Sabtu, 28 Mei 2011

Seri Memimpin Diri; Perhentian Insight

Bacalah dengan nama Tuhanmu,________________________ 
"Kepemimpinan adalah kapasitas untuk menterjemahkan visi menjadi kenyataan".
(Warren G B"ennis) 

Dear pembelajar, ___________
Sampailah kita jelang satu perhentian, sebelum kita nanti sampai pada perhentian terakhir. 
Setelah innocence, independence, institution dan irritation, kali ini kita mencoba memahami perhentian insight. Sebenarnya ini adalah situasi yang merupakan produk dari pilihan-pilihan pada perhentian sebelumnya. Artinya begini, pada perhentian iritasi, bukankah kita telah dibuat marah oleh ‘kelakuan’ institusi? Perampasan independensi kita oleh institusi berhasil menimbulkan kemarahan-kemarahan. 

Kemarahan yang terjadi pada stasion iritasi, mengajarkan kita untuk membuat pilihan, apakah kita akan mengambil kesyukuran atas realita lalu kemudian berusaha menemukan cara lain yang lebih baru, bergerak menuju tempat yang lebih baik dan dalam, ataukah kita akan tenggelam bersama rasa bersalah lalu mati bersama realitas yang tidak menggembirakan itu.

Iritasi seperti halnya kelupas luka. Sebab kita merasa bahwa kehidupan kita lebih banyak dikontrol oleh berbagai institusi. Independence kita dirampas oleh berbagai bentuk institusi , bukan hanya perusahaan tempat kita bekerja, tetapi bahkan oleh keluarga (seperti aturan-aturan yg ditetapkan oleh orang tua pada masa kecil kita) dan bahkan institusi keagamaan.

Ketika kebebasan itu terampas, kita menjadi marah. Kemarahan yang saya ceritakan bisa dalam berbagai bentuk. Memilih keluar menjadi sesuatu yang ekspresif yang akan merugikan bukan hanya orang lain tetapi diri sendiri, ataukah memilih ke dalam, memelihara kebeningan, menuju keheningan dan bertindak setelah itu secara lebih baik dan lebih lurus. Disinilah terjadi insight moment (saat-saat melihat ke "dalam")

Ketika seseorang berada lurus segaris dengan Tuhan, dan sesamanya, ia dapat memahami bahwa semua kerja adalah “permainan” dan semua daya upaya kreativitas serta upaya kreatif akan menjadi sesuatu yang nir-upaya (tanpa beban).

Salam bahagia.

2 komentar:

  1. aduuh,..akhirnya merasa sia2 ya smua usaha yg sdh dikeluarkan...bikin nyerah donk mbak,..:(

    BalasHapus
  2. dear mbak Nia...
    bikin nyerah bagaimana?
    pada akhir tulisan ini dilukiskan keadaan insight seseorang. Setelah seseorang tersebut mampu memaknai bahwa segala sesuatu adalah ibadah, maka ia akan berada dalam keadaan "penyerahan" total. Memilih hidup lurus segaris dengang Tuhan dan sesama adalah ibadah.
    Lalu ia akan sadar bahwa segala kerja (di dunia) adalah permainan (saja). Bukankah ada ayat Qur'an yang menyatakan bahwa hidup hanyalah sebuah permainan saja?
    Lalu jika seseorang sudah melewati stasiun insight, segala upaya kreatif menjadi nir_upaya. Nir upaya adalah tanpa beban. Ia akan melakukan apapun dengan ringan saja tanpa harus merasa terbebani. Makanya dikatakan segala kreativitas akan menjadi nir_upaya, ringan saja/tanpa beban.
    begitu mbak Nia
    salam

    BalasHapus