Jumat, 05 November 2010

Tentang Harga, harus tinggi atau rendah?

Bacalah dengan nama Tuhanmu,_______________
“Visi adalah seni melihat hal-hal yang tidak kelihatan”. (Jonathan Swift)

Selamat membaca,-----
Seorang mahasiswa menanya saya via chating, “ Ibu, saya punya pertanyaan. Saya baru saja memulai usaha sendiri, kecil-kecilan sih, tapi saya senang melakukannya. Saya tidak ingin selamanya tergantung kepada perusahaan tempat saya bekerja sekarang. Selama ini masih lancar-lancar saja, namun kadang saya bingung bagaimana menetapkan harga yang tepat, karena kalau saya baca teori harga yang ada di buku pemasaran, saya malah bingung. Bagaimana solusinya?”

Pertanyaan yang pernah saya jawab sepintas itu terus terang mengganggu saya. Hingga saya menemukan sesuatu yang harus saya bagi di sini. 

Memang betul yang dikatakannya, bahwa teori harga disampaikan dengan begitu rumitnya dalam banyak judul buku. Saya khawatir begitu dia selesai membaca teori-teori yang ada, pesaingnya sudah menggulungnya habis dengan penuh sadis.
Saya buka kembali tulisan Jack Trout dalam the power of simplicity. Inilah prinsip-prinsip penetapan harga secara praktis, menurutnya:
  1. Harga anda harus pantas. Harga pantas adalah harga yang diinginkan konsumen, harga yang mau dibayar konsumen. Jika produk tak sesuai, maka konsumen anda beresiko mempertanyakan apakah mereka membayar terlalu tinggi. Nah ini sama halnya dengan anda membuka peluang pesaing untuk masuk.
  2. Konsumen bersedia membayar lebih tinggi untuk ‘nilai’/value. Sepanjang produk anda sebanding, konsumen anda akan bersedia membayar lebih mahal. Mereka merasa mendapat manfaat yang setimpal atas uang yang sudah mereka keluarkan.
  3. Produk berkualitas harus lebih mahal. Konsumen bersedia membayar lebih mahal untuk produk yang lebih baik. Tetapi kualitas harus terlihat dan dapat dirasakan. Dengan sebuah kalimat komunikatif/labelling , “ dijamin......”, akan membuat konsumen bersedia membayar lebih. Tentu saja anda tidak boleh menipu.
  4. Produk berharga tinggi, harus menawarkan prestise. Konsumen selalu berharap bahwa harga yang tinggi berarti produk yang bersangkutan mempunyai nilai yang banyak/besar/lebih.
  5. Pendatang baru biasanya mengandalkan harga. Ini mirip strategi militer. Yang tidak boleh dilakukan pemimpin adalah membiarkan pendatang baru menjadi mapan. Jadi anda harus menghentikan para penyerang itu tetap berada di air, sebelum mereka naik ke daratan, mendekati anda. Lakukan sesuatu dengan strategi harga anda, begitu anda mendengar mereka hendak memerangi anda lewat harga.
  6. Jangan melatih konsumen anda untuk membeli berdasar harga (price oriented). Banyak merek menghancurkan diri sendiri karena terlalu sering obral/diskon.
  7. Sulit untuk menang dengan harga rendah. Harga rendah hanya akan efektiv jika anda memiliki keunggulan biaya rendah yang terstruktur atas pesaing-pesaing anda.
  8. Harga bisa bergerak turun. Meningkatnya kapasitas, jatuhnya nilai tukar dan ketatnya persaingan dapat mendorong harga untuk turun. Tetapi anda tidak mau rugi kan? Maka sejumlah perusahaan berhasil menurunkan biaya, lebih cepat dari penurunan harga. Mereka memanfaatkan teknologi informasi untuk mensupport kegiatannya. Biaya bisa ditekan dan dengan demikian harga rata-rata bis lebih rendah.
  9. Pastikan harga anda mengandung dana promosi. Kesalahan paling umum adalah lupa mengalokasikan dana untuk membangun merek. Biasanya harga produk hanya mengandung beban pemasaran, tetapi beban ini tak cukup untuk membangun nilai dari merek. Membangun merek yang berbeda (different), butuh sejumlah pengeluaran awal/investasi. Bagaimana anda mau membangun nilai tanpa ada dana untuk penyajian sebuah ide diferensiasi kepada prospek/konsumen anda? Tanpa ide diferensiasi (pembeda), anda sebaiknya menawarkan produk anda dengan harga yang sangat rendah.
Nah, bagaimana? Selamat mencoba mengkombinasi ide taktis ini!

Salam,
aridhaprassetya

5 komentar:

  1. Just Share,..
    masih binggung...bisa mencoba seperti berikut..
    1. tambah koneksi/supplier/distributor..jalinhubungan sebaik mungkin( klo bisa cari yang bisa di bayar mundur/min pay)
    2. untuk perhitungan yang paling mudah.. harga beli+transport+5%(sesuai margin yang diinginkan)
    3. Sampah jangan di buang karna bisa menghasilkan Outher Income (sampah kardus/plastik)jalin hubungan dengan pengepul

    Thx.
    Agus Sutrisna/acuscoole@yahoo.co.id

    BalasHapus
  2. Woooiii Agus !

    pengalaman ya..? bayar mundur? nilai margin sesuai keinginan? menjual sampah ?

    ini betul-betul pebisnis Gus, tetapi ada yang lebih dalam dari itu. bahwa marketing is not just to market.

    ada yang namanya nilai-nilai spiritual marketing..

    kapan-kapan saya "share"..

    thanks ya ! saya suka tambahannya ! Semoga berhasil sarjana baru !!!

    salam

    BalasHapus
  3. Dear Madam,..

    Hehehe..ya gitu dech bu,.. ^_^ ,..

    .> Bayar mundur (negoisasi kepada suplier untuk pembayaran belakangan, dengan kata lain hutang,.. hehehe)/barang datang dulu setelah min 12hari kerja baru di bayar.

    nah disini letak yang sulit, harus benar-benar mengetahui barang yang fast moving dan slow moving, agar tidak terjadi penumpukan barang di gudang.

    .> Margin yang saya maksud adalah keuntungan sesuai keinginan, tanpa harus menentukan atau menetapkan persentase keuntungan.

    .> Menjual sampah, sampah yang bisa dijual kepada pemulung atau pengepul. Terutama sampah kering dan yang pasti tidak bisa membusuk, seperti kardus, karton, plastik pembukus.

    sampah basah atau sampah yang cepat membusuk dibuang.


    Betul Bu... itu yang masih saya dalami sekarang..

    Siap Bu..

    Makasih Bu,..Thx,.. Amin...

    Thx

    BalasHapus
  4. dear
    Ibu Aridha

    ditunggu
    nilai-nilai spiritual marketing nya..

    heu....

    terimakasih,
    nukeu

    BalasHapus
  5. @ nukeu :

    sabar ya!

    thanks for being patient.

    BalasHapus