Jumat, 08 April 2011

Hubungan Tanpa Status

Bacalah dengan nama Tuhanmu,___________
"Perhatian secara cermat tentang suatu hal, sering terbukti melebihi kejeniusan dan seni". (Cicero) 

Dear pembelajar,_____________
Kali ini adalah tentang Ilmu Marketing.
Pada sebuah halaman facebook, seorang kawan menulis status relasinya adalah “menjalin hubungan tanpa status”. Ia (tentu saja) lelaki. Beberapa minggu kemudian, saya mendapat pemberitahuan lewat beranda fb, bahwa kawan saya itu merubah statusnya menjadi “sudah menikah”.

Saya senang mendengarnya. At least, tahu bahwa ia berkehendak jujur. Beberapa kawan tentu saja ikut bahagia dan memberi ucapan “selamat ya!” Eh …beberapa minggu kemudian, ia ubah lagi statusnya menjadi “menjalin hubungan tanpa status”

Saya, tentu saja penasaran, mengapa kawan yang satu ini suka sekali berubah-ubah status relasinya. Sebetulnya, membicarakan ini bisa jadi “cluthak” (jawa_usil), tetapi sudahlah, saya hanya ingin tahu motive-nya. Supaya apa? Supaya kawanku yang lain yang (selalu mengaku) "telmi" itu, menjadi jelas dan tidak perlu mengupasnya jauh lebih dalam… (pinjam istilah hypnotism)

Saya tanya kawan lelaki itu, “perasaan..bulan lalu kamu baru menikah, kok statusnya berubah lagi? Menjadi menjalin hubungan tanpa status?” Dan, inilah dialog selanjutnya:
  •  “hey! It’s just a face book, you know?”
  •  Yes, I (do) know it is just a facebook. But, I asked you why? And for what?
  • I need more friends….., if I set “married” there, less new friends become mine, then!, akunya.
Maksudnya jika ia taruh status “menikah”, maka mereka (calon kawan baru) akan menjauh dan ia hanya mendapat sedikit teman.
Saya garis bawahi kalimat itu. Dan aku hanya bilang “oh..”. Rupanya ini adalah kasus “ marketing self/self marketing”.

Wah, ini inspiring banget (dalam hati). He..he.., sebetulnya saya tidak perlu memikirkan hal ini, tetapi tetap saja saya merasa sedikit terusik. Biasanya, kalau ada yang mengganjal berarti ada yang tidak beres. Jadi saya minta maaf yang sebesar-besarnya kepada kawan lelakiku, yang kasusnya aku “curi” ini.

Apa ya.. yang sedang tidak pas? Maksud saya, kata-kata apa yang “pas” untuk kasus kawan saya ini..? Oh ya! Saya sudah menemukannya! Ia underestimate terhadap target pasarnya. (Jrin!!!, underestimate di sini kumaknai sebagai “mengecilkan/meremehkan”, so jelas kan?). Dalam ilmu marketing, underestimate target market, sangat dilarang. Apalagi ini berurusan dengan ilmu memasarkan diri.

Salah seorang guru dari India mengajarkan saya soal spiritual marketing. Apapun bisnis yang tidak dimulai dengan niat baik, tidak memikirkan kepentingan dan kesejahteraan orang banyak dan lingkungan sejak ia mulai digagas untuk didirikan, maka bisnis itu tidak akan langgeng. Tidak ada ruh kesuksesan di sana.

Target pasar kawan saya itu adalah perempuan. Ia kira bahwa dengan mengubah kembali statusnya menjadi “menjalin hubungan tanpa status”, akan dapat menarik lebih besar minat target pasar. Ternyata benar dugaanku, responds dari target marketnya, tidak seperti yang dibayangkan. Hingga saya tulis ini, market sharenya, belum bergerak. Dan saya hanya ingin berbagi, do not ever underestimate anything, anyone, anymore…it is dangerous.. 

Salam bahagia.

4 komentar:

  1. hmm,.rupanya teman anda telah berubah mjd seorang bunglon ya..hehehe becanda mbk..!slm kenal ya!saya suka artikel ini..Anda benar2 pemerhati dan pengamat hal2 yg detail.kadangkala kita ga perhatikan soal status lho..

    BalasHapus
  2. hey ! Iya Kenia, tetapi bagaimanapun, ia telah menginspirasi saya sehingga jadilah tulisan ini.

    terima kasih sudah mampir. salam kenal ya. moga-moga pertemanan kita menjadi lebih bermanfaat. amin.

    BalasHapus
  3. I agree your statement...

    BalasHapus
  4. bisa jadi teman ibu kurang bahagia dengan rumah tangganya. meskipun teman dalam FB banyak tapi tidak bisa merubah apapun toh tidak setiap hari dia bisa chatting dengan mereka semua paling hanya yang dia kenal dalam kehidupan sehari-hari saja bu :)

    BalasHapus