Sabtu, 20 Agustus 2011

Seri Memimpin Diri; "...Hikmah..."

Bacalah dengan nama Tuhanmu,____
"Pemenang berkonsentrasi pada kemenangan, pecundang berkonsentrasi hanya asal selamat".  (John C Maxwell)

Dear pembelajar,______
Seorang kawan lelaki menelpon dari seberang sana. Ia mengisahkan keadaannya yang sedang terpuruk. Saya tak paham apa yang dimaksud dengan terpuruk, tetapi saya bisa merasakan bahwa dia memang sedang dalam “kesusahan dan kekhawatiran” yang amat sangat. Tidak mau melibatkan saya ikut memikirkan keadaannya, ceritanya hanya berhenti sampai di sana. “Personally”, katanya. Dan, saya sangat menghargai wilayah personalitas. So, saya hanya bisa meyakinkan bahwa, saya selalu mendoakannya.

Pagi menjelang subuh, seorang kawan, yang juga lelaki, meng_up date status face book_nya. “Kawan sejati dapat dikenali pada saat kita sedang dalam ketidakpastian”. Saya tahu ia sedang tidak dalam keadaan “iseng”. Hampir pasti, ia sedang menuliskan keadaan dirinya. Mungkin seseorang sedang ada untuk dia ketika dia dalam keadaan penuh dengan ketidakpastian, sementara yang lain justru pergi meninggalkannya. Dan yang 'setia' itulah yang menurutnya cocok disebut sebagai “kawan sejati”.

Sebelum dua kabar itu, seorang kawan lain , perempuan, mengirim pesan singkat menjelang tahajud. “Aku sakit, aku khawatir dengan sakitku, tolong sertakan aku dalam do’amu, agar aku diampuni dan sakitku ini adalah penyembuh dan penghilang dosaku”.

Tuhan, aku bersyukur dapat menjadi salah satu pendengar bagi mereka. Aku bersyukur, jika kesediaanku mendengar, merupakan alternatif obat bagi mereka. Setidaknya aku tahu, bahwa tidak hanya wanita yang dicobai/diuji (atau apapun lah istilahnya), tetapi para lelaki juga.

Kepada semua sahabat yang sedang diuji, yang sedang merasa terpuruk dan menderita. Muslim percaya bahwa setiap bencana yang terjadi, sudah tertulis dalam Lauh Mahfuz, dan oleh karenanya dilarang berduka cita yang berlebihan. Kristen percaya, bahwa Tuhan sedang menggenapi rencanaNya, artinya kita sedang dalam rangka dijadikanNya sempurna, jadi, jalani saja dengan penuh suka cita. Katholik percaya bahwa itu adalah “bahasa cinta”, sebab Cinta itu “sanggup menderita dan (sekaligus) sanggup membahgiakan”.

Saya punya pertanyaan,
Jika kita mau memberikan hadiah yang sangat indah, kepada seseorang yang sangat kita sayangi, sedang kita melihat ia masih memegang sesuatu di tangannya, apa yang akan kita lakukan? Apakah kita akan menaruh hadiah itu di kepalanya? Di lantai? Di meja? Tidak, bukan? 

Kita akan menunggu sampai ia meletakkan sesuatu itu terlebih dahulu. Kita akan menunggu sampai kedua belah tangannya kosong, tidak memegang apa-apa, sehingga betul-betul siap dengan penuh kesantunan, untuk menerima hadiah indah yang sudah kita siapkan untuknya, bukan?”

Nah, jika kita percaya kasih sayang Tuhan, maka, letakkanlah apa yang harus diletakkan dan siaplah untuk menerima hadiah baru dari Tuhan. Tuhan pasti punya hadiah baru untuk kita. Meletakkan sesuatu yang ada di tangan kita adalah “keikhlasan” dan menerima sesuatu yang baru adalah “hikmah” dari kehilangan sesuatu yang harus hilang. 

Dan yang hilang sekarang, mungkin saja harta, benda, kekayaan, suami, istri, kesehatan dan bahkan mungkin juga kehidupan itu sendiri.

Salam bahagia.

1 komentar:

  1. dan percayalah, dibalik segala sesuatu itu terdapat,

    H I K M A H

    terimakasih,
    nukeu

    BalasHapus