Jumat, 01 Juli 2011

UNIVERSALITAS

Bacalah dengan nama Tuhanmu,______________ 
“Sikap anda adalah mata jiwa anda. Kalau sikap anda negatif, maka anda akan memandang segalanya negatif. Kalau sikap anda positif, maka anda akan memandang segalanya positif. (John C Maxwell)


Dear pembelajar,

“Ibu yang berlimpah kasih, mengapa ibu selalu mengucapkan ‘salam bahagia’ pada setiap akhir tulisan ibu? Bisakah saya mendapat pencerahan akan maknanya? Dan bisakah kita diskusi soal iman yang ibu katakan sebagai “pencarian kedalam”, seperti yang ibu tulis di sana?” semoga ibu senantiasa dilimpahi kasihNya!” Pesan menarik ini datang dari seorang sahabat asal Tanah Toraja. Saya belum pernah berjumpa dan kenal sebelumnya. Yang saya tahu, itu pertama kali dia menyapa saya dan meninggalkan pesan melalui in box saya,


Ada kebahagiaan lain yang mendorong saya untuk menuliskan judul indah ini. Universalitas. Sebuah paradigma yang terus menerus menginspirasi saya  agar meluaskan “bacaan”. Apalagi selain berucap syukur. Tuhan mengerti saya dengan sangat baik. DIA anugerahkan kawan-kawan yang baik melingkupi kehidupan saya. “Bertemu” banyak sahabat penulis dalam sebuah komunitas yang bahkan hingga hari ini pun, saya belum pernah menatap wajah-wajah mereka. Tetapi hebatnya, mereka semua, baik dan menyenangkan. Alangkah bahagianya jika di pagi membuka in box, lalu  disana mendapati pesan, “mana judul barunya?”, atau “ mana tulisannya kok sudah lama tidak muncul?”, “mana komennya di lapak saya?” 


Betapa bahagianya, jika setiap mata ini terbuka, mendapati kabar bahwa ada yang terbahagiakan oleh apa yang kita lakukan, ada yang terbahagiakan oleh apa yang kita ucapkan, ada yang terbahagiakan oleh apa yang kita tuliskan, ada yang berharap uluran hati, tangan dan fikiran untuk sebuah pencerahan terkait dengan persoalan kehidupan. Rasanya, diri ini menjadi betul-betul berguna. Apa yang dapat membahagiakan diri selain dari jika diri ini berguna bagi orang lain?


Membaca pesan sahabat baru itu, saya tidak pernah berfikir bahwa ‘salam bahagia’ kesukaan saya itu akhirnya menjadi sesuatu yang perlu dipertanyakan dan menjadi sesuatu yang hangat untuk dibicarakan. Dan ketika saya menulis ini, pembicaraan hangat kami soal ‘mengelola perbedaan’ (dalam relevansinya dengan agama/kepercayaan), belum selesai. Tetapi kami sepakat bahwa perbedaan jika dikelola dengan baik akan memberikan manfaat yang luar biasa indah.


Dia terlahir Kristen dan saya terlahir Islam. Mungkin dia terusik dengan bahasa dan cara "bicara tulis" saya, sehingga merasa harus mendiskusikan ‘iman’ kami. Saya bilang kepadanya, bahwa:


Saya sangat yakin, bukan tidak punya maksud, selama tiga tahun  Tuhan pernah mengirim saya belajar berdampingan dengan mereka kaum Katholik.


Saya sangat yakin, bukan tanpa maksud, beberapa kali di toko buku, Tuhan menggerakkan mata saya untuk melirik dan membawa pulang naskah buku-buku hebat yang mengajari saya bagaimana menjadi perempuan yang dicintai Tuhan, sedang penulisnya adalah perempuan Kristen.


Saya sangat yakin, bukan tanpa maksud, Tuhan mempertemukan saya dengan perempuan ta’at dengan Tuhannya yang ia sebut dengan Thien dan mengabdi kepada Gong Cu (Confucious/Konfusius), yang ia akui sebagai nabi yang harus dijunjung tinggi dalam setiap do’anya. Terhadap apa yang dia lakukan, dia bahkan dianggap “gila” oleh banyak orang, demikian pengakuannya kepada saya. Ia penganut berat Kong Hu Cu.


Dan saya katakan kepada kawan saya itu, batasan sebatas apa yang saya pahami dalam iman Islam saya, tentang sebuah kata dalam sebuah ayat yang berbunyi “iqra’”, yang maknanya adalah “Bacalah”. Saya hanya mencoba “membaca” apa yang ada di sekitar saya, sesuai yang diperintahkanNYA. Itu saja.


Saya rasa, tidak ada yang saya lukai soal ini, baik orang lain, apalagi diri saya sendiri. Dan kami memang tidak pernah berniat saling melukai. Betapapun saya bergaul dalam keragaman dan perbedaan itu, saya tetap Islam. Saya tak pernah mengganti agama saya.


Tidak terasa bahwa semua yang ada di sekitar saya menjadi sumber kebahagiaan. Tetapi jauh lebih dari itu, sumber dari segala sumber kebahagiaan itu ada di sini, di dalam diri saya. Saya tiba-tiba saja merasa mencintai, tergerak untuk selalu bisa mengasihi, sekaligus merasakan keadaan batin dimana saya dicintai dan dikasihi oleh begitu banyak orang. Hidup saya dikelilingi oleh orang-orang yang penuh cinta dan harapan. Ini adalah anugerah terindah dalam hidup saya. Sungguh, penuh keajaiban, jika kita mampu mendalami kehidupan dengan cara yang indah, dan mengerti ‘cara bermain’. Sebab, hidup ternyata adalah sebuah permainan.  


Hidup adalah sebuah permainan. Bermain dalam ruang-ruang kelas pembelajaran yang maha luas.  Orang menamakan ini sebagai Universitas Kehidupan. Tempat pembelajaran yang maha luas dan bebas. Bermain disana dengan banyak kawan yang kadangkala terlihat seperti “musuh”. Dan permaian-permainan itu akan berujung pada suatu keadaan, dimana para pemenangnya akan “tahu jalan pulang”. Anda tahu yang saya maksud dengan jalan pulang, kan?


Saya katakan kepada bung Pasedan, sahabat saya yang dari Tanah Toraja itu, “Bung Pasedan, saya ini seperti burung dara saja, yang diletakkan Tuhan di dunia ini, kemudian dilihat bagaimana cara terbang saya dari jauh, seolah-olah Tuhan tidak melihat saya, jauh dari saya. Tetapi satu hal yang saya tahu pasti dan yakin adalah bahwa, Tuhan selalu menanti saya ‘kembali’.  Tuhan pasti berharap, saya, seekor burung dara yang pernah DIA lepas itu akan tahu “jalan pulang”. Saya, burung dara yang pernah DIA ajarkan terbang jauh itu, harus menemukan jalan kembali dan pulang kepadaNYA, dalam keadaan baik-baik saja. “Tidak terluka, apalagi cacat.”

Salam bahagia (**ini adalah sebagian kecil naskah yg tengah disiapkan untuk my next book, Jangan Jadi Perempuan Rapuh**)

6 komentar:

  1. Waw..ibu, ica suka sekali tulisan yang ini :)
    Sampe bingung mau nulis apa :D
    Salam bahagia selalu untuk ibu (nyontek kata2 ibu)

    BalasHapus
  2. thank you Ica,

    thanks for caring.

    BalasHapus
  3. aku hanyut ke sini Ibu,

    Salam Bahagia,

    BalasHapus
  4. Dear anonimus,
    siapa ini yang hanyut ke sini? he..he...jangan-jangan yang bersangkutan ya, habis mampir di kompasiana?

    terima kasih dan salam bahagia ya!

    BalasHapus
  5. tulisan ibu yg ini yg paling aku suka
    seperti kata salah satu guru saya " seperti parasut, pikiran kita baru bisa berguna jika dibuka "
    artinya : semakin banyak jendela yg kita buka maka semakin banyak pelajaran yg akan kita dapatkan
    trima kasih tlah membrikan tulisan ini pada kita

    BalasHapus
  6. yes mbak Indah,
    syukurlah kalau suka, senang jika menulis bisa ada gunanya.

    terima kasih, sukses buat anda, saya selalu mendoakan kalian semua.

    salam bahagia

    BalasHapus