Sabtu, 29 Januari 2011

PRODUK ITU.....

Bacalah dengan nama Tuhanmu,______
"Begitu anda berhenti belajar, maka anda tidak lagi memimpin" (Rick Warren).

Dear pembelajar,_______
Sedikit berbagi. Mahasiswa saya adalah mahasiswa yang selalu mempunyai arti bagi saya, sebab bahagianya, sedihnya, pusingnya (karena terlalu banyak tugas), tingkahnya, perilakunya selalu menginspirasi dan menantang saya untuk menjadi lebih kreatif dan produktif. Mereka, saya akui, very unique. Mau tahu keunikan mereka?
Konon, adalah seorang Philip Kotler. Ia dikenal sebagai “bapak” pemasaran di dunia. Boleh dikata, tak ada pembelajar manajemen/bisnis yang tak kenal dia. Sebab, hampir setiap perguruan tinggi di Indonesia tunduk dan mewajibkan mahasiswanya untuk merujuk text book_nya. Text book_nya, sangat-sangat tebal. Salah satu bukunya berjudul Marketing Management (international edition). Tebalnya lebih dari tujuh ratus halaman. Ini masih bahasa aslinya, lho!!! Anda bayangkan akan menjadi berapa halaman ketika buku teks tersebut diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.

Suatu ketika berita tentang buku rujukan itu saya sampaikan. Mereka merespon dengan mengernyitkan dahi. Satu hal yang lebih mengejutkan, ketika suatu saat saya membawa dan menunjukkannya di depan kelas. Diluar dugaan saya. Dahi mereka jauh lebih mengernyit, malah sambil membelalakkan mata. Serentak mereka merespon “...hah..???” Sontak, kelas menjadi riuh rendah dan super gaduh.

Sejak itu, saya boleh dibilang ‘kapok’. Saya tak pernah lagi membawa buku tebal ke kampus, apalagi ke dalam kelas. Sebab, oleh mahasiswa saya yang very unique itu, buku tebal adalah ‘momok’.

Jelas, saya tidak mau membawa momok masuk ke dalam kelas. Sebab, bagi saya, kelas pembelajaran itu harus menggembitrakan. Membuat mereka merasa nyaman, bahagia dan tidak terancam oleh hal-hal yang sulit dan menyulitkan. Tak heran, banyak orang kemudian menjadi stress. (di dunia ini terlalu banyak pecinta kompleksitas, nanti hal ini saya tulis untuk anda!)

Sebuah kelas pembelajaran harus terkondisi dalam keadaan ‘alpha’ (sangat tenang). Sehingga mahasiswa dapat terstimulasi daya kreasi dan imajinya. Dengan demikian, tatap muka akan menjadi sebuah momen yang mengesankan (dan oleh karenanya, dirindukan).

Itu hanyalah sebuah intermeso. Hari ini, kita belajar tentang definisi produk. Saya juga ingin mengatakan bahwa layanan tatap muka itu adalah bagian dari produk saya. Saya pun juga merupakan produk.  Siapa konsumennya? Mahasiswa adalah konsumen saya.

Saya membayangkan sebuah keadaan, seandainya tak ada lagi mahasiswa yang mau hadir di kelas mengikuti pembelajaran mata kuliah saya. Saya pasti bertanya-tanya, “ada apa dengan saya”. Ini mungkin tidak berlaku bagi para pendidik yang rigid, kaku dan ke PD an, bahwa mahasiswanya mencintainya. Sehingga, dengan berlindung dibawah “aturan kehadiran di kelas”, sang dosen mampu “menyiksa” mahasiswa di dalam kelas. Bahkan berapa kali tatap muka yang harus diikuti pun di atur. Kalau tidak, maka mereka tak boleh ikut ujian. Bagi saya, ini adalah pemaksaan. (Kita sudah membahas ini dalam topik perhentian-perhentian, di MK Perilaku Organisasi)

Jika mau sadar akan nilai-nilai profesionalisme yang sesungguhnya, para dosen dapat menerapkan ilmu pemasaran. Sebagai pemasar produk, (layanan) , mereka akan berusaha mendapatkan “simpati” konsumen dengan cara yang benar. Harus fair, berani melepaskan diri dari tindakan pemaksaan melalui ancaman sebuah daftar hadir. Persis, produk yang menarik konsumen, akan diminati.

Kelas pembelajaran yang menyenangkan (dan bermakna tentunya), akan dirindukan oleh mahasiswa yang dahaga akan ilmu pengetahuan. Tanpa campur tangan daftar kehadiran, sama sekali. Tetapi, itu adalah pendapat saya.
Kita simak definisi produk. Tidak perlu khawatir! Saya sudah mencatatkan untuk anda apa yang digagas Kotler tentang produk.

“A product is any offering that can satisfy a need or want” (2000).

Produk adalah tawaran apapun. Segala tawaran, apapun itu, yang dapat memuaskan kebutuhan dan keinginan (konsumen) boleh disebut sebagai produk. Apapun? Ya! Apapun itu.

Produk dapat saja berupa barang (fisik), jasa, pengalaman, peristiwa, orang, properti, organisasi maupun informasi. Semua itu adalah produk. Semua itu ada pasarnya, ada pembelinya, ada konsumennya. Semua itu dapat ditawarkan kepada pasar/konsumen/pembeli.

Contoh produk fisik adalah apapun yang berwujud, seperti televisi, sepeda motor, kosmetik, dll. Perbankan, asuransi jiwa, kesehatan, kebakaran, konsultan bisnis, dll merupakan contoh jasa.

Ketika anda mempunyai pengalaman, lalu anda tulis dalam bentuk novel, ia akan menjadi sebuah produk.

Peristiwa demo mahasiswa atas kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat, bagi media adalah sebuah produk berita yang mempunyai nilai jual. Ruko dan permukiman adalah contoh produk properti.

Partai politik adalah produk (DPR) dengan merek berbeda-beda. Ada demokrat, PDIP, Golkar, PAN, PKB, PPP, Hanura, dll. Mereka saling bersaing “menjual diri”, ketika pilleg (pemilihan anggota legislatif).

Beberapa televisi menyajikan breaking news selama detik-detik meletusnya merapi dan detik-detik penyergapan teroris. Apa yang media jual? Informasi bukan? Informasi adalah juga produk.

Nah, sekarang, apa yang belum disebutkan? Tepat ! “Orang” ! Bagaimana bisa orang pun dikatakan sebagai produk? Jadi, anda dan saya adalah juga produk? Yang bisa memiliki nilai jual? Ya! Orang memiliki atribut-atribut. Dengan segenap atribut yang dimiliki, dari ujung rambut hingga ujung kaki, ia dapat menentukan harga jualnya sendiri.

Ketika anda melamar pekerjaan maupun menghendaki karir anda meningkat atau ingin dipromosikan, maka apa yang anda lakukan?
Berusaha memenuhi kualifikasi bukan? Anda (dengan ijazah, kepintaran, skill, kemampuan, kompetensi, kecantikan, ketampanan, kemampuan berkomunikasi, kemampuan komputer, kemampuan berbahasa asing, kemampuan analisis, dsb), akan menentukan harga anda, akan menentukan berapa layaknya anda dibayar. Berusaha memenuhi kualifikasi inilah yang dimaksud memenuhi need dan want dari pembeli/pasar/konsumen. Perusahaan adalah konsumen anda. Dan anda adalah produknya. Pikirkan jika anda merindukan naik karir atau jabatan. Para pimpinan dan rekan kerja anda adalah “konsumen”, yang dapat mempengaruhi penilaian diri anda. Pimpinan memiliki standar penilaian kinerja anda, sedang rekan kerja anda pun boleh jadi diminta pendapatnya tentang perilaku kerja dan kinerja anda. Anda dengan segenap kinerja anda adalah produk, sedang pimpinan dan rekan kerja anda adalah konsumen.

Jadi , renungkanlah sekarang bagaimana anda kemudian dapat memasarkan diri anda, sehingga dapat memenuhi need dan want pengguna anda, karena ini sangat-sangat-sangat penting.

Salam
CATATAN :
Kini BUKU Melawan Hantu Bernama Skrispsi, dapat DIPEROLEH LANGSUNG dengan HANYA Rp 50.000,- (lima puluh ribu rupiah).
Harga sudah termasuk:
  1. ONGKOS KIRIM dari Kantor Surabaya ke SELURUH WILAYAH Indonesia, 
  2. Konnsultasi Gratis Kegalauan Soal Skripsi yang meliputi judul/Topik, penentuan masalah penelitian, variabel penelitian, dan metoda/pendekatan yang digunakan dalam analisis (BUKAN jasa pengolahan data),
  3. Konsultasi dilakukan melalui Chatting  FB http://www.facebook.com/groups/skripsicepat/
Kontak via SMS: 0878 5320 1968

9 komentar:

  1. dear
    ibu Aridha

    terkadang, dalam dunia persaingan yang sangat - sangat ketat, kita harus melakukan berbagai cara untuk tetap dapat mempetahankan dan bahkan harus tetap membuat perbaikan untuk penjualan suatu produk,

    nah bagaimanakah menjual produk yang kita jual dengan tidak menggunakan produk itu sendiri bu? selain pelayanan yang memang harus kita berikan secara maksimal.

    terimakasih,
    nukeu

    BalasHapus
  2. @dear Nukeu:

    start to start ha..? he..he
    soal persaingan sangat sangat ketat, sekarang ini bukan lagi sekedar "terkadang", tapi setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik.

    menjual sesuatu tanpa menggunakan/mengkonsumsinya?
    apa yang kita jual hendaknya baik/bermanfaat untuk orang yang kita harapkan mengkonsumsinya. untuk itulah konsep pemasaran adalah meet/match needs and wants dari pasar.

    bahkan bukan sekedar meet/match, tapi exeed (melampaui).
    pasar sekarang ini bersifat skeptis, ingin pembuktian, bahkan secara fisik.

    jika produk itu untuk consumer market, maka "kita menggunakan/mengkonsumsi" adalah sebuah keniscayaan. (seharusnya dilakukan).

    Jika produk itu untuk organizational market, maka anda bisa cara meyakinkan bahwa organisasi lain jg menggunakannya.

    jika pengguna produk adalah tumbuhan/binatang, maka yang diyakinkan adalah calon pembeli/manusianya. kita tak perlu mengkonsumsi produk itu, tapi kita punya pembuktian bahwa itu efektiv untuk tumbuhan/binatang, kita juga butuh testimoni dari mereka yg telah menggunakannya.

    Pertanyaan saya berikutnya:
    Mengapa para penjual ini tidak mau menggunakan produk yang mereka jual? Ini yang harus dijawab dulu, okey?

    BalasHapus
  3. villy artomoro2 Mei 2011 19.49

    NAMA : VILLY ARTOMORO

    Dear.. Bu Aridha

    Merk menjadi acuan perilaku sebagian besar konsumen Indonesia dalam banyak produk. Merk dengan nama asing memberi persepsi barang berkualitas karena seperti berasal dari luar negeri (barang impor). Apa yang seharusnya dapat dilakukan oleh pengrajin tas kulit di Tajur dan Tanggulangin atau pengrajin sepatu dari Cibaduyut atau produsen garmen di Tangerang agar produk-produk buatan mereka dengan nama Indonesia dapat bersaing di pasar?

    BalasHapus
  4. ludfy dianurianto2 Mei 2011 19.54

    Jika merk yang populer ternyata belum tentu dikonsumsi dan merk yang tidak populer malah yang dikonsumsi, strategi pemasaran apalagi yang harus dilakukan agar merk yang populerlah yang tetap dikonsumsi?

    BalasHapus
  5. Rini Widayanti3 Mei 2011 13.11

    Dear Bu. Aridha

    Jika permintaan negatif, dimana sebagian terbesar dari segmen pasar potensial yang penting, tidak menyukai produk / jasa yang ditawarkan bahkan mereka bersedia membayar untuk menghindarinya contoh vaksetomi.
    Bagaimana kita membuat keputusan. Apakah mengganti produk/ memperbaiki produk tersebut?

    Salam,
    Rini Widayanti

    BalasHapus
  6. saya belum lama ini membuka usaha bimbel dan privat dan masih mempelajari kiat2 market yg efektif dalam pemasarannya. mohon petunjuk kiat2 market lain spesifikasi bidang usaha jasa bimbel dan privatnya bu, thanks, Mujiati

    BalasHapus
  7. @ Mujiati
    terima kasih kunjungannya, saya tidak bisa menjawab pada kolom komen ini, tetapi saya pastikan kita harus berdiskusi.
    please add YM saya:

    prassetyaaridha@ymail.com (prassetya double 's')

    nah, hasil diskusi itulah nantinya bisa saya angkat sebagai tulisan, sebab ini sangat mungkin bersifat "kasuistik"

    salam bahagia

    BalasHapus
  8. BU Mohon ijin saya telah me ADD Ym IBU,,,biar bisa ikut berdiskusi dengan ibu..thank's before

    BalasHapus
  9. Bu, bagaimana dapat meningkatkan volume penjualan dimana produk ini masih belum begitu dikenal dalam masyarakat umum,,??
    Padahal Produk tersebut (misal:makanan) masih sangat alami dan higienis dalam pembuatannya (tanpa pengawet, seperti yang saat ini marak).
    ~ thank's ~

    Ayunda/smt 4

    BalasHapus