Kamis, 28 Juli 2011

Seri Memimpin Diri; "Sensitifitas"

Bacalah dengan nama Tuhanmu,_____
"Kita adalah apa yang berulang-ulang kita perbuat; jadi kesempurnaan bukanlah suatu prestasi, melainkan kebiasaan". (Aristoteles)
Dear pembelajar,
Pagi tadi dalam pembicaraan dengan seorang sahabat, saya menemukan sebuah judul baru untuk menjaga konsistensi pertemuan kita. “ Sensitifitas”. Saya yakin anda telah tahu terjemahannya. Yaitu, ‘kepekaan’. Tingkat sensitifitas seseorang, dapat dilihat (salah satunya) dari kepeduliannya terhadap apa yang terjadi di luar dirinya.

Sahabat saya ini seorang PNS. Sebelumnya ia ditempatkan di Dinas Pendidikan, kemudian dipindahkan ke Dinas Sosial. Dalam pertengahan bincang-bincang kami soal lain, kami juga berbicara soal pekerjaannya. 

Saya mengawalinya pembicaraan soal pekerjaannya, 
“saya melihat adanya kesenjangan/gap banyak terjadi dalam instansi, utamanya intsansi pemerintah. Bukan berarti dalam intansi lain tak ada. Hanya saja pemerintah banyak disorot. Gap yang saya maksud adalah “judul” beda dengan “isi”. Judulnya Dinas Pendidikan, isinya tidak seperti itu. Judulnya Dinas sosial, isinya juga ternyata tidak demikian…, tahu yang saya maksud kan?”

“Ya..Ya! paham aku!…

Lalu dia memperluas responnya dengan segera. Dia bercerita bahwa faktor utama dia dipindahkan dari sana adalah karena dia dianggap sebagai “penghambat”. Di sana, di tempatnya yang lama, banyak terjadi keserakahan dalam berbagai bentuk. Dan yang menghambat harus disingkirkan. 

Merespon kata “disingkirkan”, dia menambahkan “saya tidak pernah merasa sendiri, EGP”.

Saya bilang, “ya, orang yang mempunyai Tuhan, tidak akan merasa sendiri, tetapi mari kita bicara tentang EGP..”

EGP singkatan dari “Emangnya Gue Pikirin”. Saya lanjutkan kata-kata saya kepadanya, “janganlah begitu…, jangan seperti itu merespon sesuatu…, jangan suka mengatakan EGP, nanti lama-lama anda bisa kehilangan sensitifitas”.

“Hah….? Sensitifitas….? Justru aku keluar dari sana itu karena aku memiliki sensitifias!

“Ya, saya paham bahwa anda memiliki sensitifitas yang tinggi, sehingga anda harus meninggalkan mereka yang anda anggap tidak sensitive itu. Tetapi mari kita lihat jauh lebih ke dalam. Mereka yang serakah itu sedang dalam keadaan “sakit”. Itulah “sensitifitas” yang saya maksud dan sedikit tuntut dari anda. Supaya anda berfikir lebih jauh sebelum berkata “EGP” terhadap mereka yang sedang “sakit”.

“…Hmmm..., sarapan pagi yang NIKMAT, terima kasih ya…I love having chat with you….”

“sama-sama…”

Dan pamitlah dia menuju kantornya yang baru. Ketika sedang menulis ini, saya tidak tahu apa yang ada dalam kepala sahabat saya itu tentang makna “sensitifitas”, yang baru saja kami bicarakan. Tetapi yang pasti, saya tahu dia berfikir.

Salam bahagia

3 komentar:

  1. bagus kata-kata e bu,penuh makna...ijin copas bu ;D

    BalasHapus
  2. artikel2 yang di ulas sangat bagus, terkhusus buat para pelajar, mahasiswa atau kaum muda yang ingin mencari jati diri.

    terima kasih kpd mba Aridha

    terus berkarya.

    BalasHapus
  3. @ Aryo, makasih selalu hadir berkunjung...
    @ Septian, makasih juga supportnya!

    salam bahagia

    BalasHapus