Rabu, 15 Juni 2011

Seri Memimpin Diri; Perhentian Integrasi

Bacalah dengan nama Tuhanmu,_______________
"Para peraih prestasi bukan hanya ulet, tetapi juga pekerja keras yang percaya kepada diri sendiri". (Timothy L. Griffith) 

Dear pembelajar,__________
Huff……akhirnya sampailah saya pada perhentian terakhir yang saya janjikan. Mohon maaf agak tertunda bagi yang menunggu, sebab saya sempat mampir focus/konsentrasi di Being a Natural Mother sejenak. Baiklah, hari ini kita bahas perhentian Integrasi, setelah Innocence, Independence, Institution, Irritation dan Insight.  

Setelah insight-insight kita terakumulasi, kita akan menjadi manusia yang lebih sanggup mamahami hidup dan kehidupan. Kita akan mampu menjawab setiap (pertanyaan) “mengapa’ sesuatu itu terjadi dalam kehidupan kita. Mengapa harus terjadi pada waktu tertentu, mengapa terpilih menjadi sesuatu/menjabat sesuatu dalam institusi tertentu, mengapa beruntung dan diuntungkan, mengapa merugi dan dirugikan, mengapa menderita dan mengapa bahagia. Kita mulai memahami makna illahiah dan sekaligus tujuan illahiah dari peistiwa-peristiwa itu.

Kita tidak lagi disibukkan dengan dengan keasyikan bagaimana DUNIA PERTAMA, tetapi sebaliknya, kita mempunyai dan menggunakan energy kita untuk menemukan kebijaksanaan (wisdom) dunia ke dua. Dunia ke dua itu tempat lahirnya kedamaian.
Lantas bagaimana perhentian integrasi ini dicapai oleh seorang pemimpin (spiritual leader) dalam organisasi/institusi?

Seorang spiritual leader yang telah sampai pada perhentian ini, ia paham dan ia sadar bahwa kekakuan organisaional disebabkan oleh orang-orang yang memiliki kekuasaan namun tidak mau membagi kekuasaannya.

Ia sadar bahwa ketika ia harus sampai pada jabatan yang lebih tinggi, ini berarti bahwa ia harus menyerahkan kekuasaan yang dimiliki sebelumnya, kepada orang-orang. Ia akan menghadiahi manajemen dengan dedikasi/pengabdian, energy, kreativitas dan tentu saja cinta.

Para karyawan, dibawah spiritual leader, setiap harinya, mereka akan berbicara tentang tujuan spiritual perusahaan, seolah-olah mereka sedang membicarakan tujuan hidup mereka sendiri. Ini semua karena mereka menyadari bahwa melalui pemenuhan tujuan perusahaanlah, mereka mampu memenuhi tujuan hidupnya masing-masing. 

Di dalam organisasi/institusi/perusahaan, terjadi saling percaya. Rasa saling percaya yang tidak tergoyahkan ini memungkinkan orang-orang untuk membuat berbagai pilihan pribadi dan mengambil berbagai risiko kreatif dan bijaksana. Selalu bergerak dalam tataran pertanyaan besar “mengapa” (“Grand Why” mereka).

Dalam sebuah perusahaan integrative, dapat dijumpai ketertarikan yang tinggi baik pada tingkat peusahaan maupun pimpinan, terhadap kesehatan dan kekuatan keluarga-keluarga (orang-orang) yang mereka pengaruhi. Perusahaan ini memperhatikan dan menyadari bahwa orang-orang yang sehat dan utuh akan dapat membangun perusahaan yang sehat dan utuh pula. 

Demikian akhir pembicaraan kita soal perhentian-perhentian. Mudah-mudahan bermanfaat.

Salam bahagia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar