Sabtu, 05 Maret 2011

Formula Kepemimpinan (3)

Bacalah dengan nama Tuhanmu,___________________
“Ujian Kepemimpinan : Berbaliklah! Dan lihatlah! Apakah ada yang mengikuti anda?” (John C. Maxwell)

Dear pembelajar,________________
Kali ini, seorang pengunjung bernama Ardi, mengirim pesan kepada saya bahwa, dia sedang menunggu kelanjutan tulisan tentang formula kepemimpinan 30/30/20/20.
Baiklah kalau begitu. Saya segera menulis sisanya. Enam jam sudah anda habiskan. 3 jam untuk brain trust dan 3 jam untuk berkomunikasi. Sekarang kita menginjak 2 jam berikutnya. Saatnya saya menulis tentang 20% pertama dari rangkaian formula kepemimpinan. Apakah 20% pertama dari formula kepemimpinan itu?
20% pertama adalah Mentoring dan Perencanaan Suksesi,
Seorang spiritual leader mengalokasikan dua jam waktunya dalam sehari, untuk melaksanakan kegiatan konsultasi internal, pendampingan, mentoring/pelatihan, perencanaan suksesi/ pergantian kepemimpinan di masa yang akan datang.
Bagi pemimpin biasa, perencanaan suksesi dianggap sebagai hal yang tabu. Mengapa? Sebab dalam persepsi mereka, ini sama halnya dengan bunuh diri. Merencanakan suksesi itu mengancam perjalanan karir para pemimpin.

Seberapa banyak pemimpin yang memikirkan karir orang-orangnya? Yang banyak adalah pemimpin yang sepanjang hari memerintahkan orang-orangnya untuk menyelesaikan setiap detail pekerjaan dengan bagus, sambil berucap “do your best !”, lalu kemudian, hasilnya adalah menaikkan karir diri sang pemimpin sendiri. Keberhasilan karyawan sah-sah saja di_klaim sebagai keberhasilannya pribadi.

Banyak dari pemimpin menunjukkan kecenderungan memerintah orang-orangnya untuk melakukan berbagai hal. Pemimpin jenis ini nampak merupakan pemimpin yang berkualitas. Kualitas-kualitas kepemimpinan mereka memang berhasil membawa karir mereka (sendiri) ke puncak, NAMUN tidak mampu membawa siapapun kemana-mana. Maksimal, para pemimpin jenis ini, mampu menciptakan sebuah situasi berupa sikap keteraturan, ketundukan dan kepatuhan karyawan.

Sekali lagi, spiritual leader, melaksanakan kegiatan konsultasi internal, pendampingan, mentoring/pelatihan, perencanaan suksesi/ pergantian kepemimpinan di masa yang akan datang. Aktivitas-aktivitas ini adalah aktivitas menumbuhkembangkan karyawan/orang-orang. 

Spiritual leader adalah fasilitator. Kemampuan memfasilitasi yang dikuasai dengan baik, akan membuat seorang pemimpin sanggup melalui setiap turbulensi yang terjadi dalam organisasi yang melibatkan banyak orang di dalamnya.

Spiritual leader, membantu orang-orangnya melakukan berbagai hal untuk diri mereka sendiri. Spiritual leader, disamping melakukan pembimbingan yang kuat dan bijaksana, ia juga menyerah-terimakan prosedur.

Contohnya begini;
Ketika salah satu departemen dalam sebuah organisasi atau perusahaan  dirundung masalah, maka seorang spiritual leader tidak serta merta mengambil alih persoalan, lalu sibuk menyelesaikannya sendiri, memperbaiki situasi, atau pun mengharapkan seseorang untuk datang (sukarela) membantu menyelesaikannya.

Spiritual leader akan membantu ‘mengaktivkan’ pengetahuan orang-orangnya. Spiritual leader itu berlimpah insight (kemampuan penglihatan ke dalam). Keberlimpahan insight yang dimiliki, digunakan untuk mengaktivkan insight dari orang-orangnya. Spiritual leader selalu berupaya merangsang/menstimulasi keberlimpahan ide dan talenta dari orang-orangnya.

Dengan demikian, persoalan yang terjadi dapat dipahami dengan jelas faktor-faktor penyebabnya. Jalan keluar dari situasi yang sedang dihadapi tersebut, dapat ditemukan. Spiritual leader, membantu merumuskan respon korektif-kolektif (memperbaiki secara bersama-sama) untuk menjawab setiap tantangan yang dihadapi oleh orang-orang ataupun departemen-departemen yang ada.

Spiritual leader rela dalam organisasinya, dibentuk sebuah komite karyawan. Komite ini akan memeriksa, memperbaiki dan menyederhanakan pilihan pembagian tugas yang ada. Spiritual leader, akan melatih mereka bagaimana cara mengakses informasi yang mereka butuhkan tanpa melanggar kebijakan perusahaan.

Bayangkan bahwa anda adalah seorang spiritual leader!
Sebagai seorang spiritual leader, anda akan membantu mereka melihat makna sesungguhnya dari setiap pelatihan dan pengalaman yang mereka alami. Ketika anda memberikan dorongan kepada mereka, anda juga membiarkan mereka berjuang dan mempelajari pengalaman demi pengalaman. Layaknya apa yang pernah anda alami, bukan?

Ketika suatu saat mereka mengklaim, bahwa diri mereka mampu menyelesaikan persoalan itu dengan kemampuan mereka sendiri, lalu mereka mengatakan “ Hai! Lihatlah! aku/kami sanggup melakukannya secara mandiri”, anda sama sekali “tidak sakit hati”. Anda justru menyetujui dan  sangat dibahagiakan oleh klaim dan pengakuan mereka itu.

So what?

Dalam kegiatan mentoring dan perencanaan suksesi, intinya adalah bahwa seorang spiritual leader, melakukan intervensi-intervensi yang bersifat spiritual/memberikan spirit dalam kehidupan orang lain. bukTujuan utamanya adalah kemajuan personal mereka, BUKAN kemajuan anda pribadi. Okey? Nantikan 20% terakhirnya, setelah ini!

Salam bahagia.

2 komentar:

  1. hmm,masi kurang 20% lg...tetep dtunggu..
    30% berfikir
    30% komunikasi
    20%mentoring & perencanaan suksesi
    20%...masi menunggu hehe :)

    BalasHapus
  2. Hai Yoks!

    Sabar ya! thanks udah visit!

    Salam sukses!

    BalasHapus