Senin, 25 Oktober 2010

Praktik Dukun dalam Bisnis

Bacalah dengan nama Tuhanmu,__________
"Begitu anda berhenti belajar, anda tidak lagi memimpin". (Rick Warren)
Kemarin saya mendapat pertanyaan "aneh", dan inilah pertanyaan itu, saya bagi kepada anda.
 
Dear pembelajar,________
Selamat pagi bu,____________

Saya ingin bertanya soal praktik perdukunan dalam pemasaran/bisnis:
  1. Apakah maraknya praktek perdukunan dalam pemasaran sekarang ini, ada literatur pendukungnya?
  2. Apakah secara pribadi, ibu percaya mengenai hal tersebut?
  3. Apakah seorang pengusaha perlu pergi ke orang pintar/dukun, agar pemasarannya berhasil?
  4. Adakah hubungan antara suggesti dengan tingkat penjualan yang dicapai? kalo “ya”, seberapa besar?
  5. Apa yang harus dilakukan ketika seluruh konsep ekonomi (marketing dsb) sudah dilakukan namun tidak berpengaruh maksimal terhadap usaha?
Demikian pertanyaan dari saya, Winaryo, atas perhatianya saya sampaikan terima kasih.

Jawab:

Dear Winaryo,
Sebetulnya saya terkejut dengan pertanyaan anda yang agak jauh dari bahasan ilmiah. Tetapi saya sangat berterima kasih kepada anda yang menyadarkan saya, bahwa apa yang anda ceritakan memang merupakan fakta praktik yang tak dapat disangkal.
Saya akan jawab satu per satu pertanyaan anda.
  1. Ilmu perdukunan, tidak termasuk dalam bahasan buku-buku teks tentang pemasaran. Mereka hanya bicara sebatas pada tataran/ranah ilmiah. Apa yang tidak ilmiah, tidak dibahas. Sehingga, sampai saat ini belum pernah saya temukan literatur tentang bagaimana praktik perdukunan dalam ilmu pemasaran. Di Universitas manapun, ilmu pemasaran tak memberi ruang untuk diskusi soal perdukunan. Kalaupun ada literatur tuntunan, pasti hanya bisa dibeli langsung dari sang dukun.
  2.  Secara pribadi, saya percaya bahwa praktik kejahatan itu ada dalam bentuk apapun, nyata atau pun tak nyata.
  3.  Seorang pengusaha, jika ia punya iman kepada kuasa Tuhan, ia tidak perlu datang ke dukun. Sebetulnya, ada sebuah buku bagus, tentang pemasaran spiritual/spiritual marketing, yang pernah saya baca. Penulisnya berkebangsaan India. Buku ini tidak menyentuh perdukunan sama sekali. Penulisnya mengajarkan bahwa, : ”apapun bisnis kita, ia tidak akan bertahan lama/langgeng, apabila niat kita hanyalah ingin mendapatkan keuntungan buat diri sendiri”.
Contoh:
Saya akan memulai berbisnis agar kelak, dari keuntungan bisnis saya, saya dapat memiliki rumah/ mobil mewah dan hidup kaya raya tak kekurangan apapun. (ini niat bisnis untuk memenuhi ego), bandingkan dengan:
Saya akan memulai usaha saya, saya ingin dapat bersama-sama bekerja dengan orang-orang yang membutuhkan pekerjaan, saya ingin menolong orang-orang yang membutuhkan kesejahteraan. Mudah-mudahan kelak kami semua akan memperoleh kesejahteraan yang kami cita-citakan, dan penduduk di sekitar (sini), semuanya dapat hidup bahagia. Semuanya, bukan hanya saya. (melibatkan orang lain dalam cita-cita baiknya).
Itu hanya sebuah pandangan/pendapat. Tetapi saya menyukainya dan mungkin anda dapat mencobanya. Soal spiritual marketing ini, saya sedang memulai menulisnya. Thanks for stimulating my ideas.

4.  Keyakinan yang baik akan merupakan motivator yang baik pula. Ia akan mendorong kita untuk bekerja lebih keras. Tetapi sugesti yang diberikan oleh dukun sesat, saya pastikan tidak akan membantu anda, dalam jangka panjang. Dalam jangka panjang, anda hanya akan menciptakan ketergantungan yang sama sekali tidak jelas.

5. Ada banyak jalan menuju Roma. Saya tidak yakin ada seseorang yang telah mencoba semua konsep marketing, tetapi ia tidak berhasil. Mungkin yang membuat tidak berhasil adalah, secara sengaja atau tidak sengaja, mereka telah melukai niat baik berbisnis dengan sesuatu yang tidak baik. (contoh yang paling kecil, memaksa ikan dengan makanan kimia agar tumbuh lebih cepat dan lebih besar, memaksa buah/sayur agar tumbuh lebih cepat berbuah dan lebih cepat dapat dipanen). 

Sekarang ini banyak bisnis yang kelihatannya berhasil. Ada bank, ada insurance, ada menjual gorengan, ada menjual makanan, ada penjual pentol, ada penjual bakso, ada penjual nasi bebek, ada budidaya ikan, ada banyak macam lainnya.

Perhatikan “nafsu” yang ada di balik binis tersebut. Ada riba yang mencekik dan tak ternilai besarnya, ada rekayasa bunga berbunga yang sama sekali tidak menolong mereka yang butuh pertolongan, ada minyak jelantah yang merupakan pemicu kanker pada produk gorengan, ada vetsin dan macam-macam pengawet dalam makanan yang disiapkan untuk pembeli, ada saus tomat berbahaya dalam saus pentol, ada ikan yang dipaksa cepat besar dengan pupuk kimia, ada padi yang dipaksa panen tiga kali setahun dengan pupuk kimia. 

Hal-hal buruk tersebut dilibatkan dalam (nyaris) setiap bisnis, bukan hanya bisnis si kaya, tetapi juga bisnis orang-orang kecil, macam bakso, pentol, mi ayam dll. Di kanan kiri kita, semua nampak sah-sah saja, karena hampir semua orang melakukannya secara membabi buta.

Kalau pada akhirnya apa yang dilakukan/dihidangkan hanya akan menyengsarakan orang/meracuni makhluk lain/orang lain yang tidak bersalah, apakah ini namanya??? 

Inilah yang terkait dengan bahasan spiritual marketing tersebut. Jika di awal sudah tidak benar, mungkin di awal dan di tengah (terlihat) sukses, dan dikagumi, tapi dapat dipastikan, tidak (berhasil) pada akhirnya.

salam,

aridhaprassetya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar