Minggu, 28 Agustus 2011

Seri Memimpin Diri; "Perempuan Jangan Hanya Belajar Sebagai Ibu"

Bacalah dengan nama Tuhanmu,_____
"Saya rekomendasikan anda untuk mengurus menit-menitnya, karena jam-jamnya akan mengurus dirinya sendiri.." (Lord Chesterfield)

Dear pembelajar,
Ini adalah tahun kedua kegelisahan saya menjelang lebaran, disaat semua orang justru merindukan kehadirannya. Makin dekat lebaran, makin berdebar-debar jantung saya, nyaris berharap ia (Sang Lebaran) tak perlu datang untuk saya. Sebab lebaran hanya merangsang deras air mata saya. Tetapi kemudian saya berfikir bahwa pengharapan ketidakhadiran lebaran adalah sebuah pengharapan yang tidak baik.
Saya pun akhirnya memutuskan untuk berani menghadapinya dan membiarkan dia hadir apa adanya membahagiakan semua yang merindukannya.


Bukan apa-apa. Saya hanya belum dapat melupakan sebuah kenangan yang sangat indah dan penuh makna, sementara seluruh orang dalam rangka berlomba-lomba mendamba percikan sinar damai Lailatul Qodar. Saya mengingat kepergian bunda yang saya kasihi. Saya ingat betul kejadiannya ketika semalaman saya memeluk seonggok tubuh yang sedang “sakhratul maut”.

Semalaman saya berbaring dalam ranjang yang sama, menemaninya berjuang melepas nyawa, membisikkan do’a-do’a di telinganya, menghapus air matanya yang deras mengalir sementara matanya terpejam mendengarkan lantunan do’a-do’a dari segala penjuru, menguatkannya dalam menunggu “saat untuk dirinya”, meneteskan air do’a untuk membasahi kerongkongannya yang sedang melepas “nafas”, mewudhukan dan menjaga kesuciannya, memandikan dengan handuk hangat kegemarannya, menggunting bajunya dan menggantinya dengan yang baru, mengenakan kerudungnya dan menyaksikan kecantikannya untuk terakhir kalinya……”

Saya mempelajari semalaman apa yang hendak Tuhan ajarkan pada saya kali itu melalui seorang ibu guru yang cantik dan sangat indah hatinya….. Saya seperti sedang mengikuti kursus kilat yang harus saya selesaikan semalaman.

Guru saya yang cantik itu mengajarkan kebesaran HIKMAH. Meskipun secara fisik ia sedang “tidak berdaya”, Tuhan masih “mempercayainya” dan memberinya kesempatan terakhir untuk “mengajari” saya.

Bahwa perempuan jangan hanya belajar menjadi ibu, tetapi perempuan juga harus belajar “Bagaimana seharusnya menjadi seorang ANAK yang penuh bhakti….”. Semoga Allah membahagiakan dan menempatkan beliau di tempat yang paling dekat di sisiNya. Amin.


Salam,

3 komentar:

  1. aamiin,aamiin ya Rabbalalamiin...
    i love u...

    BalasHapus
  2. @ Nukeu,

    thanks for visiting, love you too,

    BalasHapus
  3. jadi teringat ibu indah...mulai skrng indah akan menjadi lebih baik lagi ahg amien..

    BalasHapus