Rabu, 18 Mei 2011

Seri Memimpin Diri; Perhentian Iritasi

Bacalah dengan nama Tuhanmu,______________
"Orang akan bekerja 8 jam sehari untuk upah, 10 jam sehari untuk bos yang baik dan 24 jam sehari untuk tujuan yang baik". (John C. Maxwell)
Dear pembelajar,__________ 
Kebanyakan lingkungan kerja sebenarnya menghalangi gerakan para karyawannya mengejar pemenuhan dahaga spiritualnya. Coba anda tengok deskripsi tugas, wewenang dan tanggung jawab anda selama ini. Seberapa jauh deskripsi tersebut mampu membebaskan kungkungan jiwa anda? Jika dokumen yang mendeskripsikan kehidupan pekerjaan anda, tampak seperti serangkaian angka-angka yang sekedar hanya meminta kepatuhan anda, anda tak perlu berharap banyak. Saatnya melambaikan tangan untuk mengucapkan “selamat berpisah” pada stasion independent. Mengapa? Sebab sang institusi sudah mengambil alih segala sesuatunya.

Itu adalah paragraph terakhir ketika saya menulis tentang perhentian institusi. Demikianlah keadaan kita, ketika kita berada di perhentian institusi. Sepertinya, anda dan saya begitu menderita ya? Hei! Itu belum apa-apa! Pernah mendengar soal iritasi kan? Dan pernah mengalami iritasi? Bagaimna rasanya? Persis! Terluka, perih dan mengalami pengelupasan. Itulah perhentian berikutnya yang akan kita jelang. Seperti biasa, saya akan mengingatkan anda urut-urutan perhentian itu. Innocence, independence, institution, dan irritation.

Perhentian iritasi akan menyadarkan kita terhadap kemungkinan kompromi. Dalam banyak kasus, kita cenderung memilih kompromi dengan dan demi institusi bukan? Memilih kompromi dengan terpaksa mengakibatkan kemarahan (nampak ataupun samar). Kompromi dipilih karena ketidakberdayaan. Mau kemana lagi, sebab diluar amat sulit menemukan institusi lain. Akhirmya, tidak ada jalan lain kecuali kompromi, bukan?

Sering kita tidak terlalu banyak bicara, lalu dengan “sabar” beradaptasi dengan organisasi. Apakah ini karena ketidakberdayaan atau karena yakin bahwa perbuatan tersebut (sabar dan penerimaan) akan membawa banyak keuntungan dalam kehidupan (selanjutnya)? Awalnya memang sulit, namun perhentian institusi benar-benar terus menerus akan memaksakan “cap kesatuannya” terhadap kita. Menjadikan kita tampak sangat serupa. Persis seperti barisan para pinguin! Bertindak dalam keseragaman. Mempercayai dan tidak mempercayai hal yang sama. Bertujuan sama. Taat kepada buku petunjuk pelaksanaan perusahaan. Konsisten dan dapat diprediksi. Mengikuti garis kebijakan organisasi. Menghindari spontanitas dan kreatifitas. Membuat hidup anda lebih mudah sepanjang bisa beradaptasi. (bacalah ulang paragraph ini!)

Sekarang, tengok institusi anda. Sebuah team work bukan? Sebuah kesatuan, bukan? Nah, apakah yang demikian tidak bertentangan? Inilah kuncinya! "Manakala sebuah kesatuan tidak lahir dari Rahim pilihan bebas, ia bukanlah kesatuan sama sekali! Ia hanya menyerupai kesatuan, memakai gaya bahasa dan symbol-simbol kesatuan, tetapi ia bukanlah kesatuan. Tim akan menjadi sebuah tim, bila sekelompok orang berdasarkan pilihan bebas memutuskan untuk menjadi tim. Pemaksaan yang demikian dalam banyak institusi akan menimbulkan kemarahan."

Rasa marah yang ditimbulkan memberikan dua pilihan. Tetap terpenjara di dalam kemarahan itu sendiri atau benar-benar menggunakan kemarahan untuk menghidupkan apa yang telah ada dalam diri kita. Jika piliha ke dua yang kita pilih, apa yang terjadi persis seperti apa yang terjadi pada kulit yang mengalami iritasi dan kemudian terkelupas. Apa yang akan kita dapatkan? Ya! Kulit yang baru! Iritasi itu melahirkan pembebasan. Iritasi menghadirkan sebuah kebebasan. Iritasi adalah tempat terlahirnya pembebasan.

Salam bahagia!

4 komentar:

  1. hidup iritasi ya mbak,...Iritasi menuju pembebasan!

    BalasHapus
  2. "Jika piliha ke dua yang kita pilih, apa yang terjadi persis seperti apa yang terjadi pada kulit yang mengalami iritasi dan kemudian terkelupas."

    oh, metafora yg bagus, ttg kebebasan dan kulit iritasi...
    seperti merafora kepompong menjadi kupu2 utk kasus yg berbeda..
    nice posting..
    salam...

    BalasHapus
  3. dear Kenia,

    Terima kasih sudah hadir, begitulah...menikmati iritasi memperoleh pembaharuan

    salam bahagia

    BalasHapus
  4. Hallo Anto,

    metaforakah? he..he..
    itu tidak bisa dihindari, hanya ada dua pilihan, bersedia mengalami atau "dipaksa" (alam) untuk mengalami.

    salam bahagia

    BalasHapus