Senin, 21 Februari 2011

Jika Melihat Ular dalam Organisasi....

Bacalah dengan nama Tuhanmu,_______________
“Lahan yang paling suburpun, jika tak dikembangkan, ia akan menghasilkan ilalang yang terburuk”. (Plutarch)

Dear pembelajar,_________________
Ular? Mengapa bisa ular yang menjadi topik pembicaraan/judul artikel saya hari ini? 

He..he.. Anda pasti bertanya-tanya. Ada ular dalam organisasi? Ya! Jika tidak memperhatikan, memang kita tidak dapat melihatnya, karena kadang ia “ghoib” (tak nyata). Bagi anda yang memiliki kepekaan, anda dapat dengan cepat merasakan kehadiran ular di sekeliling anda...

Ceritanya begini. Seperti biasa, lagi-lagi, saya terinspirasi oleh up date status face book seorang kawan, sekaligus guru saya. Begini bunyi statusnya, “ enakan mana memelihara ular atau digigit ular?” Saya respon singkat saja : “enakan digigit ular”, he..he...

Saya tahu, status itu erepresentasikan kegundahannya yang "masih", dideritanya. Sebab, beberapa saat yang lalu, kami  pernah membicarakannya secara personal. Ya! Tantang Ular, tentu saja!

Tentang pilihan antara memelihara dan digigit ular. Bahkan selang beberapa hari pembicaraan kami itu, ada dua kasus lain yang kebetulan sekali, sama-sama ularnya, yang dimintakan advisnya kepada saya melalui alamat email saya. 

Hmm...sama-sama ular! Ternyata ada banyak ular dalam organisasi. Itulah yang mendorong kuat keinginan saya untuk mengangkat ini ke permukaan halaman www.papanputih.com, ini.

Ular adalah imajinasi saya tentang ketidakjujuran (unfairness) dalam organisasi. Ada kecurangan-kecurangan berupa catatan-catatan dan pelaporan, ada kecurangan berupa tindakan, ada kecurangan berupa pengkhianatan, ada kecurangan berupa pencurian-pencurian, ada kecurangan disertai dengan ancaman jika melapor, ada penggerogotan kekayaan organisasi, ada perongrongan kepemimpinan, ada provokasi yang buruk, ada usaha promosi diri yang buruk, ada penjegal, ada “pengathok” (bahasa Jawa, maaf, artinya orang yang suka bermanis dihadapan pimpinan, mendukung mereka secara tidak tulus dibarengi dengan menginjak orang lain), ada pecundang, dan ada ular-ular dalam organisasi anda saat ini. 

Itu bukan hanya terjadi dan dilakukan oleh para karyawan atau kawan anda selevel, tetapi bisa jadi juga oleh level supervisor, atau level management di atas anda.

Lantas, apa yang dapat kita lakukan jika kita melihat ular? Meniadakan! Mengusir dan Membunuh. Begitu sadiskah? No! Mengapa? Meniadakan, mengusir dan membunuh itu harus dilakukan dengan cara yang tepat. Mengapa ular harus dienyahkan? 

Okey, I answer your question with question !

Saya balik bertanya, apakah anda akan bersedia bekerja dalam kegelisahan, ketakutan dan kekahawatiran berkepanjangan? Hanya untuk menunggu sebuah moment penting, saat dia, sang ular, menggigit anda dan seluruh isi organisasi anda menderita keracunan akibat “bisa” nya?

Jadi enakan mana memelihara ular atau "menunggu saat-saat" digigit ular? 

Jadi, persoalan anda bukan di ATAU, tetapi adalah pada sebuah keberanian dan ketegasan. Dan ini, tentu saja  adalah pilihan.

Keterbukaan dan kejujuran (fairness&honesty) adalah ruh atau nyawa dalam organisasi. Jika itu tidak ada, maka organisasi dalam keadaan sakharatul maut. Dan yang namanya sakaratul maut dalam organisasi, bukan hanya sehari dua hari, seminggu dua minggu, sebulan dua bulan. Bisa mencapai satu hingga lima tahun, dan kemudian mati.

Lantas, sebagai pimpinan atau orang yang kebetulan sedang dipercaya memimpin, apa yang harus saya lakukan, dong? Itu mungkin pertanyaan anda saat ini.

Nah, catatan statement inspiratif dari John C. Maxwell berikut, mungkin ada benarnya: 

“ Orang akan bekerja 8 jam sehari hanya untuk mendapatkan upah, 10 jam sehari untuk boss yang baik, dan 24 jam sehari untuk tujuan yang baik/mulia”.

Maka, perhatikan sekitar anda. Perhatikan tujuan bersama anda! Bila perlu tanyakan ulang tujuan dari orang-orang sekeliling anda. Apakah setiap mereka benar-benar mempunyai tujuan yang baik, sehingga motivasi kerja mereka bukannya upah dan keinginan untuk membalas budi baik anda, tetapi jauh lebih mulia dari itu. Yaitu: mencapai tujuan pribadi (yang baik). 

Orang yang memiliki tujuan pribadi yang baik dan mulia, tak ada alasan bagi anda untuk meragukan kesetiaannya dalam upaya mencapai tujuan bersama organisasi anda.

Salam sukses dan bahagia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar