Kamis, 03 Maret 2011

Formula Kepemimpinan (2)

Bacalah dengan nama Tuhanmu,_______________
“Kita adalah apa yang berulang-ulang kita perbuat; jadi KESEMPURNAAN bukanlah suatu prestasi, melainkan KEBIASAAN”. (Aristoteles)

Dear pembelajar,
Vitria, seorang sahabat dari Pekanbaru yang sedang studi di Bandung, berhasil menggerakkan saya untuk melanjutkan tulisan tentang formula kepemimpinan. Dan, inilah formula kepemimpinan ke dua. Maksud saya, 30% yang ke dua. Masih ingat formula kepemimpinan spiritual leader, yang 30/30/20/20 itu kan? 30 yang pertama anda sudah dapat di sini. Nah, sekarang kita bergerak kepada 30 yang ke dua.

The second 30% of spiritual leadership is communication
Spiritual leader menghabiskan 30% waktunya (yang kedua) untuk komunikasi. Komunikasi internal dan eksternal. Artinya, tiga jam sehari, ia habiskan waktunya untuk memastikan bahwa komunikasi di dalam dan di luar organisasi berjalan dengan efektiv.

Perhatikan kata internal dan eksternal.

Spiritual leader mendefinisikan komunikasi adalah wujud nyata dari “kesatuan”. Spiritual leader selalu menciptakan dan mengutamakan semangat dan kesatuan. Apa maksudnya ya? 

Bagi seorang spiritual leader, praktik 4 hal berikut adalah upaya menciptakan semangat kesatuan dalam organisasi:
  1. keinginan untuk memastikan bahwa pesan-pesan yang ia sampaikan diterima dengan baik oleh SELURUH karyawan,
  2. keinginan untuk memastikan bahwa orang-orang MENGETAHUI APA YANG SEDANG BERLANGSUNG (terjadi) dalam organisasi,
  3. keinginan untuk memastikan bahwa orang-orang mengetahui informasi yang diperlukan untuk membuat pilihan keputusan atau kebijakan,
  4. keinginan untuk memastikan, bahwa karyawan tahu dan paham bahwa mereka sangat penting bagi perusahaan. Karena tahu bahwa mereka penting, maka mereka selalu berupaya memberi kontribusi yang baik bagi keberlangsungan fungsi-fungsi yang ada dalam organisasi mereka.
Pada saat 4 hal tersebut dijalankan oleh seorang spiritual leader, maka sebenarnya, ia sedang menciptakan semangat kebersatuan dalam organisasi/perusahaan.

Bagaimana praktiknya? Begini!

Ketika mengunjungi bagian produksi, seorang spiritual leader membawa berita dari bagian R&D (Research and Development) dan bagian Marketing. Ketika mengunjungi bagian expedisi, ia membawa berita dari bagian penjualan. Ketika mengunjungi bagian administrasi, ia mungkin membawa kabar tentang “perjuangan” dan “kemenangan”, yang harus dicatat.

Apapun yang ia bawa, pesan spiritualnya adalah “kita adalah satu”, “kita adalah tunggal”, “kita adalah tak terbagi”.

Apa yang dapat anda tangkap dari ilustrasi di atas? 

Ya! Seorang spiritual leader, selalu ingin memastikan bahwa para karyawan mengetahui apa yang sedang terjadi dalam organisasi mereka dan betapa diperlukannya kontribusi mereka terhadap keberlangsungan dan keberfungsian fungsi-fungsi dalam perusahaan.
Tetapi yang perlu diingat adalah bahwa semua itu dilakukan dengan tulus, tidak lips service, tidak jua pengenaan topeng.

Pengenaan topeng itu begini.
Anda, punya jadwal khusus pada hari jumat misalnya, untuk keliling pabrik/perusahaan. Anda turun ke lapangan menyapa para karyawan, menepuk pundak mereka hanya sebagai syarat, demi ingin dilihat bahwa anda memperhatikan mereka. Bagi anda jadwal berkunjung itu adalah sebuah ritual yang menyiksa, sebab yang ada dalam kepala anda adalah bagaimana agar ritual yang membosankan ini segera usai. Dengan demikian, anda bisa kembali ke ruangan mewah anda, duduk di atas kursi lux dan empuk, lalu menelpon seseorang dari zona nyaman anda itu.

Anda memang mengelilingi gedung diiringi oleh orang-orang yang patuh kepada anda. Anda juga tersenyum karena syarat wajibnya anda harus tersenyum. Lalu, beberapa karyawan berbisik “dia datang..! dia datang lagi...!” Beberapa lainnya sudah bersikap “ngapurancang” (bahasa Jawa: menyilangkan tangan di bawah pusarnya, sambil menunduk memberikan penghormatan). 

Tetapi sekali lagi!, pikiran dan hati anda tidak sedang bersama mereka! Anda bersikap ramah (seolah-olah anda mencintai mereka), hanya untuk menjaga bagaimana anda tidak menyinggung peasaan mereka. Padahal yang ada dalam kepala anda adalah “kapan aku segera dapat kembali ke ruanganku yang nyaman, tanpa ada yang menggangguku”.

Jadi bagaimana komunikasi yang baik?

Layaknya seorang kapten pesawat. Ingat-ingatlah cara kapten pesawat berkomunikasi. Ia mengenalkan dirinya dan memberitahu bahwa ada seorang yang lain yang duduk disampingnya. Suaranya penuh percaya diri dan mengalir lancar, memberitahu progress penerbangan, dimana kita berada, dipandang dari titik tujuan dan ia memberitahu perkiraan tiba di bandara tujuan. Kadang ia memperlihatkan hal-hal yang dapat kita saksikan sepanjang perjalanan, yang mungkin tidak pernah kita sadari, jika kita tidak diberi tahu. Kita bahkan mengetahui bagaimana laporan cuaca terkini di tempat tujuan kita. Jika ada masalah-masalah yang akan mempengaruhi kenyamanan perjalanan, kita akan diberitahu sebelum benar-benar terjadi. Ia mengajari kita bagaimana menjaga keselamatan diri sendiri selama turbulensi-turbulensi udara. Ia memastikan bahwa kita tahu kapan semua itu akan berakhir. Terkadang ia mengunjungi kabin penumpang, untuk bertatap muka dengan mereka, orang-orang yang mempercayainya dan boleh mendapat penghormatan ini di masa-masa yang akan datang. Sebuah model komunikasi yang layak diteladani!, demikian saya merujuk apa yang disampaikan Ian.

Hai! Larut? He..he....Itu tadi adalah soal komunikasi internal! Lantas, bagaimana dengan komunikasi eksternal?

Konsumen, dan mereka yang ada di luar organisasi anda terkait dengan komunikasi eksternal. Komunikasi ekternal adalah menyampaikan pesan keluar. Bangunlah rasa persaya diri yang kuat. Sampaikan pada lingkungan eksternal, bahwa seluruh perusahaan anda, bersatu dalam bergerak melayani mereka. 

Mendekatkan perusahaan dengan komunitas di sekitar (seperti sekolah, klub-klub dan institusi sosial) adalah salah satu bagian karakter dari spiritual leader. Bicaralah soal panggilan yang lebih tinggi (dari sekedar mengejar keuntungan komersial). Bicaralah dengan keluarga karyawan dan sampaikan betapa pentingnya peran dan dukungan mereka bagi perusahaan. Dan semua itu, lakukan dengan tulus.

Jadi apa intinya? Inti menjadi spiritual leadersip adalah kebutuhan untuk selalu menghubungkan suara dan sentuhan. 
Perusahaan yang hendak bertahan hidup di era kompetitif, sangat rindu mendengarkan suara sang pemimpin sembari merasakan “sentuhan”nya.

So? Telah kita selesaikan 30% yang kedua. Tunggu tulisan berikutnya!
Salam bahagia.

4 komentar:

  1. good point...
    makin menarik..
    komunikasi dalam organisasi dan pada sosok pemimpin memang elemen yang tidak bisa tidak harus dikuasai.
    perintah yang tidak jelas, informasi yang simpang siur hanya akan membuat organisasi jadi rapuh.
    satu hal yang masih ingin vitri ketahui lebih lanjut adalah bagaimana mengatur tingkat dan derajat penyampaian informasi (karena di dalam organisasi juga ada level-level tertentu dengan tingkat kemampuan serap informasi yang berbeda-beda). ada buku yang bisa direkomendasikan, bu? (enak lagi kalau sudah ada yang dalam bentuk audio ya biar bisa langsung didengarkan, hehehe)

    salam haus pengetahuan

    BalasHapus
  2. Dear Vitria :

    Itulah sebabnya dipercaya bahwa, management is not 100% pure science. Manajemen adalah gabungan, campuran, mixing, perpaduan antara science and art (ilmu pengetahuan dan seni).

    Mengatur tingkat/derajad penyampaian informasi, adalah persolan How artist and art you are,

    so akan ketemu dengan sendirinya seiring dengan pengalaman pembelajaran yg tak pernah henti.

    Makin sering dapat soal makin lihai/expert_lah anda menjadi seorang problem solver, makin kaya vocabulary solusinya.

    Lama kelamaan, dengan hanya melirik saja, sudah dapat meraba bagaiman harus menanganinya.

    So, management is art, lebih banyak digunakan untuk menangani problem yang terkait dengan perilaku SDM.

    sampuuun, thank you ~!

    BalasHapus
  3. ikutan nimbrung ya bu

    jadi penasaran nih untuk yang 20% & 20%nya lagi

    karena menurut saya, pemimpin yang baik "HARUS BISA" mengoyomi karyawan/bawahan. karena hidup matinya perusahaan ditangan mereka

    mudah-mudahan pendapat saya ini ada di 20nya itu..
    terima kasih...

    BalasHapus
  4. ARDI:

    Insyaallah...mudah-mudahan...

    Anyway thanks sudah membaca, saya akan segera selesaikan...

    BalasHapus