Jumat, 29 Juli 2011

Seri Memimpin Diri; " Berhenti Meminta"

Bacalah dengan nama Tuhanmu,__________
"Seorang yang ingin memimpin orkestranya, harus membelakangi orang banyak". (Anonymous)

Dear pembelajar,
Pagi ini saya dan sahabat baik saya berdiskusi soal apa yang saya minta tadi malam kepada Tuhan. Saya katakan kepadanya, “ketika saya tak lagi sanggup menghitung-hitung anugerah cintaNYA, maka rasanya sudah cukup pintaku padaNya. Saya tak lagi perlu meminta. Merespon jawaban saya, ia mengatakan bahwa kalimat saya bermakna kesombongan yang halus. Makna “ayat kursi”, yang bagian akhirnya berbunyi “Kursi Allah meliputi langit dan bumi dan tidaklah berat bagiNya memelihara keduanya, DIA Yang Maha Tinggi”, menjadi 'ancur'. Demikian pendapatnya, soal 'berhenti meminta'.

Saya, adalah perempuan yang gemar mengubah hal-hal yang tidak indah menjadi indah. Utamanya dalam menyikapai hal-hal, yang oleh kebanyakan orang, dinilai sebagai “tidak indah”. Terkait dengan itu sayapun gemar “bermain” dengan dua kata, yaitu kebahagiaan dan ketidakbahagiaan. Bagi saya, dua kata ini sama pentingnya dan sama nikmatnya. Jika saya sedang tak bahagia, saya hanya perlu mengubah sudut pandang. Beberapa saat kemudian ketidakbahagiaan ini usai dan selesai. Ia berubah menjadi kebahagiaan. Itulah sebabnya, saya memilih kata bahagia dalam setiap salam yang perlu saya sampaikan kepada setiap pembaca, pada setiap akhir tulisan saya.

Dini hari tadi, anak lelaki saya Iksa genap berusia 20 tahun. As usual, seperti layaknya muslimah lainnya, saya bangun setengah tiga untuk berdo’a. Kali ini air mata saya lebih deras mengalir dari biasanya sebab saya kelelahan dan gagal menghitung seberapa besar anugerah yang Tuhan sudah berikan kepada saya. Tidak ada cinta yang tidak saya dapatkan setiap hari. Tanpa terasa, dua puluh tahun Tuhan memberikan kesempatan dan kepercayaan kepada saya untuk menjadi ibu bagi anak lelaki bernama Hanief Iksa Putra, yang darinya saya boleh belajar apa saja, tentang kebaikan, tentang keburukan, tentang kebahagiaan, tentang kesedihan, tentang senyum dan tawa, tentang air mata, tentang welas asih, tentang rasa kasih, tentang kesehatan dan kesakitan, tentang cinta dan yang paling luar biasa adalah ia guru hebat bagi ilmu tentang kesabaran, yang hingga saya menulis ini, masih terus saya pelajari.

Sementara air mata masih mengalir, pikiran saya bergeser kepada seluruh jiwa yang mencintai saya. Begitu banyaknya jiwa yang mengasihi saya dengan sangat tulus. Laki-laki, perempuan, anak-anak, remaja, dewasa, bibi, kakek, nenek, mahasiswa, para dewasa dan lanjut usia, semuanya melingkupi hari-hari saya dengan kegembiraan, penghiburan, cinta kasih, doa, pengharapan yang baik, kerinduan bertemu saya, kabar baik, dan ucapan-ucapan “I love you”, hampir setiap hari ada yang mengirimkannya. Saya makin deras menangis. Tangis dalam dua rasa. Bahagia sekaligus “malu”. Malu karena saya agaknya kurang bersyukur jika saya meminta lebih dari apa yang telah dijatahkan kepada saya dan itu sudah cukup berlimpah.

Saya malu dan mohon pengampunan ketika disadarkan bahwa diri ini begitu lemah dan tidak punya kemampuan berhitung, jika yang harus dihitung adalah cintaNYA. Cinta yang DIA hadirkan terselubung dalam setiap sosok, dalam setiap peristiwa, dalam setiap kejadian, dalam setiap keadaan, dalam setiap situasi, dalam setiap diri orang-orang yang sangat dekat dengan saya.

“Apalagi yang harus kupinta dariNya? Rasanya semua telah cukup…” Kalimat ini mengganggu saya ketika sahabat saya berargumen bahwa itu adalah bentuk kesombongan (yang halus). Sejenak saya menghentikan dialog kami. Saya berfikir tentang itu dan harus menemukan jawabannya. Sebab jika nurani saya berkata tidak, maka saya harus punya alasan. Dia bilang “Allah memerintahkan untuk meminta dan meminta adalah juga bentuk kesyukuran”

Saya berputar-putar dalam kalimat itu dan merasa ada yang harus diluruskan. Tiga jam saya bergulat dengan pemahaman kami yang berbeda, menghentikan diskusi secara mendadak, hingga akhirnya saya tahu argumen yang ada dalam nurani saya.

Allah memang memerintahkan meminta, tetapi Allah TIDAK PERNAH MENGHARUSKAN kita meminta semuanya dalam satu titik waktu. Ketika Allah berkata, “mintalah kepadaKU maka AKU akan memberi”, saya tidak memaknainya sebagai “Kamu HARUS MINTA SEMUA, segalanya, kepadaKU dan AKU akan memberi”.

Meminta bisa jadi perintah tetapi MEMINTA SEGALA-GALANYA dalam satu waktu dalam satu titik, saya menjadi perlu “bercermin” dan beranjak belajar berhitung tentang apa yang sudah diberikan kepada saya. Mintalah apa saja bagi saya berbeda dengan mintalah segala-galanya. Meminta bisa jadi perintah tetapi MEMINTA SEGALA-GALANYA dalam satu waktu dalam satu titik, Allah tidak pernah mengharuskan.

Bagi saya, ada momen-momen ketika Allah menyukai hambaNYA bersyukur dari pada meminta. Itulah sebabnya saya mencoba mengatur ritme do’a-do’a saya. Ada kalanya saya datang khusus memohon pengampunan, lalu memuji dan juga meminta. Namun ada kalanya saya boleh datang hanya untuk memuji penuh kesyukuran. Aktivitas pemujaan dan kesyukuran itu, khususnya terjadi pada saat-saat dimana saya gagal menghitung anugerah, salah persepsi terhadap apa yang dianugerahkanNya dan mengira Allah telah mempermainkan saya dengan ketidakbahagiaan. Astaghfirullah. Saat itulah saya berani mengubah rengekan atau permintaan menjadi sebuah kesyukuran.

Salam bahagia,

2 komentar:

  1. Great post mom :*
    I'm also wanna say , I love you :D

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus