Selasa, 05 April 2011

Understanding People in your Organization

Bacalah dengan nama Tuhanmu,___________
“..maka bertakwalah kamu kepada Allah, menurut kesanggupanmu…, dengarlah dan taatlah dan jangan memelihara kekikiran..” (QS 64: 16).

Dear pembelajar,
Kepemimpinan memang menarik dan membahasnya seperti tidak memiliki titik. Tiga hari lalu, saya membaca tulisan seorang kawan kompasianer. Juga soal kepemimpinan. Tidak seperti biasanya. Kali itu, kawan saya tidak memberikan apa-apa kecuali hanya menumpahkan kekesalannya. Ia hanya curhat sepanjang tulisannya. Ia sudah lelah. Dan yang paling parah, ia sedang mengalami "kebocoran" loyalitas (lack of loyalty). Mengapa? Sudah cukup lama, ia tak memahami cara pimpinan memimpin orang-orangnya, termasuk dirinya. Ia tidak memahami mengapa berulang-ulang dia kasih pemahaman kepada pimpinan, tapi beliau tak ada sedikitpun usaha untuk memahami orang-orangnya.


Ironisnya, di balik tembok institusi lain, dalam ruangan yang sangat convenient, seorang kawan yang dalam organisasinya, menduduki top level management, mengeluhkan hal yang sama. Selama bercerita, ia menepuk-nepuk jidat/dahinya sambil mengatakan “susah bu..!!” Ia juga tidak paham mengapa orang-orang yang dipimpinnya itu susah untuk memahami apa yang dia mau. Seolah-olah, ia sedang menghadapai perlawanan yang sepakat, dari anak buahnya.

Kepada kawan yang top level management itu, saya tidak mengatakan apa-apa. Dan memang saya tidak hendak mengatakan apa-apa. Saya dengan setenang-tenangnya, hanya menyaksikan keadaan beliau yang hobby panic. Saya hanya mendengarkan dengan baik saja curhatnya, lalu pamit sambil mengatakan “sabar”. Tetapi kepada kawan kompasianer, saya sempat berkata. “Selamat! Anda sedang belajar memimpin. Bukan memimpin orang lain. Tetapi, memimpin diri sendiri.”

Persoalannya memang persoalan kepemimpinan. Tetapi, saya curiga, jangan-jangan, ini bukan persoalan memimpin orang lain. Ini tidak lebih dari persoalan memimpin diri sendiri. Dua kawan itu sama-sama menghadapi perlawanan. Musuhnya adalah ketidakpahaman dari orang lain diluar mereka. Mereka mengira orang lainlah yang tidak memahami, sehingga ini menjadikannya frustrasi. Jadi bagaimana menyiasatinya?

Dalam Mengubah Perlawanan Menjadi Pemahaman, Leslie Yerkes dan Randy Martin, dua guru saya ini, menceritakan kepada saya bagaimana solusinya. Inilah yang diajarkan kepada saya, tentang bagaimana mengubah perlawanan menjadi pemahaman. 
1. Bertanggung jawablah
Mimimizing berfikir tentang apa dan siapa yang salah, kalau perlu, stop! Gantilah dengan tindakan bertanggungjawab. Katakan pada diri sendiri, “aku bertanggung jawab atas ini semua”. Katakanlah kepada diri sendiri. Tidak perlu mengatakan kepada orang lain bahwa andalah yang harus bertanggungjawab. Jauhkan pikiran dari bayangan seekor kambing hitam yang harus dipersalahkan.

2. Menjadilah humble (rendah hati) 
Bertindaklah tenang, percaya diri, dan belajar untuk mendorong partisipasi penuh dari semua pihak yang terlibat (tidak menggunakan pemaksaan), mendengarkan mereka. Yakin bahwa itulah cara penyelesaian yang baik. Rendah hati adalah kita mengakui bahwa kita tidak mengetahui segala-galanya mengapa sesuatu persoalan itu bisa terjadi, lalu meminta bantuan kepada mereka (yg terlibat). Rendah hati itu butuh keberanian untuk “membungkuk/duduk sejajar atau lebih rendah dari mereka”. Inilah kunci untuk membuat mereka merasa bahwa mereka tidak lebih rendah dari diri kita, lalu bersedia bekerja sama dengan kita.
3. Ajukanlah pertanyaan 
Mengapa? Sebab, seperti halnya anda. Diberitahu itu membosankan. Maka, gunakan KEKUATAN PERTANYAAN. Bertanyalah kepada mereka tentang hal-hal yang terkait dengan problem, lalu dengarkanlah jawaban mereka. Jangan mendominasi! Jangan memaksakan solusi yang anda pikirkan. “Ketika kita berusaha untuk memberitahu orang lain apa yang harus dilakukan, reaksi pertama mereka adalah “menahan diri”. Jadi, siapkan pertanyaan-pertanyaan. Biarkan mereka tergugah untuk menginspirasi kita yg sedang mencari jalan keluar.
4. Tetaplah terbuka
Tetap berpegang pada win-win solution. Mengapa? Sebab, tarik tambang selalu ada pemenang. Tetapi bagaimanapun, cara memperoleh kemenangan model ini, sungguh tidak menyenangkan. Perhatikan, lawan yang harus kotor dan terjatuh untuk menjadikan kita menang. Ini adalah sebuah kemenangan yang tidak indah.
5. Yakinlah bahwa memecahkan masalah secara bersama-sama adalah terbaik untuk persoalan kita 
Berhentilah mengecilkan kemampuan orang lain.  
Jangan berfikir tentang level dalam hal ini, ini berlaku umum pada level apapun, mulailah berinisiatif. Jika tak paham, coba baca kembali point 1 dan 2. Tidak ada yang dirugikan. Ini memang sulit bagi sebagian besar orang. Karena memang, ini hanya mampu dilakukan oleh sedikit orang. Dan, saya yakin, anda termasuk yang sedikit itu.

Salam bahagia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar