Rabu, 24 November 2010

Membangun Brand Diri

Bacalah dengan nama Tuhanmu,____________
"Ketika Anda tidak dapat mengampuni orang lain, maka ketika itu pula, Anda  sedang tak berhasil menjadi diri sendiri, sesungguhnya itu bukanlah anda".(Ralph Waldo Emerson)

Dear pembelajar,_
Pernahkah Anda mendengar cerita : “Dia adalah seseorang yang memiliki reputasi baik, ...dia memiliki reputasi yang luar biasa, ...reputasinya sekarang memudar, ...dia menghancurkan reputasinya sendiri, ...reputasinya kini kembali membaik, ...ia berhasil membangun kembali reputasinya dll. dll? Tentu saja cerita-serita tersebut sering kita dengar bukan? Apakah sebenarnya yang dimaksud dengan reputasi? Mari kita simak! 

Reputasi sering juga dikenal sebagai “nama” (diri). Dengan demikian, membangun reputasi adalah membangun “nama”, membangun “merek” atau membangun “brand” kita.

Nilai seorang individu, tak hanya dilihat dari nilai aset fisiknya saja, seperti uang, kekayaan, deposito, rumah dsb. Tetapi nilai individu juga sangat ditentukan dari nilai aset psikis yang dimilikinya, seperti IQ (intelligence quotient), EQ (emotional quotient), SQ (spiritual quotient), (AQ) adversity quotient, Heart Intelligence, dan QQ yang lain seperti, bakat, talenta, jejaring sosial, dan reputasi.

Bayangkan jika seseorang hanya memiliki aset fisik saja, ia punya harta, punya kekayaan, uang, rumah, mobil, deposito tapi ia tak cukup memiliki nilai non fisik seperti yang telah disebutkan di atas. Sosok seperti apa yang anda lihat? Apakah anda menyukainya? Mungkin ya! Tapi apa artinya jika kita menjadi sosok yang tak bermakna, tak bermanfaat bagi orang lain dengan seluruh nilai fisik yang kita punya tersebut? Apakah yang anda inginkan? Menjadi bernilai bukan? Bagaimana caranya? Ya, dengan mengelola diri. Orang menyebutnya sebagai self management atau manajemen diri.

Nah, sekarang anda dapat merasakan betapa pentingnya memanaje diri agar kita menjadi sosok yang memiliki “nilai”, agar hidup ini menjadi lebih bermakna. Sebab, hidup itu bukan diciptakan dengan tanpa tujuan. Untuk mencapai tujuan diri, dibutuhkan pengelolaan atau manajemen diri.

Salah satu aktivitas dalam manajemen diri adalah membangun reputasi. Tak peduli sedang dalam kondisi apa anda sekarang. Telah memiliki reputasi? belum memiliki reputasi?, atau bahkan telah mengalami reputasi yang memudar/hancur? Mari sama-sama membangun reputasi. Tapi ada syaratnya. Apakah itu? 

Syaratnya ialah:
Menyadari bahwa membangun reputasi sama saja dengan membangun merek diri/ personal brand. Sama sekali tak sama dengan bermain sulap! Tak semudah membalikkan tangan! Ini masalah investasi, ini seperti menabung atau “nyelengi”.

Roy Sembel dan Aribowo Prijosaksono, mengajarkan kepada saya bahwa ada 3 (tiga) kunci yang harus dipegang dalam membangun reputasi. Mau tahu apa itu? Mereka mengistilahkan sebagai; “3C”, yaitu Competence, Character, dan Communication.

1. COMPETENCE,

Apa itu kompetensi? kompetensi adalah kemampuan diri. Untuk membangun reputasi atau personal branding, kita harus :
  1. memiliki kemampuan khusus atau kompetensi dalam bidang tertentu yang harus kita kuasai dan
  2. mengembangkan kompetensi tersebut.
Jadi,

  1. Pilihlah bidang yang anda sukai, lalu tekunilah. Sebab jika tidak, jika kita ingin merengkuh semuanya, kita hanya akan menjadi sosok yang tahu banyak, tapi sedikit-sedikit alias dangal. Pilihlah hal yang anda sukai, seperti halnya penari, pelukis, penyanyi, juru masak (chef), keuangan, akunting, tukang sulap, atau bahkan jika profesi itu adalah sebagai penolong orang untuk pengurusan surat-surat seperti STNK, paspor/visa dll. Ingat, jika tak spesial, maka kita tak akan mudah diingat oleh siapapun. Jadilah orang yang khusus diantara yang umum, jadilah different/berbeda diantara yang lain yang seragam. Agar berbeda, harus profesional. Profesional berarti paham betul seluk beluk profesinya. Jadi artis sinetron, tak bisa akting, apa jadinya? ia akan jadi figuran selama-lamanya. Artinya, ia hanya kebagian peran jalan kluyar kluyur, hanya menjadi lfiguran/atar belakang saja. Apa kita mau seperti itu?
  2. Kita harus mengembangkan kompetensi. Bagaimana caranya? ya, melalui belajar dan belajar. Wah, habis dong uang dipakai sekolah teruuss? Belajar itu tidak selalu di dalam kelas, tidak selalu di sekolah. Apa yang kita dapat di sekolah hanyalah sedikit saja, sekuku hitam. Lantas dimana kita harus belajar? Ya, dimana saja, di kehidupan ini. Anda akan mengalami banyak hal dalam perjalanan hidup anda. Itu akan menjadi pengalaman yang tak ternilai. Hidup inilah kampus yang sebenarnya. Universitas yang sebenarnya adalah kehidupan itu sendiri. Maka masuklah ke dalam University of life, anda akan menjadi lebih kaya, lebih matang dan lebih profesional.

2. CHARACTER

Dua komponen penting karakter adalah integritas dan kepribadian. Integritas adalah “satunya kata dan perbuatan”. Kalau berkata A, maka A pula yang dilakukan, bukan B atau C. Integritas menunjukkan derajad komitmen dan kesungguhan seseorang terhadap bidang yang ditekuninya. Integritas berarti memelihara komitmen, apapun yang akan terjadi dan berapapun biaya atau pengorbanannya. seseorang yang tak dapat memelihara komitmen, maka ia merusak reputasinya sendiri.

Karakter kepribadian yang harus dikembangkan adalah sopan santun, baik hati dan jujur. Jika hal yang tiga ini kita pegang teguh dan kita jalankan dengan baik, maka itu sama halnya dengan “kita sedang meningkatkan cadangan kepercayaan (trust) orang lain kepada kita”. Inilah membangun reputasi.


3. COMMUNICATION

Dalam upaya membangun reputasi, penting untuk dapat berkomunikasi. Apa kegunaan komunikasi? Betapapun bagusnya gagasan atau ide-ide yang kita miliki, jika itu tak dikomunikasikan, maka it will be useless/ tak berguna. Komunikasi tak hanya berarti berbicara secara lisan di hadapan khalayak. Tapi dapat juga memalui tulisan, seperti menulis buku dan menuangkan gagasan dalam tulisan kemudian disampaikan kepada khalayak melalui media blogging atau apapun, yang memungkinkan pesan itu sampai kepada yang dituju.

Jadi, tunggu apa lagi ??? Mari memulai membangun reputasi!!! Sekarang ???

Yaa...! SEKARANG !!!
Salam bahagia dan terus berkarya!

4 komentar:

  1. benar bu reputasi sangat berguna bagi diri kita untuk dapat mengembangkan apa yang kita punya tapi bila reputasi tidak di jaga nama baiknya maka hal itu sama saja tidak berguna bagi orang lain seperti halnya anggota DPR yang dipilih rakyat untuk pengabdiannhya untuk membela kepentingan rakyat malah digunakan secara negatif oleh anggota DPR yang mengakibatkan timbulnya korupsi dan sebagainya apakah pantas hal tersebut disebut dengan reputasi, dimana anggota DPR sendiri tidak bisa menjaga reputasinya untuk kepentingan rakyat malah menyusahkan rakyatnya.
    --------- dini -------

    BalasHapus
  2. Dear, Dini. Oh ya? By the way, thanks for your nice comment.

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. Permisi saya ambil bagian kompetensinya sebagai inspirasi mbak..(maksa deh minta ijinnya saya copas dikit)..hehe

    BalasHapus