Minggu, 14 Agustus 2011

Seri Memimpin Diri; "Mengalami Nasib Malang"

Bacalah dengan nama Tuhanmu,_______
"Visi adalah seni melihat hal-hal yang tidak kelihatan" (Jonathan Swift)

Dear pembelajar,
Ketika kemalangan menimpa orang baik. Itu kira-kira terjemahan dari judul di atas. Ada sebuah moment dimana kita berbicara secara rahasia, hanya berdua saja dengan Allah, lalu kita menanyakan”Ya Allah apa salah saya sehingga Engkau menghukum (mencobai) ku seperti ini? Hamba sungguh tidak mengerti, apakah ini hukuman atau ujian ataukah cobaan, bagiku..”


Saat ini, saya sedang memikirkan apa yang kawan istilahkan sebagai KARMA, apa yang kawan lain sebut sebagai (hukum) TABUR_TUAI, dan apa yang ada dalam kitab saya…

“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (QS. An-Nisa: 79).

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Ruum: 41)

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. As-Syura: 30).

Beberapa kawan mungkin berpendapat bahwa itu semua sama, bahwa PETIKAN 3 AYAT QS tersebut, TABUR TUAI, dan KARMA itu SAMA saja, beberapa yang lain mungkin bilang itu tak sama sebab Islam tak kenal karma, TETAPI itu bukan hal penting untuk diperdebatkan. 

Fokus catatan saya hanyalah pada moment ketika kita merasa sudah melakukan yang terbaik, sudah mencoba menjadi baik, namun hadiah dariNya adalah justru selaksa beban dan problem, sebuah PR yang amat sulit, sebuah dilema, sebuah bencana yang menyebabkan perasaan menderita dan berduka cita.

Seorang “guru” bernama Kushner, dalam bukunya When Bad Things Happen to Good People, mendongeng tentang kisah Ayyub. Kisah Ayyub menarik dan melegenda dalam setiap kitab setiap agama, karena tingginya tingkat kesalehannya, demikian katanya. Dan inilah yang sempat diceritakannya kepada saya:

Ayyub, bukanlah manusia biasa. Ia adalah manusia yang sangat luar biasa. Utamanya, dalam hal ketaatannya kepada Tuhan. Ia adalah orang suci yang memiliki tingkat kesalehan tinggi. Ayyub adalah contoh seorang manusia yang baik, tetapi sangat menderita.

Dikisahkan.  
Suatu hari pada jamannya, iblis datang kepada Tuhan dan berbicara tentang dunia yang dipenuhi dengan orang-orang berdosa dan kekacauan. Tuhan bertanya kepada iblis, “hai iblis! apakah engkau memperhatikan hambaKU, yang bernama Ayyub? Tidakkah kau lihat bahwa tidak ada seorangpun di bumi ini seperti Ayub? Ia demikian saleh dan jujur. Takut akan Allah, taat dan senantiasa menjauhi kejahatan.”

Iblis menjawab, “Tentu saja Ayub saleh dan patuh. Memang Engkau yang membuatnya demikian berharga. Engkau membuat dia berkelimpahan. Engkau memberkati dia. Coba saja Engkau ambil segala yang sudah Engkau berikan padanya. Kita lihat, apa yang akan terjadi? Kita akan melihat sampai kapan ia mampu bertahan sebagai hambaMU yang taat dan saleh.”

Tuhan menerima tantangan iblis. Tanpa memberitahukan apapun kepada Ayyub, Tuhan menghancurkan rumah, ternak dan mengambil anak-anak Ayub. Tuhan juga menimpakan penyakit borok di sekujur tubuh Ayyub, sehingga setiap bergerak, Ayyub merasakan kesakitan dan siksaan yang amat hebat. Dan ini terjadi dalam kurun waktu yang sangat lama.

Istri Ayyub, memaksa Ayyub untuk mengutuk Tuhan, meskipun dengan melakukan itu nyawanya akan dicabut. Tak ada derita paling buruk yang ditimpakan Tuhan kepada hambaNya selain dari yang ditimpakan kepada Ayyub. Tiga orang temannya datang dan mendorongnya untuk melepas kesalehannya. Mereka berusaha meyakinkan Ayyub bahwa Tuhan telah keliru memberi hadiah. Mengapa justru penderitaan yang diberikan sebagai hadiah atas kesalehan sahabatnya itu.namun Ayyub tetap setia kepada Allah. Tidak ada satu hal atau peristiwa pun yang membuat ia kehilangan kepercayaannya kepada Tuhan Allah.

Pada akhir cerita, Tuhan datang kepada Ayyub, mengutuki teman-temannya atas nasihat-nasihat mereka dan memberikan kelimpahan kepada Ayub, sebagai hadiah atas kesetiaannya. Tuhan menghadiahkan rumah baru dan putera-puteri yang baru, kepada Ayyub.

Rasanya ada sebuah pesan moral disini. 
Ketika masa sulit menimpa, jauhkan niat untuk menghapuskan kepercayaan anda kepada Tuhan. Dia mempunyai alasan untuk segala sesuatu yang dilakukanNYA. Jika kita mau sedikit bersabar, Dia akan memberikan kompensasi atas segala kerugian yang anda alami.

Sekarang, dapatkah kita pahami mengapa kita harus mengalami penderitaan/ujian/cobaan/masalah (atau apapunlah istilahnya)? Semoga…

Salam bahagia

1 komentar:

  1. seorang guru pernah berkata islam itu slalat dan sabar..

    terimakasih,
    nukeu

    BalasHapus