Selasa, 15 Februari 2011

Mengapa ya namanya kok Mahasiswa........

Bacalah dengan nama Tuhanmu,_____________
"Kalau dalam beberapa tahun terakhir anda belum membuang suatu pendapat, ataupun belum menemukan satu pun pendapat baru, periksalah denyut nadi anda. Jangan-jangan anda sudah mati." (Gelett Burgess)

Dear pembelajar,____________
Kenapa ya namanya kok MAHASISWA....
Pertanyaan itu saya temukan pada suatu ketika, dalam sebuah status di face book. Saya ingin mengatakan kepada anda, bahwa ini menarik. Tanda-tanda kemenarikannya adalah ia mampu menggelisahkan saya. untuk mencari jawabannya. He..he..biasanya memang demikian...
Bayangkan! Meskipun saya, telah mengubah dan membalik wacana, “siapa guru siapa murid”, tetap saja tidak mampu mengenyahkan persepsi para orang-orang kampus tentang siapa dosen dan siapa mahasiswa. Yang mengajar tetap saja disebut dan bangga menyebut dirinya sebagai dosen. Yang kuliah tetap disebut dan menyebut dirinya sebagai mahasiswa.

Pertanyaan menarik itu dimulai dengan kenapa, meskipun saya tahu bahwa maksudnya adalah mengapa. Dan seperti biasanya, saya selalu terusik jika ada pertanyaan yang dimulai dengan kata mengapa, apalagi jika saya tak mampu menjawabnya. Ini benar-benar konyol! 

Sebab, saya yang tiap hari berhadap-hadapan dengan mahasiswa, tidak mampu menjawab mengapa harus disebut mahasiswa. Coba kita tengok istilah yang digunakan dunia internasional, sebagaimana yang dipertanyakan oleh peng_up date status. Dari primary, hingga college atau university, yang belajar secara formal maupun informal, mereka toh tak pernah disebut sebagai super student, mereka selalu disebut student.    

Sepengetahuan saya, istilah mahasiswa adalah “given”, sudah dari sononya dan tak perlu dipertanyakan. Bahwa setelah mereka keluar dari SLTA, maka mereka tak lagi disebut sebagai siswa, tetapi mahasiswa. Mahasiswa adalah mahanya siswa Oleh karenanya, mereka harus menanggalkan seluruh atribut sifat kekanak-kanakan dan keremajaannya. Mereka harus berfikir matang dan belajar lebih dewasa. Sebutan mahasiswa dianugerahkan (secara given) kepada mereka yang sedang belajar dari tingkat diploma hingga doktoral. Setidaknya, itu yang pernah saya terima dari dosen saya dulu, he..he...

Tetapi bukan itu persoalannya. Soal “mengapa” nya itu lho! Mengapa kok Mahasiswa? Mbok, jangan digunakan kata Maha. Maha itu kan cuma boleh untuk Tuhan. Bukankah hanya Tuhan pemilik sifat ke_MAHA_an itu? Seperti misalnya, Maha Besar, Maha Memiliki, Maha Memaafkan, Maha Memberi dan sebagainya? Demikian, kelanjutan status facebook_nya.

Memang ada salah satu komentar yang menjelaskan bahwa boleh-boleh saja menggunakan sebutan mahasiswa, sebab Tuhan bukanlah siswa. Tuhan tidak pernah dan tidak mungkin menjadi siswa. Jadi, jangan khawatir Tuhan  akan marah soal ini. Namun demikian, ini tampak belum memuaskannya. Baginya, Maha tetap hanyalah sifat milik Tuhan.

Entahlah......yang jelas makin ke sini, semua semakin Maha saja. Super sudah tidak lagi menarik. Manusia makin ingin menjadikan dirinya sebagai sosok yang tak ada tandingan. Oleh karenanya, dipilihlah kata yang itu kemudian, bisa menjadikannya sebagai Raja dan Ratu yang tak tertandingi. Lihatlah program televisi seperti MahaKarya, Maha Dahsyat.....

Jika manusia sudah ingin menyamakan dirinya dengan Tuhan, maka apalagi yang bisa kita lakukan selain menunggu dan mengalami pertunjukan-pertunjukan yang sedang dan akan diciptakan oleh sang Maha.

Dan, anda mahasiswa, maukah kalian disebut dan menyebut diri sebagai siswa atau murid saja? Belum tentu! Sebab itu adalah soal status! Status itu penting! Dengan menyandang status Mahasiswa, anda mempunyai nilai yang lebih tinggi dari yang didapatkan oleh para siswa/murid. Ia (status Mahasiswa) itu, meninggikan level seseorang. Lebih dari sekedar murid. .

