Selasa, 14 Desember 2010

CARA KONSENTRASI BELAJAR

Bacalah dengan nama Tuhanmu,_________
"Sesuatu yang besar tidak bisa dicapai tanpa semangat".(Ralph Waldo Emerson)

Dear pembelajar,
Sebagai pembelajar, pasti pernah dihadapkan pada situasi mood yang kacau dan tidak mendukung. Susah konsentrasi atau tidak bisa fokus merupakan gangguan yang kerap kita alami. Padahal, kita harus belajar. Ada dua hal penting terkait dengan penciptaan situasi fokus dan konsentrasi. Berikut uraiannya...
1. Mengenali gaya belajar
Kenalilah gaya belajar kita sehingga kita dapat memilih cara pembelajaran yang tepat untuk kita. Secara umum, ada tiga gaya belajar:
Gaya belajar visual, adalah gaya belajar dimana melihat sesuatu menjadi syarat utama agar proses belajar menjadi berhasil. Orang bergaya belajar visual menyukai melihat gambar, diagram, pertunjukan, peragaan atau menyaksikan video.

Gaya belajar auditori, adalah gaya belajar dimana mendengarkan sesuatu merupakan syarat utama agar proses belajar menjadi berhasil. Orang bergaya auditori lebih menyukai mendengarkan kaset audio, ceramah, kuliah, diskusi, debat dan perintah verbal.

Gaya belajar kinestetik adalah gaya belajar dimana keterlibatan langsung dan aktivitas fisik menjadi syarat utama agar proses pembelajaran menjadi berhasil. Orang dengan gaya belajar kinestetik menyukai “menangani sendiri”, bergerak, menyentuh dan merasakan dan atau mengalami sendiri.

Namun dalam keseharian, meskipun banyak dari kita yang mengkombinasikan ketiga gaya belajar tersebut, kita masih dapat mengenali kecenderungan gaya belajar kita. Termasuk yang manakah anda?

2. Mengenali gelombang energi otak
Kekuatan fikiran dapat dimanfaatkan apabila kita dapat memahami fungsi dan cara kerja otak dan pikiran kita. Gelombang energi otak terdiri dari empat keadaan, yaitu beta, alpha, theta dan delta.

Keadaan beta adalah keadaan gelombang otak yang sedang sadar atau aktiv bertindak. Pada kondisi ini kita berfikir logis, rasional, analitis dan penuh perhitungan.

Keadaan alpha, adalah keadaan saat otak kita relaks dan tenang. Keadaan ini sangat penting untuk membuka jalan menuju kekuatan pikiran bawah sadar.

Keadaan theta, adalah keadaan ketika pikiran menjadi kreatif dan inspiratif. Keadaan ini JUGA terjadi pada saat kita tertidur dan bermimpi.

Keadaan delta, adalah keadaan gelombang otak pada saat kita tertidur lelap. Pada saat ini terjadi penyembuhan alami dan peremajaan sel-sel tubuh.

Nah, bagaimana? Dapatkan anda mengenali gaya belajar anda agar berhasil dalam pembelajaran? Dan dapatkah anda belajar mengusahakan menjadi pembelajar yang mudah fokus dan konsentrasi? Caranya? Bawalah gelombang otak anda pada kondisi alpha, rileks dan tenang. Sebab dari sana anda akan menuju pintu kreatifitas. (terinspirasi oleh sang guru, maximize your strength, Aribowo P dan Roy Sembel)

salam, 
aridha prassetya

13 komentar:

  1. lalu bagaimanakah tentang otak kiri dan otak kanan bu?
    berbagilah, lagi...
    yang ibu tahu, agar kamipun tahu,
    dan kita semua tahu..
    tahu, tahu banyak tahu,,,,,,,

    =)
    terimaksih,

    BalasHapus
  2. saya suka sekali belajar dengan cara yang praktek dan penjelasan karena itu lebih dimengerti. serta ada pula dosen yang selalu memberikan penjelasan yang detail sampai keprakteknya, itu yang lebih aku suka tetapi disamping itu ada dosen yang hanya menerangkan saja tetapi tidak dilakukan prakteknya, itu hanya sepintas mengenai buku bukan didalam prakteknya, khususnya dalam jurusan akuntansi apakah hanya diterangkan saja kan tidak kita juga harus berpraktek dalam perhitungannya, dan tidak hanya disuruh untuk belajar dirumah saja! mana bisa mengerti kalau seperti itu. lalu menurut ibu bagaimana dengan hal ini?

    -terims-

    BalasHapus
  3. Hai Nukeu.., of course lah..., pasti saya share, just wait and be patient !

