Kamis, 17 Maret 2011

Birrul Waalidain, Sisi Lain Praktik Self Leadership

Bacalah dengan nama Tuhanmu,___________ 
"Sebuah kapal yang berlabuh itu aman, tetapi bukan untuk itu kapal dibuat." (John C. Maxwell)
 
Dear pembelajar,__________ 
Banyak buku mengajarkan kiat sukses, tetapi satu hal yang mampu menarik hati saya untuk mendalaminya adalah faktor “ bhakti kepada orang tua”. Sebuah buku karakter building, pernah secara ekstrim menasehatkan kepada saya, agar mencuci kaki bunda saya dan meminum air bekas cuciannya. Kemudian, guru saya yang lain, mengajarkan agar saya menyukai menciumi kaki bunda saya, memohon maaf dan meminta restu dalam menjalani hari-hari.
Pada saat yang lain, saya memperhatikan kehidupan seorang kawan. Ia termasuk orang sukses yang rendah hati. Minimal, di mata saya dan kawan-kawan dekat. Saya pun iseng bertanya tentang rahasia suksesnya. Ia berkisah, bahwa, meminta maaf, meminta restu, mencium dan mencuci kaki bundanya, kemudian menggunakan air bekas cucian itu untuk keramas, adalah kegiatan rutin yang dilakukan setiap kali pulang kampung. Pada saat yang lain lagi, saya menyaksikan tingkah laku seorang artis belia. Ia juga masuk dalam kategori sukses. Mencuci kaki bundanya pada dini hari, tepat pada perayaan ulang tahunnya, rupanya juga menjadi habit (kebiasaan) baginya.
 
Saya tidak berceramah, tetapi saya sedang ingin berbagi. Jika sebelumnya, apa yang saya tulis tentang formula kepemimpinan yang 30/30/20/20 itu menginspirasi kita soal bagaimana bertindak dan memimpin orang lain, maka sekarang ini saya sedang ingin berbicara tentang self leadership, kepemimpinan diri.

Salah satu praktik memimpin diri adalah berupaya melembutkan dan melunakkan segala bentuk rigiditas (kekakuan) yang terdapat dalam diri. Apapun itu, rigiditas otak dan pemikiran, rigiditas hati, rigiditas kepala beserta isinya, rigiditas tubuh secara fisik, pokoknya, semua bentuk kekakuan.
 
Bersujud, mencium kaki bunda/orang tua, meminta maaf, meminta restu, merendahkan diri dan hati secara menyeluruh (totally), adalah sebuah praktik meniti jalan kesuksesan. Sukses memimpin diri yang rigid akibat kontaminasi banyak faktor diluar diri.
 
Bukan me_nuhan_kan orang tua, akan tetapi jauh lebih substantif adalah bentuk implementasi  konsepsi “birrul waalidain" (berbakti kepada orang tua). Itu adalah bunyi sebuah hadist, yang saya sangat tertarik untuk merenungkannya. Bunyi lengkapnya begini, “Ridho Allah terletak pada ridho orang tua dan murka Allah terletak pada murka orang tua.” (HR At Tirmidzi)

Seandainya, saya tidak bertemu melalui face book dengan salah seorang alumni, yang sekarang ini sudah berhasil menjadi “orang”, mungkin tulisan ini belum akan sampai kepada anda.  Ia adalah sosok yang meyakini bahwa birrul waalidain, mampu membantunya mengatasi segala macam persoalan, hidup dan karir.

Kebenaran hadist itu diyakini kaum muslim, namun saya juga sangat yakin bahwa dalam kacamata pluralis dan penganut universalitas, birrul waalidain (berbakti kepada orangtua) adalah juga merupakan sebuah keniscayaan dalam perjalanan merintis kesuksesan.

Inilah dialog saya dengan seorang alumni itu dengan segenap pengakuannya. A adalah kependekan dari alumni, dan S adalah saya.

A (menyapa) :

Pagi, mom....
 
S          : 
Pagi, apa kabar?
 
A         : 
Alhamdulillah semuanya lancar..
 
S          : 
Saya boleh nanya nggak? Untuk acuan adik kelas. Berapa gaji yang wajar, yang boleh diminta oleh fresh graduate/sarjana baru?
 
A         : 
Kalau di tempat saya 2 jt.
 
S          : 
Baru ya? Wah lebih bagus dong dibanding berita di Surabaya. Di Surabaya kok beritanya malah 1,3 sampai 1,5, untuk fresh graduate ?
 
A         : 
Ini ditempat saya 4 bln yg lalu ada anak baru 3 orang, jaman saya dulu , ketika baru masuk, malah digaji 400 rb, kan saya masuknya masih belum wisuda bu...

S          : 
He..he..he, jadi, omong-omong sekarang sudah kepala berapa?

A         : 
Ha ha ha ibu mo tahu aja malu gitu lho.......
 
S          : 
Ya nda apa-apa to? wong saya juga nda minta kok, ini kan penting untuk adik-adik anda, apa yang harus dilakukan untuk masuk dunia kerja dan apa yang harus dipersiapkan oleh mereka..

A         : 
Ha...ha.. ini mulai ..leadership n kedosenannya muncul kepermukaan ha ha ha....

S          : 
Iyalah, apa yang bisa saya berikan untuk mereka, saya berikan. Mahasiswa banyak membantu saya dalam berbagai hal. Mereka membantu tumbuh kembang saya. Ketika mereka bosan, sy berpikir keras harus cari model lain. Ketika mereka lelah, sy harus nemu desain perkuliahan yg tidak melelahkan mereka. Ketika mereka mbolosan, sy bisa membuat buku ajar untuk membantu mereka belajar di rumah. Ketika mereka terhalang ke kampus karena pekerjaan atau alasan apapun, saya sediakan komunikasi pembelajaran melalui www.papanputih.com. Semua karya saya adalah karya mahasiswa, bersumber dari mereka. Mereka itu motivator dan fasilitator saya. Hampir Setiap judul artikel yg saya buat , terinspirasi dari tingkah mahasiswa dan keingintahuan mereka.

A         ; 
Wuiiiih... aku jadi kangen bu ... pingin diajar lagi kalau aku ke Sby boleh mampir ke kampus ya bu .. ibu ngajar siang pa malam? eh sorry yang tadi belum aku jawab , ok deh aku nggak bisa bohong sama ibu. Bener! Aku memang diajari oleh ortu, bahwa guru itu, ampe mati nggak ada istilahnya bekas guru jadi hrs tetep dihormati. Alhamdulilah bu, gaji aku sekarang udah kepala 6 bu....

S          : 
Saya senang mendengar kabar anda...he hee...dosenne masih jauh dibawah itu, alumninya sudah kepala 6, hebat! Saya seneng mendengarnya. Pasti saya akan mengabarkan ini pada adik-adik anda. So kasih tahu saya, apa yang sudah anda lakukan untuk melengkapi keberadaan ijasah sarjana itu? pasti ijasah saja tidak cukup kan? Jadi apa? Tolong kasih tahu saya. ini akan jadi masukan bagi adik-adik anda.
 
A         :
Sebenarnya sih nggak ada yg lain ya bu tapi mugkin kerja keras dan pantang menyerah. Disamping, mungkin juga nasib ya bu...tetapi menurut saya, yang paling penting adalah do’a dan restu orang tua. Maaf ya bu jadi nostalgia nih.. ak dulu kuliah 4 tahun itu, ortu nggak tahu sama sekali bagaimana caranya aku kuliah dan bagaimana aku harus bayar uang kuliah. Tahu-tahu beliau saya ajak datang saat wisuda. Beliau nangis di gedung juang 45 sepanjang acara wisuda . Ibu mungkin lupa, aku dulu selalu pakai sepeda pancal kalau kuliah. Aku kerja di perusahaan mebel siang hari dan sorenya kuliah. Jadi berangkat langsung sepulang kerja dari tanjung Sari ke kampus. Aku ngga pernah sempat belajar. Tetapi setiap mo UTS/UAS, aku kirim surat ke ibu di desa dan minta doanya dan itu bisa ngerjakan meski masih nanya kanan kiri gitu. Dari SMA saya suka berorganisasi. Saya belajar kepemimpinan dari sana. Ini terbawa ketika saya bekerja, jadi mungkin perusahaan saya lihatnya dari sana bu....Sekarang aku pingin sekali bisa bahasa inggris bu. Sering ada tamu dari luar, aku malu bahasa Inggrisku masih belepotan. Mohon di bantu ya bu....eh kalo boleh tahu alamat ibu di mana? Saya pingin sowan kesana ama keluarga, kalau boleh siiih ...ntar aku bawain hasil kebun dari desa....

S          :
Saya punya fb group, Healty English Community, nanti saya ajak gabung. Mau belajar gimana, apa punya waktu? Kalau on line bagaimana?

A         :
Iya susah juga ya? Kan saya bisanya ol kalau di kantor aja. Di rumah nggak ada WIFI. Ndak papa bu, ntar saya tak sering2 buka www.papanputih.com, punya ibu. Kan di situ ada English nya juga...

S          :
Memang kebun kamu panen apa? mangga or durian he..he? jagung? padi? salak/ rambutan? he..he

A         :
yg disebutin ibu ada semua ...tahun ini aku udah mulai panen. Ada salak bu, insyaallah, dua bulan lagi panen. Aku tanam 1500 pohon salak, 30 pohon durian, 50 pohon rambutan. Jadi, ibu silahkan ke Trawas. Nanti kalau lagi musim, ibu boleh memetik sendiri di kebun. Ibu boleh datang ke Trawas bersama keluarga atau teman-teman. Kalau mau nginap, di rumah ada tempat bu, bener! Saya pamit dulu bu, waktunya makan siang. Salam buat semuanya.
 
S      : 
ok thanks and good luck!

Jujur, saya bahagia mendengar kabar tentangnya.  Yang menarik adalah tentang bagaimana ia mengatur keselarasan (harmony) dalam kepemimpinannya.Bagi saya, ia seorang praktisi self leadership. Perhatikan, bahwa ia juga berkebun. Berkebun adalah praktik penciptaan sebuah harmoni. Bersahabat , memperhatikan dan hidup berdampingan dengan makhluk Allah yang lain, yaitu tumbuh-tumbuhan adalah upaya mencapai keselarasan yang tentu saja merupakan perintahNya. Semoga ia tetap menjaga semuanya. 

2 komentar:

  1. A yang inspiratif...

    S yang amazing...


    salutttttttt..

    BalasHapus
  2. thanx mom.....
    waduh jadi malu nih....
    tp ak slalu mhon bimb n wejangan dari ibu, sebab bagaimanapun pemikiran anak muda jauh dari sempurna di banding dg pemikiran orang tua yg sdh kenyang makan asam garam kehidupan apalagi beliau "S".. seorang pengajar. tanpa memandang disiplin ilmu yg diajarkan..
    sy siap berbagi pengalaman jika itu emang berguna dan ada manfaatnya.....

    BalasHapus