya malah belum berkesempatan nonton film nya
    anyway, thanks sudah hadir di sini

    salam bahagia

    BalasHapus
  13. Sepakat bahwa belajar itu akan mendatangkan cahaya. Semakin banyak yang dipelajari, semakin cemerlang aura kecantikan orang tersebut. Pengalaman menarik, Bu.

    BalasHapus
  14. aku juga mau cantik kyak itu he he
    thank ms.aridha

    BalasHapus
  15. @febri,

    Terima kasih dah berkunjung dan membaca..

    @ ayu,

    mau cantik kaya gitu? boleh...

    salam bahagia dan terus berkarya

    BalasHapus