    Khusus Dini, bagaimana apanya? bagaimana yang mana? he..he, kan anda sendiri sudah tahu kecenderungan anda adalah kinestetik. Anda baru paham apabila mengalami (berpraktek). Nah kendalanya adalah ada dosen akuntansi yang di kelas hanya menerangkan saja, tanpa mengajari berpraktik/mempraktekkan.
    Saya pernah nanya pada dosen akuntansi, bahwa akuntansi itu katanya adalah "praktek". Ya sudah, ada dua alternatif:
    1. anda terima penerangan dan keterangan sang dosen, lalu anda berpraktek di luar kelas, jika ada kendala, kejar dosen ybs untuk memberikan penjelasan/tuntunan/penilaian/evaluasi.
    2. anda usulkan pada dekan, agar akuntansi hanya diajar oleh dosen yang detail, yang gemar mengajari anda di kelas untuk berpraktik, karena memang itu yang anda butuhkan.
    permasalahannya, berpindah ke perguruan tinggi manapun, kita akan ketemu dengan ragam karakter/model dosen, ya seperti itu...seperti yang anda ceritakan.
    Jadi menurut saya, jangan-jangan, kita yang harus berubah, karena nda mungkin kita merubah sang dosen yang anda maksud itu...bagaimana Din?

    BalasHapus
  4. makasih bu atas pendapatnya

    BalasHapus
  5. makasih bu atas pendapatnya. mungkin kita yang tidak dapat menafsirkan penjelasan dari dosen karena memang ragam dan karakteristik dosen berbeda-beda. maka kita harus berubah untuk menjadi yang lebih baik.

    BalasHapus
  6. makasih bu ats pendapatnya. memang kita yang salah karena kita tidak bisa menafsirkan penjelasan dosen dengan baik, maka kita yang harus berubah agar penjelasan terxebut dpt dimengerti

    BalasHapus
  7. @Dini,

    sama-sama, nice respond, I absolutely like it. Go on learning...!

    BalasHapus
  8. @dini

    1. anda terima penerangan dan keterangan sang dosen, lalu anda berpraktek di luar kelas, jika ada kendala, kejar dosen ybs untuk memberikan penjelasan/tuntunan/penilaian/evaluasi.

    usulan no 1 bu Aridha ini bagus lho..

    tidak usah berkecil hati dan menyalahkan diri sendiri..
    dengan berkata " mungkin kita yang salah, karena tidak dapat menafsirkan penjelasan dosen dengan baik "

    membuat "mengerti" dari yang "belum mengerti", menjadikan "paham" dari yang "belum paham" memang itu adalah salah satu kewajiban sang guru / pengajar / dosen.

    dan menjadi mengerti adalah hak bagimu, bagi kita,

    so, kejarlah dosenmu hingga kau mengerti...hehehe
    pada dasarnya dosen juga senang kok ditanya, dan berbagi ilmu ...

    betul tidak bu?
    hehe

    BalasHapus
  9. he..he..iya...kalau nggak dikejar-kejar, nanti dosen kira dirinya tak lagi perlu belajar, karena anak-anak ehh (maaf---maaf....)mahasiswa maksud saya, sudah sangat paham dengan penjelasannya...he..he...
    dosen itu biasanya, kalau mahasiswa diam dianggap sudah mengerti.jadi jangan diam kalau belum paham .

    BalasHapus
  10. dear
    ibu Aridha......

    bu, sepertinya Untaian kata-kata yang digoreskan oleh Sa'di, seorang pengarang Persia abad pertengahan (kalau tidak salah) sudah tidak berlaku lagi ya bu...hehehe, soalnya kata dosen kalau diam = mengerti.
    hehehehehehe, becanda bu..



    "diam itu emas"
    By : Sa'di (pengarang Persia abad pertengahan)

    BalasHapus
  11. @Nukeu, iya betul.
    'Diam itu emas', dalam kasus ini tidak berlaku. Dalam kasus lain, bisa juga masih berlaku.
    Diamnya orang mengerti itu emas, tapi diamnya orang yang tidak mengerti itu sama sekali bukan emas.
    Kalau belum/tidak mengerti, ngga boleh diam harus mencari pengertian/pemahaman.(walaupun itu melalui diam dalam artian perenungan/kontemplasi).

    ok?

    BalasHapus
  12. satu lagi bu...........

    melalui buku, hehe
    oia btw bagaimana bu, lebih keren kah bukunya?

    BalasHapus
  13. @nukeu, yes, isi bukunya bagus, saya belum selesai baca, baru sebagian kecil beberapa bab saja. Tks ya !

    BalasHapus