Sabtu, 25 Juni 2011

Belajar Memimpin Diri

Bacalah dengan nama Tuhanmu,_______
“Seperlima orang yang ada, selalu menentang segalanya.” (Robert Kennedy)

Dear pembelajar,
Ada lembar halaman menarik dalam catatan buku saya. Ini tentang sebuah ‘pesan’ yang dikirim kepada saya atas up date status face book saya beberapa waktu lalu. Ketika itu saya baru saja menggenapkan sebuah rangkaian tulisan berseri tentang memimpin diri. Lalu, seperti biasanya, saya membagi info melalui fb, mengabarkan kepada siapapun yang sedang menunggu, bahwa saya sudah melengkapi tulisan saya.

“Bagi saya Ian Percy adalah salah seorang guru kepemimpinan yang mengesankan. Menurutnya, kehidupan pribadi maupun institusional tidak terus menerus berjalan mulus. Ada perhentian-perhentian. Ia menyebutnya sebagai stations..."

Demikian bunyi status saya waktu itu. Dan, diantara beberapa respon, ada sebuah comment yang menarik perhatian. Ia mampu menginspirasi saya untuk menulis sebuah judul baru ini. Begini bunyi comment itu:

“sudahkah belajar kepemimpinan kanjeng Rasul, sahabatku...?”

Bagi saya, respon ini menarik. “Sudahkan belajar kepemimpinan kanjeng Rasul, sahabatku?”

Saya tidak tahu bagaimana persisnya perkembangan pembelajaran sahabat saya itu. Yang saya tahu, ia sedang studi program doctoral dan sedang gemar sekali menuliskan tentang hadist-hadist rasulullah Muhammad. Tidak ada hari tanpa berbagi cuplikan hadist melalui up date status pada akun face booknya. Saya pun suka sekali mengikutinya.

Namun, saya kemudian menjadi sedikit “terganggu” (dalam tanda kutip) dengan respon itu, sehingga ini menjadikan saya berulang-ulang merenung dan mempelajari kata-katanya. Termasuk apakah maksud dari pertanyaannya itu. Saya terlahir Islam, mengimani Islam dan mencintai Islam, namun statement seperti itu barangkali menunjukkan keraguannya atas ke Islaman saya. Barangkali begitu dan mudah-mudahan ‘tidak’. Mengapa saya punya dugaan seperti itu?  Mungkin dia rasa sangat perlu mengingatkan saya soal kepemimpinan kanjeng rasul. Sebab apa?

Sebab saya orangnya, selalu ekspose dan share tentang segala sesuatu dalam bahasa-bahasa yang sifatnya Universal. Saya mengadopsi dan membagi setiap hal yang saya tahu, yang saya rasa baik dan baik untuk dibagi. Saya menyukai universalitas. Saya menyukai keragaman dan keindahan keragaman. Itu saja. Tidak lebih.

Saya pahami bahwa memimpin (yang kami kenal dengan sebutan ke_khalifah_an) itu menjadi misi yang agung yang tidak bisa ditawar-tawar. “AKU hendak menjadikan khalifah di muka bumi”. Itu kalimat Tuhan pertama kali memberitahukan kepada Malaikat ketika DIA mau menciptakan Adam. Jika setiap manusia adalah pemimpin, lalu ‘memimpin’ siapa? Diri sendiri, orang lain, sekelompok orang, seluruh orang, atau saling memimpin?

Entahlah. Tetapi dari kesemuanya, saya lebih tertarik untuk belajar dan terus belajar memimpin diri melalui pembelajaran kepemimpinan apapun dan siapapun. Memimpin diri menggerakkan kita untuk tahu bagaimana cara memimpin “yang diluar diri”.

“Setiap kita adalah pemimpin”. Jika Tuhan mengatakan bahwa setiap orang adalah pemimpin, maka “setiap orang adalah pemimpin”. 

Kalimat itu sangat jelas, sehingga cukuplah itu dan tidak perlu rasanya saya meragukan kalimatNya. Saya terlahir Islam, mengimani dan mencintai Islam tetapi saya yakin Tuhan mempunyai maksud ketika Dia mengirim saya selama tiga tahun bergaul dengan kawan-kawan penganut Katolik dan saya tak pindah agama. Saya yakin Tuhan punya maksud ketika suatu saat saya dipertemukan dengan perempuan salih penganut ta’at Kong Hu Cu. Kami berdiskusi soal siapa Tuhan dan nabinya, ia tak pindah agama dan saya tak pindah agama. Saya percaya bukan tidak punya maksud Tuhan menggerakkan saya pergi ke toko-toko buku, lalu mengarahkan mata saya untuk melirik dan kemudian membaca buku-buku indah karya penganut Kristiani, budha dan hindu yang ta’at. 

Semuanya mengajari saya cara-cara hidup indah, saling menghargai dan bukan saling melukai. Dan saya yakin ketika Tuhan berkata bahwa Dia adalah Maha Pemelihara, maka Dia pun akan memelihara saya. Saya bersyukur dibolehkan dan diberi kesempatan untuk belajar “ke luar”sekaligus “ke dalam” itu, dan hal terpenting adalah Tuhan tetap menjaga dan tidak pernah mengganti agama saya.

Sehingga seperti inilah respon yang saya kirim kepada sahabat saya yang mempertanyakan apakah saya sudah atau belum mempelajari kepemimpinan rasulullah Muhammad:

“Syukurlah sahabatku, saya sedang terus belajar kepemimpinan kanjeng rasul, dan juga rasul yang lain. Belajar juga soal kepemimpinan siapa saja yg mereka sebut sebagai pemimpin, termasuk Sidharta Gautama, Mahatma Gandhi dan Gong Tju yang disebut nabi oleh penganut Kong Hu Cu..., juga kepemimpinan Soekarno, Soeharto, Gus Dur sampai SBY, juga sedang belajar kepemimpinan Ustadz Yusuf Mansur dan Ustadz Nur Maulana dkk, juga belajar kepemimpinan para guru, para murid, anda dan kawan-kawan lain……..belajar dari setiap khalifah di muka bumi...belajar dan terus belajar tanpa henti...thank you sudah menanyai saya, hingga saya punya alasan untuk menulis ini..., salam bahagia.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar