Sabtu, 09 Juli 2011

Woman is Art

Bacalah dengan nama Tuhanmu,_____
"Apakah anda merasa jauh dari Tuhan?Coba terka siapa yang menjauhkan diri." (John C. Maxwell)
Dear pembelajar,
Malam belum terlalu larut ketika saya sedang memikirkan kalimat pembuka untuk bab yang sedang saya tulis. Saya pernah membaca sebuah statement pendek dalam sebuah buku feminitas. Statement itu berbunyi Woman is art. Entah mengapa saya tergerak untuk menjadikannya sebagai judul utama dalam buku saya yang satu ini. Seolah saya ingin mengatakan kepada dunia bahwa perempuan memang adalah seni. Woman is art, woman is art, woman is art. Saya sangat menyukai statement itu, sebab menurut saya perempuan memang seni.

Secara rasa, saya dapat merasakan, dan tidak dapat menyangkal bahwa perempuan adalah seni. Tetapi yang menjadi persoalan, bagaimana cara saya meyakinkan pembaca bahwa perempuan itu memang adalah seni?

Saya diam berfikir berharap ada yang dapat membantu saya menemukan kalimat pembuka yang bagus untuk memulai paragraph pertama. Sementara saya merenung, ada secercah ilham. Jari-jari tangan saya tergerak untuk mencari arti kata seni ke dalam wilayah google. Google adalah sumber referensi yang banyak disarankan oleh para sahabat. Saya ketik kata “art” disana, namun saya tidak menemukan sesuatu yang menggairahkan tentang definisi “art”. Menurut saya, definisi di sana, rigid (kaku), kurang menyenangkan dan tidak mudah dipahami. Ada banyak arti yang justru membingungkan saya.

Dalam upaya menemukan definisi yang menyenangkan, tiba-tiba saja, sepintas saya melihat sahabat baik saya, Nic, terlihat on line, di YM . Dia sahabat yang sangat inspiratif. Saya putuskan buru-buru menyapa, mumpung dia belum menghilang dari layar monitor saya.

“Hi!!! I am on line!”.

“Yes, I know that”, katanya.

“I’m just searching for the definition of the word ‘art’!”, sambung saya memberitahukan apa yang sedang saya lakukan.

“Good, then! Hopefully you could find that!”

Sebetulnya saya agak kecewa dengan jawabannya. Dia hanya mengatakan ‘mudah-mudahan’ kamu bisa menemukan arti kata itu, padahal saya berharap dia mau membantu saya.

Saya tidak peduli dengan jawabannya dan terus saja berbicara dengannya.

I am thinking deeply of my writing. The title of the chapter will be “Woman is Art” but I could not find any proper statements to start writing. What do you think of Woman is art? Do you agree that woman is art?

“Yes! But you should note that woman is God’s creation…”, katanya.

“God ! Thanks, I’ve got the idea now! I’ve got what I seek. Thank you Nic! That’s what friends are for!” 

Saya, agak mundur dari perbincangan, membiarkan dia melanjutkan aktivitasnya.

God’s creation! Itu kata kunci yang sangat menarik! Saya tidak memperdulikan catatan lain yang ditambahkan oleh Nic, bahwa ada orang-orang yang berpendapat , selain madu, perempuan juga bisa jadi racun. Bagi saya, itu tidak penting untuk didiskusikan (minimal hari ini). Saya menilai itu hanya kerjaan laki-laki yang pernah putus asa saja dengan perempuan. Ha..ha..

“God’s creation” adalah kata kunci menarik untuk menjelaskan bahwa perempuan adah seni. Sebelum pembicaraan saya dengan sahabat baik saya itu, saya telah berhasil menemukan arti kata seni adalah :

  • "Art is created when an artist creates a beautiful object, or produces a stimulating experience that is considered by his audience to have artistic merit.
  • Ungkapan perasaan seseorang yang dituangkan kedalam kreasi dalam bentuk gerak, rupa, nada, syair, yang mengandung unsur-unsur keindahan, dan dapat mempengaruhi perasaan orang lain.
Saya lebih tertarik kepada definisi pertama. Bahwa seni itu, baru dikatakan seni ketika penciptanya (berhasil) menciptakan obyek yang cantik atau menghasilkan pengalaman menarik bagi penikmatnya.

Jika definisi kedua mengasumsikan bahwa seni adalah kreasi manusia, maka tidak demikian pada definisi pertama. Pada definisi pertama, dia tidak membatasi bahwa the artist (pencipta/senimannya) adalah manusia. Nah, sekarang, mari kita bicara tentang perempuan. Apa gambaran anda tentang diri anda dan perempuan pada umumnya?

Cantik dan indah. Dua ciri ini, kecantikan dan keindahan (estetis), terus menerus berhubungan dan dikaitkan setiap kali orang berbicara tentang makhluk Tuhan yang namanya perempuan. Siapa yang mau menyangkal bahwa perempuan adalah seni maha indah dari pencipta segala karya? Pernahkah anda mendengar orang berkata, “Aduh cantiknya laki-laki itu! Atau “Aduh..indahnya si Mamat!”? Tidak pernah, bukan?

Dalam gambaran kehidupan sehari-hari yang dapat kita lihat, bahkan definisi cantik dan indah itu saja tak cukup. Sebab perempuan mempunyai ciri yang lebih dari sekedar cantik dan indah. Lebih dari sekedar seni, sebab artis nya adalah Maha Artis, Maha Pencipta, Tuhan sendiri, langsung, tidak melibatkan tangan manusia.

Selain indah dan cantik, perempuan itu sangat lentur. Perhatikan cerita saya ini!

Sebentar orang mengatakan bahwa perempuan itu lemah, tapi sebentar kemudian mereka bilang perempuan itu kuat.  

Ketika melihat perempuan mengeluarkan air mata dalam situasi dimana laki-laki tidak demikian, maka perempuan dikatakan sebagai lemah. Namun, sebaliknya ketika kita mengingat perempuan yang bersedia mengandung selama sembilan bulan sepuluh hari, membawa bayi yang makin berat dalam rahimnya, kemanapun ia pergi, lalu kemudian melahirkan dengan selamat, dalam perjuangan mengeluarkan keringat dan darah sekaligus, kemudian dalam beberapa waktu yang tidak lama, dia sehat kembali, seperti tidak pernah terjadi kesakitan dalam hidupnya, maka orang, baru akan mengatakan bahwa perempuan itu (ternyata) “begitu kuat”. Jadi bagaimana? Perempuan itu memang lemah, namun sekaligus juga kuat. Apa ini bukan sebuah karya seni yang maha indah? Sesekali ia lemah lembut dan manja, namun pada suatu ketika dia keras dan mampu “melawan”. Apa ini juga bukan bukti dari sebuah karya seni yang maha indah?

thank you !!!! so much, friend !!! Saya sudah mendapatkan kalimat-kalimat pembuka yang indah untuk chapter Woman is art.***
(***will be there on my next book: Jangan Jadi Perempuan Rapuh)
salam bahagia 
 

4 komentar:

  1. was, kalo bukunya dah terbit kasih tahu ya mbak... mau baca... hehehehehe...

    BalasHapus
  2. @ Ica, thank you.
    @ bung Hendi, beres nanti diinfokan ke Palembang pas launching he..he..thanks anyway!

    BalasHapus
  3. saat ia mampu terjaga malam - malam demi buah hatinya, dengan ikhlas memenuhi segala keinginan lewat jeritan kita dikala kecil.

    sungguh "perempuan" itu pun yang menjadi pendidik paling pertama dan utama untuk kita

    dan juga seorang "perempuan"lah yang berhasil membuat *habis gelap terbitlah terang*

    BalasHapus