Selasa, 01 Februari 2011

Karakter Pemimpin ada 53 butir


Bacalah dengan nama Tuhanmu,________
"Sebuah kapal yang berlabuh itu aman, tetapi bukan untuk itu kapal dibuat". (John C. Maxwell)

Dear pembelajar,_______________
Minggu lalu, saya bertemu dengan para guru saya. Mereka menyebut diri mereka, Angkatan Tujuh Belas. Mungkin itu tak lebih dari sebuah nama saja, tetapi saya selalu bahagia berkesempatan belajar bersama mereka. Mereka sangat kreatif dan inovatif. Lihatlah karya mereka berikut ini tentang sifat-sifat pemimpin yang baik.

Ketika Stephen P. Robbin (The Truth about Managing People, 2002), hanya mampu menuliskan 8 (delapan) saja karakter yang dapat menjadikan seorang pemimpin untuk bisa menjadi “dipercaya” oleh bawahannya, maka para guru saya, Angkatan Tujuh Belas ini, mampu menyebutkan sejumlah 52 (lima puluh dua).

Delapan versi Robbin antara lain, be open, be fair, speak your feeling, tell the truth, show consistency, fulfill your promises, dan maintain confidence. 

Sedangkan lima puluh dua pendapat baru tentang bagaimana seorang pemimpin harus berkarakter, adalah sebagai berikut. Bahwa, pemimpin itu harus:
  1. Pengertian,
  2. Visioner,
  3. Tegas,
  4. Bijaksana
  5. Bisa menempatkan diri,
  6. Mampu/cakap
  7. Terbuka,
  8. Mampu mengatur,
  9. Disegani ,
  10. Cerdas,
  11. Cekatan,
  12. Terampil,
  13. Pemotivasi,
  14. Jujur,
  15. Berwibawa,
  16. Berwawasan luas,
  17. Konsekuen,
  18. Melayani,
  19. Credible,
  20. Mampu membawa perubahan,
  21. Adil,
  22. Berperikemanusiaan,
  23. Kreatif,
  24. Inovatif,
  25. Sabar,
  26. Bertanggung jawab,
  27. Konsiten,
  28. Low profile,
  29. Sederhana dan humble (rendah hati),
  30. Rendah hati/humble,
  31. Royal/tidak kikir, berjiwa sosial
  32. Loyal (setia) kepada bawahan,
  33. Disiplin,
  34. Mampu menjadi tauladan/memberi contoh,
  35. Punya integritas,
  36. Berdikasi/berjiwa mengabdi,
  37. Dapat dipercaya (credible),
  38. Percaya diri,
  39. Kritis,
  40. Religious,
  41. Mengayomi,
  42. Responsive (cepat tanggap),
  43. Teliti,
  44. Supel (ramah),
  45. Pema’af,
  46. Peduli (care),
  47. Profesional,
  48. Berprestasi,
  49. Penyelesai Masalah (problem solver),
  50. Good looking,
  51. Sopan,
  52. Cerdas secara emosi (memiliki tingkat EQ yang tinggi)

Setelah menyebutkan ke lima puluh dua karakter pemimpin yang baik itu,  para guru saya kehabisan ide. Lalu, saya mengambil inisiatif untuk bertanya .

“Guru..., apakah presiden kita yang sekarang ini memiliki pengertian yang tinggi kepada rakyatnya?” Kelas menjadi riuh rendah. Ada yang menjawab serentak “tidaaaaak !”, ada yang menjawab “yaaaaaa....!”.

Pertanyaan ke dua, “apakah presiden kita merupakan pemimpin bangsa yang visioner?” Kelas pun masih riuh rendah, sebab, jawabannya sama. Ada yang menjawab “ya” dan adapula yang menjawab “tidak”.

Pertanyaan saya lanjutkan dengan sangat hati-hati, pada karakter ke tiga, “Apakah, presiden kita, merupakan, sosok pemimpin yang tegas?” Kali ini saya menjadi sangat terkejut. Sebab, jawaban mereka seragam. Sangat seragam, tegas dan lantang “Tidaaaa...aakk !!!”.

Saya hanyalah seorang murid dari sejumlah sekian murid mereka. Waktu semakinmalam. Saya pun tidak melanjutkan pertanyaan berikutnya. Tetapi, para Guru saya ini, berjanji akan memberikan alasan mengapa mereka menjawab "ya" dan mengapa mereka menjawab "tidak ", atas setiap pertanyaan saya tadi.  Saya akan dipahamkan pada pertemuan berikutnya, tiga minggu dari sekarang.

Bagaimanapun juga, sebelum kelas usai, saya sempat dipastikan oleh mereka tentang satu hal. Bahwa, tidak ada seorang pun pemimpin di dunia ini yang mampu memenuhi ke 52 kualifikasi tersebut. Saya fikir, para guru saya ini benar. Mereka adalah rakyat, seperti halnya saya. Rakyat yang pemaaf dan mudah lupa.

Saya pikir saya harus mengedit tulisan ini, sebab dalam perjalanan, seorang pengunjung yang bernama vitria, hadir dengan usulan yang tak kalah cerdasnya. Vitria mengatakan bahwa "berani", belum tercantum dalam karakter yang sudah disebutkan di atas. Dalam perkembangan berikutnya, seorang pengunjung bernama ARDI, menekankan bahwa, berani itu hendaknya tidak hanya dipersepsi sebagai berani mengambil keputusan saja, TETAPI juga berani mengakui kesalahan. Makin sempurna bukan?

So, sekarang, kita punya 53 (lima puluh tiga) karakter. Dan, "berani" adalah karakter yang ke_53.

CATATAN :
Kini BUKU Melawan Hantu Bernama Skrispsi, dapat DIPEROLEH LANGSUNG dengan HANYA Rp 50.000,- (lima puluh ribu rupiah).
Harga sudah termasuk:
  1. ONGKOS KIRIM dari Kantor Surabaya ke SELURUH WILAYAH Indonesia, 
  2. Konnsultasi Gratis Kegalauan Soal Skripsi yang meliputi judul/Topik, penentuan masalah penelitian, variabel penelitian, dan metoda/pendekatan yang digunakan dalam analisis (BUKAN jasa pengolahan data),
  3. Konsultasi dilakukan melalui Chatting  FB http://www.facebook.com/groups/skripsicepat/
Kontak via SMS: 0878 5320 1968

19 komentar:

  1. bagi ku ibu sangat arif(pengertian),bijaksana&bertalenta sebagai seorang guru,. bukti nya beliau slalu membimbing,memberi pengaraha, memotivasi & slalu ada bagi kita semua,.

    BalasHapus
  2. hi iful, thank you very much..., keep learning ya...!!!

    BalasHapus
  3. Semangat Pagii Bu Aridha:ikut bersuara ya bu,,,berarti untuk menjadi seorang pemimpin apakah dia harus memiliki ke 52 sifat tersebut,,menurut saya' dalam organisasi segala keputusankan tidak harus pada seorang pemimpin melainkan kata mufakat dari para anggotanya,,sehingga keputusan tersebut tidak merugikan kita bersama

    BalasHapus
  4. hai Haris, di bawah kan saya bilang kalau saya nunggu para guru saya. And pada alinea terakhir, baca ulang deh :

    "Bagaimanapun juga, sebelum kelas usai, saya sempat dipastikan oleh mereka tentang satu hal. Bahwa, tidak ada seorang pun pemimpin di dunia ini yang mampu memenuhi ke 52 kualifikasi tersebut. Saya fikir, para guru saya ini benar. Mereka adalah rakyat, seperti halnya saya. Rakyat yang pemaaf dan mudah lupa."

    Yang terakhir : Iya bisa mufakat, kayak rapat dikelurahan itu kan begitu...ya kan? he..he.. tks suaranya.

    Saya bahagia, anda mulai aktive bersuara.

    BalasHapus
  5. MALAM BU ARIDHA?
    1.BARU KALI INI SAYA MENEMUKAN GURU YANG BISA BERADAPTASI DENGAN BAIK SAMA MURIDNYA.JADI MURID TIDAK MERASAKAN TEGANG
    2.SAYA MEMBERIKAN KOMENTAR TENTANG KARAKTER PEMIMPIN,SEMUA MENGHARAPKAN MEMPUNYAI SEORANG PEMIMPIN Mampu memenuhi ke 52 kualifikasi,TETAPI ITU SANGAT SULIT.JANGAN KAN PRESIDEN UNTUK MENGATUR RAKYATNYA SEGITU BANYAK,AMBIL CONTOH YANG KECIL SAJA, DI PERUSAHAAN MENGATUR SESEORANG ITU SULIT KARENA PENDAPAT ORANG ITU BEDA.KALUPUN SAYA JADI PRESIDEN,PASTI SAYA SEPERTI BPK SBY YANG DI HINA TERUS MENERUS.ORANG BERBICARA ITU MUDAH,TETAPO MENJALANKAN DAN MENGATUR ITU SULIT APALAGI NEGARA KITA ADALAH NEGARA DEMOKRASI.MAKANYA WAKTU DI VTANYA OLEH GURU ,MURID-MURID JAWABNYA KOMPAK,KARENA APA ITU SUATU KEINGINAN YANG BELUM BISA DI JALANKAN OLEH SEORANG PEMIMPIN,TETAPI KALAU KITA PIKIRKAN LAGI "OH YA SULIT BANGET UNTUK MENGHADAPI INI SEMUA"
    HANYA ITU SAJA KOMENTAR SAYA TENTANG KARAKTER PEMIMPIN.
    TERIMA KASIH

    BalasHapus
  6. maaf bu' blh ak ngacung tangan,(tanya)?!?,. bagi ku pribadi,. jiwa/karakter hakiki x se orang pemimpin,. sebelum dia me mimpin orang lain,masyarakat,rakyak(bangsa),.setidak x dia harus bisa memimpin diri x sendiri,. klau dia sudah bisa memempin diri x sendiri aku yakin,.insa alloh dia dia juga mampu/pasti bisa memimpi orang lain,. tnk's.

    BalasHapus
  7. @ Lika,

    itulah, sebabnya saya lebih suka membaca dan menulis dibanding berbicara, he..he...

    Jika saya membaca, saya punya kesempatan untuk berfikir, jika saya menulis, saya masih punya kesempatan untuk membaca lagi dan 'ndandani', materi dan cara bicara saya.

    dari hari ke hari, terlalu banyak kita menyaksikan orang berbicara dan berbicara dari matahari belum terbit, hingga ia sudah terbenam pun, masih saja bicara.

    Kadang, saya malu, sebab semuanya mengaku kaum intelektual.

    Mungkin, ada baiknya, Lika membaca komen saya untuk Iful... ,

    Makasih ya Lika ! Makasih banyak atas inspirisasinya. GBU.

    BalasHapus
  8. @ Iful,

    Itulah Iful, saya telah cukup lama digelisahkan oleh satu pemikiran tentang "apa yang salah dengan dunia pendidikan, sehingga banyak orang menjadi makin liar belakangan ini."

    Saya menghitung, sudah cukup lama saya berdiri di depan kelas, saya sudah memutuskan kembali ke fokus itu, yaitu "apa yang anda sebut sebagai memimpin diri sendiri."

    Tetapi berbicara memimpin diri sendiri itu berbicara tentang apa yang ada dalam Al_Kitab, yang bisa jadi sangat tidak menarik bagi kebanyakan orang. Sebab, bagi mereka, sekolah is sekolah, sekolah bukan gereja, sekolah bukan masjid, sekolah bukan klentheng, sekolah bukan pesantren dll...dll,

    jadi kalau bicara tentang firman, ya di tempatnya sana...(seperti yang saya sebutkan tadi...)

    Maka Iful, saya dalam perjalanan meramu formula itu dalam beberapa ilmu yang saya tekuni.

    Sehingga kita semua bisa melihat jelas dimana letak salah kita sehingga kita menjadi para pemimpin yang salah mengurus (mismanage), tanpa perlu saya disebut-sebut sebagai "ustadzah" atau "pewarta"/ apapun yang sepadan dengan itu.

    Basic keilmuan saya adalah perilaku konsumen. PK itu ada dalam coverage ilmu marketing dan psikologi. Adalah hal yang tidak mudah untuk menjelaskan ilmu bisnis macam itu dan mengkaitkannya dengan kepemimpinan diri sendiri.

    Anda akan tertawa jika saya mengkaitkan pemasaran dengan Tuhan, bukan? He..he...Itu hanya salah satu saja contoh kecil.

    Masih ada banyak conth benturan yang saya hadapi, nanti di kelas ya...! But, jangan khawatir, saya sedang mencari dan berusaha menemukan formulanya...

    Ini adalah link, tulisan saya yang saya buat bulan Mei 2010, pada blog saya yang satunya: Tentang memimpin diri sendiri.

    Silahkan dikunjungi!Jadi anda tidak perlu khawatir bahwa saya tidak memikirkan apa yang sedang dan seharusnya kita cari di sekolah/bangku kuliah. Saya memikirkan itu, setiap saat.

    http://www.tipsbangkit.com/2010/05/setiap-orang-adalah-pemimpin.html

    Thank you for all your support. I always need any support. salam bahagia.

    BalasHapus
  9. Salam kenal, ibu..
    Saya peserta baru di sini. Berharap untuk belajar dari pengalaman ibu serta teman-teman sekalian..
    Hebat banget ya, ada 52 penunjuk karakter untuk seorang yang layak jadi pemimpin.. Berat memang, walau memang tentunya akan sangat naif juga mengharapkan ada yang benar-benar memenuhi ke-52 syarat tersebut. Dan kalau boleh nambahin 1 syarat lagi nih, yaitu "berani". Seorang pemimpin yang pintar, cerdas dan visioner tapi tak berani sama saja dengan tinta emas tanpa pena. enak dilihat tapi tak bisa terlihat dan terasa manfaatnya..

    Saya sebenarnya malu juga nih dengan ibu dan teman sekalian. Saya dikenal oleh lingkungan sebagai orang yang pandai bicara. Dan memang saya senang bicara. Lalu karena terlalu banyak kritik tentang itu, saya memutuskan untuk mulai belajar menuliskan apa yang saya pikirkan. Jadi saya berharap bisa lebih bijaksana berbicara karena sekarang ada bukti tulisan yang akan mengejar "jual kecap"nya saya.

    Mohon bimbingan untuk masa-masa mendatang..
    jika berkenan, sudilah berkunjung ke blog uneg-uneg saya di http://ngobrol-sanasini.blogspot.com

    Salam hangat untuk ibu dan semua

    BalasHapus
  10. dear Vitria,

    Terima kasih salam hangatnya. Saya pasti sampaikan pada semua.

    Bahagia sekali berkenalan dengan anda. Nanti saya akan menyampaikan, kawan-kawan (para guru saya itu), bahwa kita mempunyai kawan baru namanya vitria, dari Bandung Ya? Mahasiswa arsitek ITB? yang baru diceramahi pak Menteri Perumahan ya? Supaya memikirkan konsep perumahan untuk rakyat miskin ya? (...kalau saya buka blog anda, saya menangkapnya demikian!, betul or salah? he..he...)

    Begitulah kami di kelas, vitria. Sehat dan bahagia adalah dua kata kunci kami untuk "membangunkan" intelektualitas yang masih/sedang tidur.

    Kami tidak akan mulai pembelajaran, sebelum saya dipastikan bahwa mereka dalam keadaan "sehat" dan "bahagia".

    Jd sebelum mulai, saya tanya "anda sehat?" dan mereka jawab, "alhamdulillah, ....sehaaaaat."

    Lalu pertayaan saya lanjutkan, "apakah anda bahagia, hari ini?"

    Mereka sudah otomatis menjawab, "Bahaagiaaaa......!" Kalau sudah begini, mereka dan saya biasanya sama-sama tersenyum dan bahkan tertawa gembira. Nah, disanalah, saya masuk...

    Kalau ternyata saya lihat mimiknya, ada yang belum gembira, saya pasti memanggil namanya. Sy katakan, "saya tidak melihat anda bahagia hari ini? mengapa? apa bisa sedikit tersenyum? Nah, mau ngga mau dia pasti tersnyum.

    Ini hanya formula untuk membantu menghilangkan ketegangan dan membuatnya terlibat dalam kebahagiaan pembelajaran bersama dengan kawan-kawan lain...
    sesudahnya, pasti seisi ruangan menjadi tertawa dan siap belajar.

    Jika isi kelas pembelajaran dipenuhi dengan orang-orang yang sehat dan bahagia, maka kita akan lebih mudah meng "create sesuatu".

    Tak hanya pada pembukaan kelas. Pada penutupan pun, saya biasakan bertanya, "apakah mereka bahagia belajar bersama saya hari itu". Mereka pasti menjawab serentak, sambil tertawa "...bahagiaaaa....!"

    Dalam hati saya, jangan-jangn mereka menjawab seperti itu, biar lekas pulang..he..he..., sebab jika masih ada yang tidak bahagia, nanti bisa-bisa saya mengejar "mengapa dia tdk bahagia dan apa yang menyebabkan tidak bahagia". Ngga pulang-pulag dong ! he..he..

    Ok,
    http://www.ngobrol-sanasini.blogspot.com kan?,
    pasti saya kunjungi dan saya kabarkan pada kawan-kawan di surabaya untuk mengunjunginya.

    Ok, keep health, keep smiling and keep learning.

    salam kami semua untuk vitria dkk.

    BalasHapus
  11. Terima kasih, Bu, atas penerimaannya dan kunjungan ke blog saya. Sedikit ralat, saya kuliah di program MPWK (Magister Perencanaan Wilayah dan Kota). Jadi ya wajar saja jika cara bicaranya jadi sering kali terlalu luas, hehehe...

    Soal kebijakan perumahan memang diutamakan untuk masyarakat berpenghasilan rendah karena mereka yang paling rendah tingkat kemampuannya untuk memiliki rumah. Tapi pada dasarnya ya tetap harus mengingat dan mengatur juga pemenuhan kebutuhan perumahan untuk masyarakat berpenghasilan menengah ke atas, agar tidak semena-mena..

    Saya makin senang membaca cara ibu memulai dan mengakhiri proses belajar di kelas. Sedikit-sedikit saya juga senang berinteraksi dengan mahasiswa (kebanyakan di luar kelas karena saya bertugas di instansi pemerintah) dan saya selalu menekankan pada unsur peningkatan "rasa" dari pada sekedar "tahu teori". Walau tidak selalu berhasil, namun sebagian besar adik-adik mahasiswa jadi ingat dengan saya, hehehe...

    sekian dulu, semoga hubungan diskusi dan belajar ini akan terus berlangsung

    salam hangat

    BalasHapus
  12. Dear Vitria,

    Saya bersyukur dan bahagia ditakdirkan bertemu anda, meskipun melalui dunia maya.
    Saya jadi gemetar nih ketemu calon master he..he..
    PWK ya?
    Hebat dong! meskipun lumayan puyeng ya berhadapan dengan kasus-kasus yang sudah terlanjur melanggar PWK.
    Saya punya kawan baik, dia dosen PWK di ITS,namanya pak Rudi, pernah kenal ngga? Dulu saya pernah jadi pembantunya he..he..(dalam riset).
    Orangnya baik (bonus cakep he..he), banyak pengalaman soal PWK, kalau belum kenal dan mau kenal nanti saya kenalkan, siapa tahu membawa manfaat bagi penyelesaian kasus2 pelanggaran PWK di Indonesia.
    Memang ini masalah sosial ekonomi ya? Tapi ini yang ada kaitan dengan "rasa" yang anda sebut-sebut tadi.
    Oh ya, kalau di face book, nama/alamat vitria apa? Biar bisa share continually.
    ok, selamat bekerja! salam sukses dan bahagia.

    BalasHapus
  13. Met malam bu Arida

    Setelah baca artikel ibu saya sangat terkesan, dan setuju dengan pemikiran ibu. apalagi dengan kata "BERANI" yang di utarakan oleh mbak vitria. Tapi kalau bisa ditambahkan sedikit, jangan berani mengambil keputusan saja. Tetapi harus berani mengakui jika dirinya salah.
    Karena masih sedikit orang yang berani mengakui kesalahannya sendiri.

    Sekian dulu dari saya, kalau ada salah kata mohon di maafkan.

    BalasHapus
  14. @Ardi:

    terima kasih atas apresiasinya.terima kasih juga atas masukannya.

    bahagia sekali anda berkenan mengunjungi papanputih.com.
    moga-moga setiapnya (artikel) berjalan menuju kesempurnaannya.

    untuk itulah papanputih dibuat, mendobrak rigiditas/kekakuan dalam berpendapat, seperti yang kita temui hampir di setiap kelas yang ada di setiap kampus kita.(pencekokan teori-teori para teoritikus, yang menurut/meminjam kata dari seorang kawan dari politikana.com, belum tentu kita kenal...he..he...).

    salam sukses dan bahagia untuk anda. very thank you.

    BalasHapus
  15. Permisi bu.. numpang berbicara...

    Kalau untuk saya.. Karakter seorang pemimpin yang ideal itu hanyalah bersifat abstrak.. Sama seperti cita2 bangsa kita... bersifat abstrak....

    Entah kapan akan bisa terwujud,apalagi dengan situasi yang seperti ini.Ga pemimpinnya,ga rakyatnya sama2 ga bisa menahan diri.Makna PANCASILA pun sekarang pudar, saya pernah berbagi pendapat dengan teman2, hukum di Indonesia ini sudah berubah menjadi HUKUM RIMBA... semua bisa dikalahkan dengan yang namanya kekuasaan.

    Saya sangat setuju dengan pendapat ibu "itulah, sebabnya saya lebih suka membaca dan menulis dibanding berbicara, he..he...

    Jika saya membaca, saya punya kesempatan untuk berfikir, jika saya menulis, saya masih punya kesempatan untuk membaca lagi dan 'ndandani', materi dan cara bicara saya.

    dari hari ke hari, terlalu banyak kita menyaksikan orang berbicara dan berbicara dari matahari belum terbit, hingga ia sudah terbenam pun, masih saja bicara.

    Kadang, saya malu, sebab semuanya mengaku kaum intelektual..."

    Sekarang ini banyak orang yang suka berbicara tapi ga jelas apa yang dibicarakan... Dan banyak orang yang hanya bisa bicara,tp saat di tantang melakukannya,dia hanya cengar cengir....hehehehehehehe
    Lebih baik Talk less do more...
    Terima Kasih...

    BalasHapus
  16. @ Ajenk Aja pake H ya..? he..he..

    soal karakter pemimpin ideal hanya abstrak, maksudnya hanya di angan-angan saja? tidak mungkin tercapai gitu?

    Iya, memang, selama ia masih manusia, he..he,
    tapi setidaknya pemimpin yang baik dapat dikenali dari perilaku mereka yg dipimpinnya.

    Saya yakin ada, sebab misi asli setiap kita adalah menjadi pemimpin/khalifah, pasti ada sifat-sifat itu semua pada setiap kita, cuma udah digosok2 kaya lampu aladin apa belum, supaya keluar?
    giliran salah bilang manusia nda sempurna,padahal suka mengaku kepada makhluk lain bahwa manusia adalah makhluk paling sempurna..., mana yang bener? sy belum nemu jawabannya he..he..
    nanti sy ada rumusan 30/30/20/20, untuk menjadi pemimpin yang efektif..
    soal bicara..., hari ini juga makin bicara...makin bicara...makin bicara...saya ga paham apa yang dibicarakan...he..he..
    ok, thanks for comment. I love it!

    BalasHapus
  17. Hmm....
    Saya mungkin yang lebih gemetar dari pada ibu saat ini. Gelar master kan artinya harus disertai kematangan berpikir yang lebih dari sebelumnya. duuh... mudah-mudahan dikuatkan Ya Allah.. ^_^

    Kebetulan saya belum kenal dengan Pak Rudi yang ibu maksud. Jadi ya tentunya akan senang sekali jika bisa dikenalkan. Selalu menyenangkan mendapat rekan dan guru baru dalam hal perencanaan tata ruang.

    Facebook vitri bisa dicari dengan memakai nama lengkap, vitria sushanti, atau langsung ke
    http://www.facebook.com/profile.php?id=1371116730

    mudah-mudahan tidak nyasar, hehehe..

    Salam hangat

    BalasHapus
  18. salam kenal bu' aridha...

    Tulisanny sangat menarik n' bnyak membantu saya...

    tpi saya ada pertanyaan, yaitu:

    bisa ga pemimpin meminta bantuan dari bawahan nya???
    contoh ny masalah ekonomi....

    bisa ga seorang pemimpin memimpin orang yg ternyata memiliki "lebih" dari diri ny sendiri????

    Mudah2an nemu jawaban ny disini
    thanx before...

    BalasHapus
  19. Salam kenal Bu Aridha.
    Saya sangat terkesan dengan karakter pemimpin yang disebutkan (53 karakter). Saya mengakui bahwa saya masih perlu banyak belajar dan belajar lagi. Dan kiranya kita bisa saling melengkapi.
    Kalau boleh saya tambahkan bahwa seorang pemimpin yang baik dan berkarakter adalah seseorang yang dapat dan bersedia dipimpin oleh orang lain. Karena jabatan seorang pemimpin tidak selalu berlaku dalam seluruh hidupnya. Misalnya seorang rektor dari sebuah universitas, bisa saja menjadi anggota dari sebuah organisasi lainnya. Kiranya demikianlah harapan saya terhadap setiap orang yang mempunyai jabatan sebagai pemimpin. Maaf kalau apa yang saya katakan terlalu lancang.
    Thanks very much.

    BalasHapus