Selasa, 03 Mei 2011

Seri Memimpin Diri; Perhentian Institusi

Bacalah dengan nama Tuhanmu,________
"Seperlima orang yang ada, selalu menentang segalanya." (Robert Kennedy)

Dear pembelajar, 
Setelah dua perhentian, innocence dan independence, saatnya kita masuk pada perhentian ke tiga, yaitu perhentian institusi (institutional station). Institusi adalah lembaga. Saya dan anda mungkin sedang berada di sini sekarang, dalam “jerat” perhentian ini. Mau keluar melongok sebentar ke stasion independen, terasa sulit karena kita tidak berdaya dan harus terikat kepada system kelembagaan.

Jika dalam siklus hidup, maka urut-urutannya, biasanya seperti itu. Setelah innocence, independence, lantas institusi. Tetapi begitu, kita melibatkan diri dan terlibat dalam kelembagaan, maka bisa jadi dalam “masa” (range waktu) yang sama, satu sisi kita berada dalam perhentian independence, satu sisi lain kita berada pada perhentian institusi. Pagi hari anda “terjerat” dengan aturan kantor, malamnya anda clubbing bersama kelompok independence yang anda bentuk, menikmati kebebasan anda. Meskipun club anda adalah “lembaga”, namun ia adalah informal, yang anda bentuk untuk memenuhi keinginan yang sama yaitu kebebasan.

Perhentian institusi yang dibahas di sini cenderung formal, seperti tempat kerja, sekolah, lembaga pemerintah, dan sejenisnya yang mengikat, meskipun demikian, juga disinggung institusi keluarga.

Suatu saat, tak bisa kita hindari bahwa kita akan sampai pada perhentian ini. Coba ingat-ingat ketika anda bersekolah. Apakah anda dapat beradaptasi ataukah tidak? Umumnya, sangat menyedihkan, sebab sangat sedikit sekolah yang dirancang untuk membantu para siswa menemukan kesejatian diri dan apa yang menjadi tujuan illahiah kehidupannya.  

Segala minat, bagaimana anda belajar, hasil total proses belajar anda, talenta-talenta dan mimpi-mimpi anda, tidak sungguh-sunggguh diperhitungkan. Sebagian orang cukup beruntung mempunyai “guru” yang meyakini bahwa siswanya siswa-siswanya jauh lebih penting dari pada sisten yang bagus sekalipun. “Guru” tersebut pasti mendapat tempat khusus di lubuk hati kita, menjadi panutan dan pegangan, menunjukkan puncak gunung yang harus didaki dan bagaimana mendakinya. Ia melihat siapa kita pada hakikatnya dan membantu kita “melihat” siapa kita pada hakikatnya. Berapa guru anda yang demikian? Berdasarkan penelitian, kebanyakan kita tak mampu menyebut lebih dari dua nama guru yang seperti itu.

Dalam keluarga anda. Apakah anda didorong untuk merenungkan berbagai hal demi diri anda pribadi? Bahkan kalau perlu, sampai harus mendebat atau mengkonfrontasikan keyakinan-keyakinan anda dengan keyakinan-keyakinan sesama saudara atau orang tua? Atau, apakah jawaban-jawaban atas pertanyaan tentang kehidupan didiktekan begitu saja kepada anda? Terlepas dari apakah anda menayakan atau tidak menanyakan. Apakah ini terdengar biasa di telinga anda? “Selama kamu masih tinggal di bawah atap rumah saya, kamu wajib mentaati segala aturan yang saya buat!”

Perhatikan keluarga anda. Atau justru anda sendiri yang menjadi pemimpin di dalamnya? Dengan terlalu banyak menetapkan aturan, sebetulnya, kita sedang mengatakan “ kalian harus menjadi seperti kami, kalian harus berpikir dan bertindak seperti kami”. Sebaliknya, menerapkan terlalu sedikit aturan dan disiplin, sama saja dengan mengatakan “Kami tidak peduli kalian mau jadi apa”. Maka, sesungguhnya menjadi orang tua/pemimpin keluarga, secara fundamental adalah seni bijak mengatur aktivitas didalamnya.

Terakhir soal institusi bisnis. Institusi dimana anda dan saya bekerja. Kebanyakan lingkungan kerja sebenarnya menghalangi gerakan para karyawannya mengejar pemenuhan dahaga spiritualnya. Coba anda tengok deskripsi tugas, wewenang dan tanggung jawab anda selama ini. Dan coba dalami, seberapa jauh deskripsi tersebut mampu membebaskan kungkungan jiwa anda? Sebagian deskripsi seperti itu memuat lusinan ‘lakukan’ dan ‘jangan lakukan’, dan pada baris terakhir biasanya berbunyi “ setiap tugas yang belum ditetapkan akan ditetapkan kemudian”, atau “akan ditambahkan yang belum diatur di sini”. 

Sebetulnya ini hanyalah kalimat-kalimat yg bermakna “kalau-kalau saya lupa mencatatnya”.
Jika dokumen yang mendeskripsikan kehidupan pekerjaan anda, tampak seperti serangkaian angka-angka yang sekedar hanya meminta kepatuhan anda, anda tak perlu berharap banyak. Saatnya melambaikan tangan untuk mengucapkan “selamat berpisah” pada stasion independent. Mengapa? Sebab sang institusi sudah mengambil alih segala sesuatunya.

Nah, bagaimana? Dimanakah anda sekarang? Pada sessi mendatang, setelah perhentian institusi ini, kita akan berbicara tentang perhentian iritasi. Selamat merenung dan,
salam bahagia 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar