Senin, 19 September 2011

Seri Memimpin Diri; Mengelola KESEPIAN

Bacalah dengan nama Tuhanmu,_______

"Sikap anda adalah mata jiwa anda. Kalau sikap anda negativ, anda akan memandang segalanya negativ, kalau positif, anda akan memandang segalanya positif" (John C Maxwell)

Dear pembelajar,

Adalah Ma Sang Ji, seorang (atau seekor?) perawan siluman yang dipuji sekaligus dibenci. Saya baru mengenalnya ketika ia hadir memberikan komen pada tulisan saya soal “Menikmati Pekerjaan”. Setelah itu ia tak lagi pernah hadir dalam lapak saya, namun tiba-tiba saja saya dikejutkan oleh sebuah artikelnya yang cukup heboh soal “Siluman Cantik Mencari jodoh” dengan se “abrek” syarat dan prasyarat yang tidak menarik bagi saya.

Saya tinggalkan komen di sana, “Sang Ji…. Saya doakan saja semoga sukses..!”

Lalu dia balas komen saya, “Kenapa mbak ? Tidak tertarik dengan saya? Apa saya kurang cantik?”

Saya pun membalas, “Justru karena kamu terlalu cantik…”.

Maksud saya dengan kata-kata “terlalu cantik” adalah “terlalu banyak syarat dan prasyarat yang saya tidak mungkin bisa penuhi”.

Setelah kejadian itu, satu-satunya siluman kompasiana ini terus saja melompat-lompat dengan gerakan-gerakan gesit. Gagasan-gagasan gilanya sempat mengguncang kompasiana. Terakhir dia angkat saya sebagai professor-feminin katanya.

Saya bilang padanya bahwa bila tingkahnya ini terjadi di dunia nyata, bisa-bisa saya sudah “digantung”, sebab professor itu adalah gelar kehormatan dan penghormatan tertinggi di dunia nyata akademis. Untungnya ini adalah dunia maya, yang bisa mengangkat dan menjerembabkan, mengangkat, lalu menjerembabkan kembali siapapun dalam waktu sekejap.

Tidak ada yang tidak mungkin. Berkelahi dan berdamai, lalu berkelahi lagi dan berdamai lagi, sudah menjadi sesuatu yang tidak asing di sini. Hampir tiap hari menu itu ada di kompasiana ini. Semua dapat merasakan itu terjadi di sana.

“Menjadi Perawan di Sarang Perjaka”, dari sana kemudian saya mempelajari diri seorang Ma Sang Ji. Dari sana saya tahu bahwa A Sia Na adalah gagasan yang terlahir dari sebuah situasi KESEPIAN yang dirasakan. Dan itu berhasil mengganggu kenyamanan para penghuni di rumah tulis itu.

Judul 35 Penulis Cerdas, Sebelas Pembaca Cerdas, menghasilkan karya-karya baru yang senada, menghidupkan kompasiana dengan berbagai hiruk pikuknya. Mendukung atau menghujat, menyambut atau mensinisi, memuji atau membenci, mencintai atau mencampakkan. Apalagi ketika karya ” 7 Bidadari…”, itu muncul.


Seorang Ma Sang Ji tidak begitu mengagumkan bagi saya. Yang mengagumkan adalah bagaimana kemudian ia mampu mengelola kesepiannya menjadi karya-karya. Dan bukan berhenti di sana, karya-karya itu dalam waktu yang tidak terlalu lama, mampu beranak pinak melahirkan karya-karya baru, bukan hanya bagi orang yang memuji, tetapi juga bagi mereka yang membenci. Terlepas diakui atau tidak diakui.

Dan inilah hebatnya Kegiatan Tulis Menulis! Suka cita, duka derita, bahagia, sedih, damai, benci, cinta dan kemuakan semua pun melahirkan “karya baru”.

Soal “ Menjadi Perawan (kesepian) di Sarang Perjaka”, saya hanya merespon demikian:

“ Sang Ji, mengapa harus mengeluh KESEPIAN menjadi perawan di sarang perjaka? Bukankah dengan demikian “keperawanan” itu akan menjadi lebih “nyata”?

Menjadi yang sedikit diantara yang banyak, minoritas di tengah mayoritas, cahaya di tengah kegelapan…, menonjol/berbeda diantara yang biasa/seragam, kesepian di tengah keramaian/hiruk pikuk, bagi saya, saya tetap saja menikmati keindahannya….


Seorang guru menyarankan kepada saya untuk belajar “beyond the mind”,. Beliau berpesan, bahwa sesuatu itu dianggap masalah/bukan masalah, sangat tergantung kepada seberapa terpenjara seseorang oleh logika dan pemikiran.


Maka sebagai perempuan yang “feminin”, saya bahagia jika rasa sepi itu mengilhami Sang Ji /siapapun juga, untuk senantiasa melakukan lompatan-lompatan (energi) ajaib yang mengilhami banyak orang dan melahirkan lebih banyak lagi karya-karya baru. Saya mengistilahkan lompatan-lompatan energi ajaib ini sebagai “the quantum of miracle”.


Kesepian/keramaian/kedamaian dan bahkan kemarahan pun melahirkan tulisan-tulisan baru, judul-judul baru yang menggairahkan dan saling merangsang munculnya gagasan-gagasan dan bahkan “gerakan-gerakan” baru.

Hampir setiap hari, saya melihat energi itu bergerak dan melompat-lompat dengan tanpa beban. Dan itu indah kan?”


Salam bahagia

Untuk melihat respon pembaca silahkan klik di sini

1 komentar:

  1. Mbak Ridha, terima kasih atas apresiasinya.
    Saya tak bisa berkomentar banyak.
    Malu....

    BalasHapus