Selasa, 12 Juli 2011

Seri Memimpin Diri; Tujuan Hidup Level Rendah

Bacalah dengan nama Tuhanmu,____
"Seringkali perubahan diri sendiri lebih dibutuhkan dari pada perubahan pemandangan" (Benson)

Dear pembelajar,________
Kemarin saya berbincang dengan seorang sahabat, melalui YM. Sahabat saya yang ini, setiap saya tanya kabar, nyaris tidak pernah bilang bahagia, selalu ada masalah. Makin ke sini masalah makin besar. Nasehat-nasehat yang menyarankan agar selalu “terhubung” dengan Tuhan, selalu direspon,“teori tentang Tuhan dan firman itu baik, namun tidak mudah dipraktekkan dalam kehidupan senyatanya”.
Ia tanya perkembangan saya. Saya katakan bahwa saya tak lagi punya rencana karir, kalau bicara soal kampus. Saya sudah menarik diri dari segala posisi di sana dan lebih memilih memulai sesuatu karir pribadi, yang dulu pernah menjadi rencana.Dia berkata, “masalahnya, apa yang kamu kerjakan saat ini, menghasilkan uang atau tidak? Itu yang terpenting!!!”
Saya jawab: “kenapa yang ada di kepala kamu selalu uang?

Ia balas: “Hey! Dengar cerita saya ya!!!”

Nampaknya dia marah. Lalu bercerita tentang keadaan dirinya. Tentang sebab-sebab kenapa dalam hidup dia yang dipikirkan hanya “uang dan angka-angka”.

Dikisahkan kepada saya bahwa hidupnya tidak pernah bahagia, miskin, bahkan termiskin sejak lahir. Menderita, tidak pernah bahagia. Orang tuanya bekerja di ladang perkebunan, tak mampu menyekolahkan dia dan adik-adiknya sehingga ia harus disekolahkan oleh pamannya.

Lepas SMA, pamannya bangkrut. Bosan miskin, dia merantau jadi tukang becak sambil kuliah di PTS paling murah. Cita-citanya hanya satu. Kaya, tidak kekurangan uang, menumpuk kekayaan agar anak-anak dan istrinya tidak menderita semenderita dia. Dia harus mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya agar, anak-anaknya dapat bersekolah di sekolah dengan kualitas yang terbaik (the best), agar besok-besoknya, tidak hidup sengsara.

AKU harus mencari uang sebanyak-banyaknya agar anak-anakKU, isteriKU, keluargaKU, dapat AKU cukupi kebutuhannya dan tidak menjadi miskin”, katanya.

Kerja kerasKU menjadikanku sekarang ini, mendapakan posisi bagus, tidak kepanasan seperti dulu waktu kecil harus kerja di ladang, sekarang kantorKU ber AC, AKU bisa membeli lahan untuk kuwariskan, bisa terbang kemana-mana, aku bisa menyetir mobil, semua yang dulu tak pernah aku bayangkan dapat aku nikmati”, tambahnya.

Saya belum perlu untuk menjawab pesannya di YM itu. Hari ini dia masih dalam kekalutan dan rugi ratusan juta, sebab lahan yang dibeli ternyata, dalam sengketa.

Saya merasa kasihan. Bukan karena dia pernah termiskin dan termenderita, tetapi lebih karena dia merusak kwalitas dirinya sendiri.

Perhatikan ini!

AKU harus mencari uang sebanyak-banyaknya agar anak-anakKU, isteriKU, keluargaKU, dapat AKU cukupi kebutuhannya dan tidak menjadi miskin”

“Kerja kerasKU menjadikanku sekarang ini, mendapakan posisi bagus, tidak kepanasan seperti dulu waktu kecil harus kerja di ladang, sekarang kantorKU ber AC, AKU bisa membeli lahan untuk kuwariskan, bisa terbang kemana-mana, aku bisa menyetir mobil, semua yang dulu tak pernah aku bayangkan dapat aku nikmati”

Perhatikan semua KU, yang saya tulis dengan huruf besar. Saya yang membesarkan huruf itu dengan sengaja.

Secara tidak sadar, sahabat saya itu meng_klaim bahwa semua yang dihasilkannya adalah hasil kerja kerasnya. Saya sama sekali tidak menemukan Tuhan dalam kalimat-kalimat itu.

Saya sungguh kasihan, sedih dan prihatin, karena ia punya tujuan hidup yang sangat rendah. Apakah tujuan hidup yang berlevel rendah itu?

Yaitu tujuan hidup yang ditetapkan untuk meninggikan AKU, dibanding lainnya. Aku, anakku, istriku, keluargaku, harus hidup lebih baik dan kalau bisa terbaik dan terkaya. Meninggikan aku bermakna merendahkan yang lain.

Untuk mewujudkan cita-cita “Aku, anakku, istriku, keluargaku, harus hidup lebih baik dan kalau bisa terbaik dan terkaya”, berarti harus ada orang-orang yang lebih rendah, lebih miskin dan lebih sengsara dari anda. Hati-hati!

Itulah tujuan hidup yang punya level “PALING RENDAH”.

Lalu apakah tujuan hidup yang mulia, jika demikian?

Buat hidup lebih bermakna bagi orang lain lalu cita-citakan agar orang-orang di sekitar kita juga terangkat kehidupannya dan ikut makmur bersama-sama kita ketika kita beroleh kemakmuran. Sehingga semua terbahagiakan, bukan hanya anda dan keluarga anda, saya dan keluarga saya, tetapi KITA semua.

“Kebahagiaan manusia adalah bergerak menuju tempat yang lebih tinggi, mengembangkan bakat-bakatnya yang lebih tinggi,memperoleh pengetahuan tentang hal ikhwal yang lebih tinggi dan yang tertinggi, dan bila mungkin, bertemu dengan Tuhan. Bila manusia tak mengerjakan tugas-tugas ini, maka berarti ia bergerak menuju kepada yang lebih rendah, dan hanya mengembangkan bakat-bakatnya yang lebih rendah, sehingga ia pun menjadikan dirinya sendiri tak bahagia, bahkan mungkin putus asa.” (filsafat klasik)

Salam bahagia

9 komentar:

  1. Salam bahagia selalu untuk ibu :)

    BalasHapus
  2. Salam tanpa derita Mbak Ridha
    (Armand)

    BalasHapus
  3. “Kebahagiaan manusia adalah bergerak menuju tempat yang lebih tinggi, mengembangkan bakat-bakatnya yang lebih tinggi,memperoleh pengetahuan tentang hal ikhwal yang lebih tinggi dan yang tertinggi, dan bila mungkin, bertemu dengan Tuhan. Bila manusia tak mengerjakan tugas-tugas ini, maka berarti ia bergerak menuju kepada yang lebih rendah, dan hanya mengembangkan bakat-bakatnya yang lebih rendah, sehingga ia pun menjadikan dirinya sendiri tak bahagia, bahkan mungkin putus asa.” (filsafat klasik)

    ammmmmaaaaaziiiiiiing =)

    BalasHapus
  4. @ Ica, salam bahagia selalu,
    @ Bung Armand, terima kasih banyak sudah datang jauh-jauh dari Makassar.
    @ Nukeu, sudah kembali ke Surabaya?

    thank you, all and salam bahagia

    BalasHapus
  5. begitu ada waktu, langsung buka papanputih n dpt pencerahan.... tengkyu mb Ridha......:)

    BalasHapus
  6. @ Julia,
    makasih sudah mampir dan makasih "semangat"nya.
    salam bahagia

    BalasHapus
  7. Buat hidup (KU)lebih bermakna bagi orang lain : bukankah sama artinya dengan tujuan hidup yang ditetapkan untuk meninggikan kualitas hidup (KU) dibanding lainnya... :)
    salam kenal,
    Hero.

    BalasHapus
  8. dear Hero,
    "KU" yang dibicarakan dalam artikel di atas adalah KU yang meninggikan aku.

    sementara "KU" yang Hero tulis adalah KU yang menjunjung tinggi dan menghargai tujuan-tujuan penuh kemuliaan. Bukan meninggikan AKU di atas yang lain.

    salam bahagia

    BalasHapus