Senin, 15 November 2010

Berfikir Ilmiah

Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu,------------
“Ketika kita sadar bahwa orang tua kita mungkin benar, biasanya kita memiiliki anak-anak yang menganggap kita keliru”. (anonim)

Dear pembelajar,
Saya berharap anda sehat hari ini, sehingga anda dapat berkesempatan belajar yang ini. Hari ini tentang “Berfikir Ilmiah”. “Sebagai mahasiswa, apalagi calon sarjana, kita harus berlatih berfikir ilmiah...”.
Demikian sebuah kalimat yang sama sekali tidak asing terdengar ditelinga kita.Saya yakin, ajakan tersebut sering kita dengar. Bahkan dalam pembicaraan sehari-hari tak jarang persoalan ilmiah dan tidak ilmiah ini menjadi bahan gurauan. Kita mengatakan kawan kita sebagai “tidak ilmiah”, atau sebaliknya, kita dinilai “tidak ilmiah dalam berfikir” oleh kawan, maupun para dosen kita. Lalu sebenarnya, apa sih yang dimaksud berfikir ilmiah itu?

Marzuki, dalam bukunya Metodologi Riset, memberikan gambaran bahwa berfikir ilmiah adalah bersikap skeptik, analitik dan kritik. Saya sendiri lebih senang mengistilahkan sebagai skeptis, analitis dan kritis.

Tiga sikap ini penting dalam kaitannya dengan pengembangan penelitian. Bukankah penelitian merupakan syarat wajib yang harus kita lakukan sebelum kita dinyatakan berhak mendapatkan gelar kesarjanaan? Oleh karenanya dari sekarang, kita mencoba untuk berlatih berfikir ilmiah. Dengan kata lain, kita berlatih berfikir skeptis, analitis dan kritis.

Berfikir skeptis, adalah selalu menanyakan bukti atau fakta terhadap setiap pernyataan (Begitukah keadaannya? Apa fakta-faktanya?)

Berfikir analitis, adalah dapat membedakan dan memilah-milah pada setiap masalah yang dianalisis, yakni memilah-milah mana yang utama dan pokok , mana yang relevan, dan mana yang tidak relevan.

Berfikir kritis, adalah mengembangkan kemampuan menimbang persoalan dengan obyektif, data dan analisanya logis. Menimbang dengan obyektif artinya dengan fair berdasar data dan fakta, tanpa melibatkan unsur subyektivitas. Subyektif artinya memandang sesuatu berdasarkan kepentingan/kaca mata dirinya sendiri. 

Nah, bagaimana? Bisakah kita belajar berfikir ilmiah, sejak sekarang?

salam bahagia dan terus berkarya!
CATATAN :
Kini BUKU Melawan Hantu Bernama Skrispsi, dapat DIPEROLEH LANGSUNG dengan HANYA Rp 50.000,- (lima puluh ribu rupiah).
Harga sudah termasuk:
  1. ONGKOS KIRIM dari Kantor Surabaya ke SELURUH WILAYAH Indonesia, 
  2. Konnsultasi Gratis Kegalauan Soal Skripsi yang meliputi judul/Topik, penentuan masalah penelitian, variabel penelitian, dan metoda/pendekatan yang digunakan dalam analisis (BUKAN jasa pengolahan data),
  3. Konsultasi dilakukan melalui Chatting  FB http://www.facebook.com/groups/skripsicepat/
Kontak via SMS: 0878 5320 1968

4 komentar:

  1. ok sya setuju tapi lebih baik lagi klo diterapkan dlm bentuk tulisan,thx4u-daengsgs

    BalasHapus
  2. aduh ada pak Warek ngintip, jadi ngga enak..

    ya, berfikir ilmiah memang wajib bagi mereka yang membuat tulisan ilmiah.
    sedang bagi yang menulis karya non ilmiah, nda apa-apa nda ilmiah he..he...

    itu cara comment sudah bisa kan? buktinya sudah comment di sini.

    di select profile, pilih name/url, kalau url belum ada ya ga usah ditulis gpp.

    anyway, thank you for visiting..

    BalasHapus
  3. dear
    Ibu Aridha..


    skeptis, analitis dan kritis

    berfikir ilmiah memang wajib bagi mereka yang membuat tulisan ilmiah.

    bolehkah bertanya bu..
    karya - karya ilmiah dapat bersumber dari Al-qur'an tidak bu?

    jika dapat bersumber dari Al-qur'an, masihkah wajib berfikir skeptis? hehehe

    BalasHapus
  4. dear Nukeu,
    saya belum pernah membaca karya kawan-kawan dari IAIN, tapi saya kira Al Qur'an jelas merupakan salah satu rujukan mereka dalam menulis.
    Bukankah karya ilmiah itu logic?
    logis itu ada hubungannya dengan akal. Menggunakan akal itu merupakan perintah Tuhan. Bukankah demikian?
    Soal skeptis dalam karya ilmiah Islami, saya kira ustadz Danu telah memberikan contoh. Ia melakukan riset tentang berbagai penyakit, yang intinya bahwa, penyebab penyakit apapun adalah ketidakmampuan pengendalian sifat-sifat buruk (emosi negatif, marah, jengkel, dll). ikuti TPI/MNC, minggu dan senin pagimi , nanti anda akan memahami jawabannya.

    good comment, thank you.

    BalasHapus