Semur hidup, belum pernah ada seorang pun yang mempersoalkan sebutan mahasiswa itu kepada diri saya. Parahnya, yang tadi saya ceritakan sebagai peng_up date status adalah anak saya sendiri. Tetapi selain ia adalah anak saya, ia juga salah satu guru saya yang mengajari saya mencari jawaban setiap pertanyaan yang dimulai dengan kata mengapa.

Mengapa harus mahasiwa? mengapa kok bukan supersiswa saja? Atau seperti dunia internasional, menyebut semua yang sedang belajar sebagai murid/siswa/student

Maksimal, yang bisa saya jawab adalah, “  mohon maaf, ini sudah terlanjur dan turun temurun adanya, tetapi saya janji akan menanyakannya kepada yang bersangkutan, apakah beliau-beliau berkenan menanggalkan status itu...” Siapakah yang bersangkutan itu? Ya, Anda yang sedang membaca tulisan saya ini.
Salam bahagia,
CATATAN :
Kini BUKU Melawan Hantu Bernama Skrispsi, dapat DIPEROLEH LANGSUNG dengan HANYA Rp 50.000,- (lima puluh ribu rupiah).
Harga sudah termasuk:
  1. ONGKOS KIRIM dari Kantor Surabaya ke SELURUH WILAYAH Indonesia, 
  2. Konnsultasi Gratis Kegalauan Soal Skripsi yang meliputi judul/Topik, penentuan masalah penelitian, variabel penelitian, dan metoda/pendekatan yang digunakan dalam analisis (BUKAN jasa pengolahan data),
  3. Konsultasi dilakukan melalui Chatting  FB http://www.facebook.com/groups/skripsicepat/
Kontak via SMS: 0878 5320 1968

7 komentar:

  1. wah wah jawabannya begitu to buk.
    Saya sampe kebingungan jawab waktu ditanyai si empunya status facebook hehehe

    BalasHapus
  2. Iya Ca, nunggu ketemu mahasiswanya...

    BalasHapus
  3. wah..wah.. menarik sekali, bu. pertanyaan ini ringan tapi mampu membuat seseorang yang senang berpikir dan mengutak-atik mengesampingkan kegiatannya untuk mencermati dan memikirkannya lebih jauh.

    mahasiswa.. jadi secara pikiran polos terdiri dari dua kata, yaitu maha dan siswa..

    Nah, jika mungkin ibu dan teman-teman lain mencoba mengartikannya sebagai siswa yang maha sehingga statusnya lebih tinggi, koq saya jadi punya pikiran sebaliknya ya?

    Seorang siswa (dalam konteks indonesia adalah murid PG,TK,SD hingga SMA) adalah seorang yang membutuhkan dan mendapatkan bimbingan dari gurunya. Nah, jika kemudian atribut siswa ini ditambah dengan kata maha di depannya, maka pengertiannya menjadi sangat luar biasa.. Dengan memakai atribut mahasiswa (seperti yang sekarang terjadi pada saya), yang terjadi adalah saya bukanlah lebih super daripada yang sekedar siswa. Justru sebaliknya..

    Sebagai mahasiswa, tandanya seorang siswa menjadi lebih rendah lagi derajatnya. Maksudnya, posisi seseorang seharusnya disertai dengan kesadaran bahwa ia adalah orang yang benar-benar haus akan bimbingan dan ajaran serta pengetahuan. Jika siswa SD hingga SMA sering kali dipaksakan oleh sistem (seperti program wajib belajar) dan juga tuntutan orang tua agar anaknya bersiap jadi "orang", maka ketika seseorang masuk ke dunia perkuliahan dan menyandang status sebagai mahasiswa, dia seharusnya benar-benar sadar bahwa dirinya memang tidak tahu apa-apa. Dan secara sadar diri, rendah hati untuk menimba, mengumpulkan dan mengembangkan ilmu yang secara teknis disediakan oleh para dosen dan tempat belajar.

    Jadi kalo menurut vitri nih, seharusnya yang jadi mahasiswa jangan tinggi hati dan merasa "jumawa". Lha wong mahasiswa itu berarti ia sadar kalo masih merupakan orang yang bodoh sehingga butuh belajar..

    Demikian menurut saya. Bagaimana menurut ibu dan teman sekalian?

    BalasHapus
  4. @ Vitria,


    Hi !!! I've got the answer now, I thank you so much. I sounds reasonable.

    Oh God,thank you for sending Vitria to explain the problem that has made me confused.

    I guess you're right, I do agree. I'll tell my son, soon and of course "the students"

    Thanks again ! Just keep making progress, everyday.

    BalasHapus
  5. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  6. you are most wellcome...

    Mari terus berkembang bersama..

    Salam hangat

    BalasHapus
  7. sebutan yang kadang gag sesuai dengan sebenarnya...
    tidak sedikit yang disebut mahasiswa,tapi kelakuan tetep saja seperti siswa/murid...

    BalasHapus